Entries from April 2008
Sumber The Jakarta Post, Mon, 04/28/2008
Siti Supiati, a farmer in Cisait Muncang village, Banten, did not believe the government has raised the price of unhusked rice to Rp 2,200 (45 U.S. cents) from Rp 2,000 and that of rice to Rp 4,300 from Rp 4,000, because she sold her harvest last month far under these prices.
“During the last harvest season in March, unhusked rice was priced by traders at only Rp 1,700 per kilogram and rice cost only Rp 3,900 per kilo,” said Siti, who harvested almost four tons of unhusked rice from her 0.8 hectares of farmland.
Siti pocketed Rp 6.8 million from the harvest, Rp 4 million of which will be spent to pay laborers who helped work her land and to buy fertilizers.
(more…)
Categories: Ekonomi
Tagged: Ekonomi, The Jakarta Post
Sumber The Jakarta Post
Wahyoe Boediwardhana, Pasuruan, East Java | Mon, 04/28/2008
President Susilo Bambang Yudhoyono told the Nahdatul Ulama youth wing Ansor on Sunday that Indonesia could benefit from the rise in global food prices.
“In my spiritual contemplation a few days back with friends in Yogyakarta, I arrived at a conclusion that the surge in staple food prices is actually a blessing instead of a disaster,” the President said during a ceremony to mark the 74th anniversary of Ansor in Pasuruan, East Java.
Nahdatul Ulama is the largest Muslim group in the country with ties to the National Awakening Party (PKB) and former president Abdurrahman “Gus Dur” Wahid.
(more…)
Categories: Ekonomi · Produksi
Tagged: Beras, Produksi, The Jakarta Post
Sumber Kompas Jumat, 25 April 2008 | 01:32 WIB
Dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia terkesan relatif lebih adem-ayem merespons krisis pangan global dan kondisi darurat pangan yang membuat panik seluruh dunia saat ini. Padahal, hingga beberapa hari lalu, Organisasi Pangan dan Pertanian masih memasukkan negara ini ke dalam daftar 37 negara yang mengalami krisis pangan kendati sifatnya sangat lokal.
Krisis pangan yang mengancam Indonesia itu dikaitkan dengan fenomena banjir yang melanda sebagian wilayah Indonesia saat itu, termasuk di sentra-sentra produksi pangan. Bagaimana sebenarnya posisi Indonesia di tengah krisis pangan global dan prospek ke depan?
Dalam daftar terakhir Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Indonesia memang tak lagi masuk daftar negara yang mengalami krisis pangan (list of countries in crisis). Ini mungkin terkait dengan laporan pemerintah yang menyatakan Indonesia akan mengalami surplus beras tahun ini. Apalagi sempat muncul wacana bahwa Indonesia ekspor beras.
(more…)
Categories: Ekonomi · Globalisasi
Tagged: Ekonomi, Pangan
Sumber Kompas | Jumat, 25 April 2008 | 00:24 WIB
Oleh RENY SRI AYU TASLIM
Menjadi dokter yang punya klinik sekaligus petani yang berhasil mengembangkan durian montong tentulah dua profesi yang berbeda. Namun, I Wayan Aryana bisa memadukan dua hal ini. Ini pula agaknya yang membuat dia disapa ”dokter durian”.
Sekadar fakta yang menunjukkan kesuksesan dari dua profesi ini. Di Desa Tolai, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, ia punya klinik kecil dengan 16 kamar rawat inap, 3 dokter ahli, dan 15 paramedis. Sebagai dokter umum, Wayan mengabdikan hidupnya mengurusi pasien setiap hari, selama lima hari sepekan. Ia berobsesi mengembangkan klinik ini menjadi rumah sakit berfasilitas lengkap dan punya dokter ahli.
Sebagai petani, secara bertahap Wayan ”menyulap” sekitar 25 hektar lahan tidur menjadi areal kebun durian montong. Di areal kebun yang berjarak sekitar 10 kilometer dari jalan trans-Sulawesi itu, ia punya sekitar 5.000 pohon durian yang sudah berproduksi.
(more…)
Categories: Lingkungan
Tagged: Budi Daya, Profil
Sumber Kompas | Jumat, 25 April 2008 |
Oleh Hamzirwan
Lonjakan harga komoditas yang sulit dibendung semakin mendera penduduk miskin di berbagai negara. Program Pangan Dunia PBB atau WFP menyebut krisis pangan ini sebagai serangan tsunami senyap. Mampukah Indonesia bertahan dalam krisis terparah pasca-Perang Dunia II ini?
Dari 188 juta hektar lahan yang tersedia, ada sedikitnya 100 juta ha yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan nonkehutanan. Sebagai negara tropis, hampir semua komoditas, yang kini harganya meroket di pasar internasional, bisa ditanam di Indonesia.
Jagung, kedelai, beras, kelapa sawit, sampai karet sudah ditanam turun-temurun sejak lama. Selama dua tahun terakhir, tingkat kenaikan harga komoditas itu mencengangkan.
(more…)
Categories: Ekonomi
Tagged: Ekonomi, Pangan
Sumber Kompas | Jumat, 25 April 2008 | 01:40 WIB
Bangkok, Kamis – Harga beras Thailand yang menjadi patokan harga beras dunia naik hingga 1.000 dollar AS per ton, Kamis (24/4). Kenaikan ini meningkatkan kekhawatiran di banyak negara.
Beberapa analis mengatakan, kenaikan harga beras lebih didorong kepanikan masyarakat, yang juga menghinggapi pemerintahan banyak negara. Kepanikan turut mendorong pembelian disertai penimbunan untuk keuntungan pada saat suasana sedang keruh.
Beberapa pebisnis beras mengatakan, harga beras Thailand dapat melonjak hingga 1.300 dollar AS per ton karena lebih banyak permintaan dari importir, terutama Filipina.
(more…)
Categories: Ekonomi
Tagged: Beras
Sumber Kompas | Minggu, 20 April 2008
Maria Hartiningsih / Ahmad Arif/ Sri Hartati Samhadi
Perjalanan sebagai ilmuwan mengajari Dr Ir Dja’far Shiddieq, MSc (60) untuk selalu berhati-hati melangkah. Dua pertanyaan yang berdiam di ruang batinnya adalah, ”Kalau ilmuwan sudah menggadaikan ilmunya, apa lagi yang tersisa? Apa yang bisa dibanggakan kalau saya mengkhianati nurani saya?”
Perbincangan dengan ahli Ilmu Tanah dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada itu menjadi seperti oase yang menyegarkan. Udara petang terasa sejuk di rumahnya yang asri di sebuah perkampungan di bagian Utara kota Yogyakarta.
Semua pernyataan itu terkait dengan pembelaannya pada petani lahan pasir di pesisir Pantai Selatan Yogyakarta. Saat ini ribuan petani di wilayah itu berhadapan dengan kekuasaan yang menghendaki konversi lahan pertanian yang telah digarap selama belasan tahun, menjadi kawasan penambangan biji besi berskala besar.
(more…)
Categories: Lingkungan · Sosial
Tagged: Profil, Tanah
Sumber Kompas | Jumat, 11 April 2008 | 00:38 WIB
Ladang itu awalnya padang pasir kering kerontang. Warnanya hitam mengilat, melepuhkan kaki di siang hari yang terik. Jaraknya sekitar 50 meter dari laut, di selatan Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo, Yogyakarta. Suasananya sunyi yang mati. Kehidupan seperti raib.
Di gundukan pasir—istilah setempat gumuk pasir—itulah Sukarman muda yang resah membuang gundah. Sudah tiga tahun sejak menyelesaikan studinya pada Program D-3 Akademi Perindustrian Yogyakarta, dia belum juga mendapat pekerjaan. Sudah dicobanya merantau ke Jakarta, Bandung, hingga Palembang, tetapi hasilnya nol besar.
Suatu pagi pada pertengahan 1985, gerimis menemaninya duduk di atas gumuk pasir. Dalam suasana hati yang lelah dan hampir patah, pandangannya seperti disedot tiga batang tanaman cabai merah yang tumbuh di atas seonggok kotoran sapi kering di pasir. Tak luar biasa, sebenarnya. Tetapi, entah mengapa, pemandangan itu mulai mengusik benaknya.
”Mungkin ada orang yang tidak sengaja membuang cabai di situ,” pikir Sukarman.
(more…)
Categories: Lingkungan
Tagged: Lahan Pertanian, Sosok
Sumber Kompas
Rabu, 9 April 2008 | 01:17 WIB
Anton Apriyantono
Sebagai negara agraris, luas daratan kita hanya sepertiga luas wilayah Indonesia, sedangkan sisanya merupakan lautan. Luas daratan itu masih harus direduksi hutan lindung, hutan produksi, permukiman, industri, dan kebutuhan infrastruktur yang jumlahnya terus meningkat.
Belum lagi dikurangi alih fungsi lahan sawah beririgasi teknis dengan laju yang bisa mencapai 80.000 hektar per tahun. Sementara itu, kemampuan cetak sawah nasional maksimal masih di bawah laju alih fungsinya. Jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 220 juta jiwa, laju pertumbuhan 1,3 persen per tahun dan terkonsentrasi di Jawa mendorong laju alih fungsi lahan semakin tinggi dan Jawa menjadi tereksploitasi berlebihan yang tercermin dari luas pemilikan lahan rata-rata yang terus menciut.
Di Jawa luas kepemilikan hanya 0,3 hektar per KK dan sementara di luar Jawa hanya 1 hektar. Padahal, kita tahu, menurut hasil analisis ekonomi sederhana, luas kepemilikan lahan yang ekonomis minimal 2 hektar di Jawa dan lebih dari 10 hektar untuk luar Jawa.
(more…)
Categories: Produksi · Uncategorized
Tagged: Produksi
Sumber Kompas
Sabtu, 5 April 2008 | 01:52 WIB
Cirebon, Kompas – Petani di Kabupaten Cirebon dan Indramayu, Jabar, mengaku siap-siap berutang untuk musim tanam bulan April dan Mei ini karena keterbatasan modal yang dimiliki. Penjualan hasil panen lalu tidak menutupi kebutuhan modal tanam sebab padi terkena serangan hama.
Wawan (26), petani di Desa Jatianom, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, mengatakan, hasil panen di lahan milik keluarganya turun 40 persen, dari 4 ton per hektar menjadi 2,5 ton per hektar, akibat hama kresek. ”Paling tidak, harus berutang Rp 6 juta-Rp 8 juta,” kata Wawan, Jumat (4/4).
(more…)
Categories: Ekonomi
Tagged: Sosial