Entries from October 2007
Kompas, Rabu, 31 Oktober 2007
Makassar, Kompas – Di tengah kegundahan petani di Pulau Sulawesi akan serangan hama penggerek buah kakao, sebuah inspirasi muncul dari Universitas Hasanuddin. Hama yang “membusukkan” buah kakao tersebut ternyata bisa diatasi secara alami dan tidak menambah beban biaya bagi petani.
“Stop pestisida dan insektisida! Kerahkan saja semut merah untuk bersarang dan menghuni pohon kakao,” ujar La Daha di Makassar, Selasa (30/10), seusai dikukuhkan sebagai guru besar pada Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin (Unhas).
Dalam upacara yang dipimpin Rektor/Ketua Senat Universitas Hasanuddin Idrus A Paturusi, La Daha memaparkan bahwa pada perkebunan kakao di beberapa daerah Bone, Soppeng, dan Luwu terdapat sekurang-kurangnya tujuh spesies semut. Dari tujuh spesies itu terdapat empat spesies yang memangsa hama penggerek buah kakao, yaitu Oecophylla smaragdina (semut rangrang), Crematogaster sp (semut hitam), Anoplolepis longipes, dan Iridomyrmex sp.
(more…)
Categories: Kesehatan · Lingkungan
Bogor, October 29, 2007
Dear Sir/Madam,
We are from Indonesian Food Expo (IFOODEX) 2007 committee. Indonesian Food Expo (IFOODEX) 2007 is a series of events which consist of National Food, Nutrition and Health Seminar, Food Expo, and National Food Innovation Competition which will be held on November 21-25, 2007 at IPB International Convention Center, Botani Square, Bogor, Indonesia.
We would like to invite your company to participate as exhibitor in our event, Food Expo, which will be held in November 23-25, 2007.
If you have questions or want to know more about our event and are interested to participate, please contact our contact person: Rika Novayanti 085697047056 for more information or via email ifoodex2007@ yahoo.co.id.
Thank you for your kind attention. We hope to hearing from you soon.
Best regards,
Galih Ika Safitri
Publication
Indonesian Food Expo 2007 committee
Categories: Agenda · Ekonomi · Pangan
Tagged: Berita Bumi, Pangan
Dalam rangka penyusunan rencana strategi aksi Owa Jawa /(Hylobathes
moloch)/, Konservasi Alam Nusantara (KONUS) bekerjasama dengan
Departemen Kehutanan dan Yayasan Owa Jawa akan mengadakan survei
populasi penyebaran Owa Jawa mencakup daerah Priangan (Priangan Utara, Timur dan Selatan).
Dibutuhkan tenaga relawan untuk pengambilan dan pengolahan data serta
menjadi bagian dari tim. Para calon relawan diutamakan mereka yang punya pengalaman dalam aktifitas lapangan dan sedikitnya pernah melakukan survei pada bidang terkait. Calon relawan juga diharapkan punya ketertarikan pada dunia primata. Kegiatan survei akan dilakukan selama dua bulan (Nopember-Desember) dengan dua minggu merupakan kegiatan pengambilan data di lapangan. Nantinya tim akan dibagi dalam tiga kelompok menurut daerah jelajahnya masing-masing.
Pendaftaran dibuka dalam dua gelombang. Untuk gelombang pertama paling lambat tanggal 2 Nopember 2007. Relawan yang masuk seleksi pada
gelombang ini akan mengikuti pelatihan metode terkait survei secara
nasional di Litbang Kehutanan Bogor pada tanggal 3 Nopember. Untuk
gelombang kedua pendaftaran paling lambat tanggal 4 Nopember, di
gelombang ini pelatihan dilakukan secara internal tim. Semua tim akan
mulai berangkat ke lapangan pada tanggal 7 Nopember.
Untuk info lebih lanjut serta pendaftaran menjadi relawan silahkan
menghubungi konusinfo@yahoo.co.id <mailto:konusinfo@yahoo.co.id> atau
erybukhorie@gmail.com <mailto:erybukhorie@gmail.com> (081931304083).
Ditunggu.,
Terima kasih,
Salam lestari.
/”*Menuju keselarasan manusia dengan alam”
*/*Konservasi Alam Nusantara
*Jl. Cikutra Baru II No.9
Bandung 40124 Jawa Barat
t/f: +62 22 7200234
email: konusinfo@yahoo.co.id
www.konus.or.id
Categories: Lingkungan · NGO
The Jakarta Post, Features – October 30, 2007
Warief Djajanto Basorie, Contributor, Batam
Rusmin, 36, quickly counted off all the positives. “It grows well. The growth time is much faster. And it tastes sweet.”
Standing between his modest house made of thin triplex board normally used for home ceilings, and his 1,000 square meter spread behind him, the dark-skinned wiry farmer explained how his crops fared after using compost.
Rusmin and four other farmers on Batam island are part of a trial project in the use of the compost, organic fertilizer made from land waste.
Batam is known as a growing free trade zone with 25 industrial parks on the island, the largest being Batamindo Park at more than 400 hectares. It wants to become a manufacturing and service hub to eventually rival its more sophisticated northern neighbor.
(more…)
Categories: Ekonomi · Lingkungan · Pangan
Tagged: Pangan Organik
ALERT ! ! ! !
Kompas, Selasa, 30 Oktober 2007
Jakarta, Kompas – PT DuPont Indonesia menginvestasikan 3 juta dollar AS untuk pembangunan pabrik pemrosesan benih padi hibrida berkapasitas 8.000 ton per tahun. Pabrik yang berlokasi di Malang, Jawa Timur, itu ditargetkan mulai beroperasi pada semester II-2008.
Direktur Bisnis PT DuPont Indonesia Mardahana, Senin (29/10), mengemukakan, perusahaan melihat bisnis benih padi hibrida memiliki potensi sangat besar untuk berkembang.
“Dengan keterbatasan lahan pertanian, pilihannya adalah meningkatkan produksi dengan melakukan intensifikasi, ” ujarnya. Mardahana mengakui, masih ada keraguan terhadap benih hibrida yang menyangkut pemakaian pupuk dan air yang lebih banyak. DuPont mulai memasarkan produk padi hibrida di bawah bendera Pioneer PP1 dan PP2 sejak April 2007.
(more…)
Categories: Ekonomi · Globalisasi · Lingkungan · Pangan
Tagged: DuPont, Hibrida, Jagung, Kompas, Padi
Berita Bumi Amrullah Amsar – 26 Oct 2007
Sekitar 200-an masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Massompungloloe, Desa Sidenreng, Kecamatan Watangsidenreng, Kabupaten Sidrap, Sulsel, menguasai tanah Ex HGU PT. Sanusi dan PT. Sapco yang ditinggal terlantar sejak tahun 1990. Kedua perusahaan tersebut meninggalkan lokasi yang akhirnya menjadi lahan tidur lantaran kontrak karyanya telah berakhir dan juga menderita kalah di Pengadilan Negeri Sidrap oleh Kelompok Tani Massompungloloe yang dimotori oleh Muhammadong dan teman-teman.
Namun tindakan menguasai tanah Ex HGU tersebut oleh pemerintah setempat dinilai sebagai tindakan melawan hukum. Akibatnya pada bulan Maret 2007, bupati melaporkan Muhammadong dan teman-teman ke Polres Sidrap dengan tuduhan penyerobotan lahan. Muhammdong pun saat itu dipanggil untuk dimintai keterangan di depan penyidik Polres Sidrap yang kala itu Kasat Reskrim AKP Ade Noho yang bertindak sebagai penyidik. Sesaat setelah pemeriksaan berjalan, akhirnya pihak kepolisian Resort Sidrap memutuskan untuk memasang police line di Sekretariat Kelompok Tani Massompungloloe tersebut.
Para petani tidak menerima baik tindakan polisi tersebut. Untuk itu petani melakukan perlawanan. Tak pelak kontak fisik hari itu tidak dapat dihindari. Untungnya jumlah aparat lebih kecil dari jumlah petani, sehingga aparat sempat mengalah dan kembali ke markasnya di Pangkajene Sidrap.
(more…)
Categories: Advokasi
Tagged: Lahan Pertanian, Reforma Agraria, Berita Bumi
Call for articles
Fair and green trade
Issue 24.1, March 2008.
Since the early 1990’s “fairly traded” products have become well known and widely available. Realising that consumers’ buying power can make a difference, various groups have taken initiatives to set up fair trade schemes whereby produce, initially coffee, was bought directly from farmers. By giving them a better price and a guaranteed market, farmers would benefit, and consumers could buy products which were bought on the basis of a fair trade.
Today, there is a robust and growing international market for ‘fair and green’ products, ranging from coffee, tea, chocolate, fruits and spices to textiles and various other bulk commodities. As markets for fair and green trade products are expanding, we would like to look at some of the issues faced by LEISA farmers. While for consumers, these products are becoming more mainstream, what challenges and opportunities does this pose for small-scale producers? What strategies can be used to access international markets? What have been strengths and weaknesses of farmers’ organisations in meeting the growing demands, both in terms of quality and quantity of produce? How are the opportunities managed in terms of production, as well as accessing market information and market chains?
Quality control is a big issue with organic, or green and fair trade products. Certification is often necessary but can be prohibitively expensive for small-scale producers. Have any effective solutions have been found, such as community guarantee schemes or other ‘alternative’ certification mechanisms? And what about short supply chains, where (groups of) consumers buy directly from (groups of) producers? We would like to hear examples of the benefits of fair trade as well as the disadvantages, or difficulties encountered. As green and fair trade initiatives take off around the world, it is time to look at local as well as global opportunities, and explore some current debates around this theme.
Send us your experiences!
Write to Karen Hampson, editor, at k.hampson@ileia.nl
Deadline for submission of draft articles: 1st December 2007.
Lebih lengkap klik di sini.
Categories: Advokasi · Ekonomi · Globalisasi
Tagged: Fair Trade, Pertanian Organik, Product
Kompas Sabtu, 27 Oktober 2007
Sidik Pramono
Tanah adalah hak milik sampai mati. Namun, kondisi pertanahan di Indonesia karut-marut, masalah bertambah dari waktu ke waktu. Rakyat kecil semakin kehilangan akses pada penguasaan tanah. Di sisi lain, penguasaan aset oleh bangsa lain membuat kita menjadi kuli di negeri sendiri. Kabar gembira muncul ketika pemerintah menjanjikan akan melaksanakan program Reforma Agraria Nasional mulai tahun ini.
Lahan seluas 8,15 juta hektar akan dibagikan pemerintah mulai 2007 hingga 2014. Diperkirakan, 6 juta hektar untuk masyarakat miskin dan 2,15 juta hektar untuk pengusaha guna usaha produktif yang melibatkan petani perkebunan.
Upaya yang layak diapresiasi sekalipun bagi Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Usep Setiawan semuanya harus ditunggu realisasinya di lapangan. Berikut kutipan wawancara Kompas dengan Usep yang dilakukan dalam berbagai kesempatan.
(more…)
Categories: Advokasi · Globalisasi · NGO · Politik
Tagged: Lahan Pertanian, Reforma Agraria, Kompas
Sabtu, 27 Oktober 2007
SIDOARJO, KOMPAS – Karena masih rusaknya saluran irigasi oleh lumpur Lapindo, sekitar 2.000 hektar lahan di Kecamatan Porong, Tanggulangin, dan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terancam tidak bisa ditanami padi. Hingga kini, belum ada saluran irigasi pengganti untuk mengairi lahan itu.
Luas lahan hingga mencapai 2.000 hektar yang tidak bisa ditanami itu dikemukakan Kepala Seksi Produksi Padi, Palawija, dan Hortikultura Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Sidoarjo Heksa Widagdo.
Lahan yang terancam tidak bisa ditanami padi itu, di antaranya, berlokasi di Padukuhan Gempolgunting, Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Berdasarkan pengamatan, saluran irigasi yang mengalirkan air ke lahan seluas 13,8 hektar itu rusak oleh lumpur.
(more…)
Categories: Lingkungan · Sosial
Tagged: Lahan Pertanian
Sabtu, 27 Oktober 2007
Jakarta, Kompas – Untuk membangun kembali infrastruktur pertanian yang rusak diperlukan investasi antara Rp 60 triliun dan Rp 70 triliun.
Pembangunan dan perbaikan meliputi jaringan irigasi, jalan pertanian, serta pengembangan jaringan listrik. Selain itu juga pengembangan riset di bidang teknologi pertanian dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.
Hal itu diungkapkan Deputi II Bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan Menko Perekonomian Bayu Krisnamurthi, Jumat (26/10) di Jakarta.
(more…)
Categories: Ekonomi · Pangan · Politik
Tagged: Ketahanan Pangan, Konsumsi