Media Tani

Anjloknya Ketahanan Pangan

September 5, 2008 · Leave a Comment

Sumber Kompas | Jumat, 5 September 2008 | 00:31 WIB

Oleh IVAN A HADAR

Indonesia masuk perangkap pangan negara maju dan kapitalisme global. Tujuh komoditas utama nonberas yang dikonsumsi masyarakat bergantung pada impor.

Padahal, sejak dua tahun terakhir, terjadi lonjakan harga pangan dan komoditas pertanian lainnya. Akibatnya, terjadi penurunan ketahanan pangan dengan indikasi mengenaskan, seperti meningkatnya kasus gizi buruk serta kematian anak balita dan ibu melahirkan.

Sebenarnya, spirit penguatan ketahanan pangan bisa ditemui dalam judul utama disertasi doktoral SBY, ”Pembangunan Pertanian dan Pedesaan sebagai Upaya Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran”. Sayang, kebijakan pemerintah selama ini dinilai mengorbankan pertanian di pedesaan sebagai sektor penyerap tenaga kerja terbanyak. Indikasinya, penyunatan subsidi dan impor produk pertanian yang menyengsarakan petani dan memperburuk pembangunan pertanian itu sendiri.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: Globalisasi · Pangan · Politik
Tagged: , , ,

“Missing Link” Pembangunan Pertanian

September 5, 2008 · Leave a Comment

Sumber Kompas | Jumat, 5 September 2008 | 00:36 WIB

Oleh Emmanuel Subangun

Berita tentang ”perangkap pangan” menjadi penggenap kisah malapetaka harus dicermati dari hari ke hari

Tampilan malapetaka yang disebut ketergantungan—sebagai bangsa berdaulat—pada beberapa perusahaan dunia dalam hal pangan sungguh mengerikan. Dan karena kita berhadapan dengan keadaan yang berkembang amat berbahaya, akal sehat harus dinomorsatukan!

Evolusi terbalik
Ingatkah kita akan sejumlah kebijakan pertanian di masa lalu? Saat itu lembaga internasional dan pemerintah menyepakati hal-hal berikut.

Pertama, temuan teknologi (dalam bibit, pupuk, dan budidaya tanam) memungkinkan produktivitas dinaikkan sehingga kelaparan dapat dihindarkan. Naskah jenis ini dengan baik disampaikan sebuah kelompok yang dinamai ”Club of Rome”.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: Pangan · Politik
Tagged: ,

Keluar dari Perangkap Pangan?

September 4, 2008 · Leave a Comment

Sumber Kompas | Kamis, 4 September 2008 | 00:44 WIB

Oleh Gatot Irianto

Peningkatan kebutuhan pangan terjadi akibat pertambahan penduduk yang relatif tinggi (1,38 persen/tahun) dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Semua pihak perlu mewaspadai fenomena itu.

Paling tidak ada tiga komoditas pangan nonberas yang perlu dicermati terkait peningkatan permintaan sehingga bisa mendorong ketergantungan berlebihan atas bahan pangan impor. Gandum, tetua ayam ras (grand parent stock) baik pedaging maupun petelur serta ternak sapi, merupakan tiga komoditas utama yang kini menjadi perhatian publik dan pemerintah karena ledakan permintaannya.

Peningkatan permintaan gandum dan daging ayam broiler yang besar akibat promosi dan layanan antar yang amat militan dan didukung industri hulu dan hilir perusahaan multinasional yang tangguh. Kondisi ini diperburuk terbatasnya edukasi media tentang hidup sehat atas pangan berbasis terigu dan daging ayam ras pada kelompok usia produktif dan anak anak.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: Pangan
Tagged: , , ,

Industri dan Jasa Gagal Menopang Pertanian

September 4, 2008 · Leave a Comment

Sumber Kompas | Kamis, 4 September 2008 | 00:20 WIB

Jakarta, Kompas – Mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih menyatakan, bangsa Indonesia harus merumuskan kembali strategi pembangunan ekonomi nasional. Pembangunan ekonomi ke depan harus berbasis pertanian dan pangan.

”Masih banyak peluang yang bisa dilakukan kalau kita mau maju. Selama ini konsep pembangunan ekonomi, khususnya sektor jasa dan industri, salah arah dan gagal menopang sektor pertanian untuk meningkatkan nilai tambah,” kata Bungaran, Rabu (3/9) di Bogor, Jawa Barat.

Selama ini semua solusi mengenai lapangan kerja dibebankan kepada pertanian. Peningkatan kesejahteraan masyarakat desa juga menjadi tanggung jawab sektor pertanian. Akibatnya, ruang gerak pertanian menjadi amat terbatas sebagai dampak dari beban yang begitu berat. Padahal, sektor pertanian baru akan tumbuh dengan baik dan cepat kalau ada dukungan yang memadai dari sektor industri dan jasa.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: Ekonomi · Politik
Tagged: , , ,

Benih Hibrida, Menangguk Untung dari Petani Miskin

September 2, 2008 · Leave a Comment

Sumber Kompas | Selasa, 2 September 2008 | 03:00 WIB

Hermas E Prabowo

Soma (48), tidak meminta belas kasihan. Ia hanya menyuarakan,” Harga sarana produksi pasti tinggi. Sayangnya, harga produk pertanian tidak pernah pasti.”

Itulah kondisi yang selalu dialami Soma, dan petani lainnya. Bahkan situasi itu pula yang dihadapi orangtuanya, bahkan kakeknya, yang menjadi petani.

Persoalan petani selalu berulang. Namun, tidak satu pun ”uluran tangan” pemangku kepentingan yang menyelesaikan persoalan itu. Apalagi di era globalisasi, ketika komoditas pangan dan hortikultura dari negara lain menyerbu pasar lokal. Petani dibiarkan ”bertarung” sendiri melawan kapitalisme global.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: Ekonomi · Lingkungan
Tagged: , ,

Wapres Akui Riset Pertanian Masih Lemah

September 2, 2008 · Leave a Comment

Sumber Kompas | Selasa, 2 September 2008 | 00:39 WIB

Tumbuhkan Daya Saing Pertanian

Jakarta, Kompas – Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan, Indonesia harus lepas dari ”perangkap pangan” negara maju dan kapitalisme global. Untuk itu, riset penelitian dan pengembangan tujuh komoditas pangan utama nonberas yang dikonsumsi masyarakat harus terus-menerus ditingkatkan.

Menurut Kalla, Senin (1/9) di Jakarta, selama ini, riset dan penelitian komoditas pertanian masih lemah dan harus diperkuat.

Oleh sebab itu, pemerintah tahun depan mengalokasikan peningkatan anggaran riset dan penelitian, termasuk untuk komoditas pertanian melalui pemenuhan anggaran 20 persen pendidikan di APBN. Tujuannya agar Indonesia dengan kemampuan sumber daya manusia dan sumber daya alamnya dapat menjadi pemain besar di bidang pertanian.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: Politik · Produksi
Tagged: , , ,

Petani Membuang Gula ke Jalan sebagai Protes

September 1, 2008 · 2 Comments

Sumber Kompas | Senin, 1 September 2008 | 00:39 WIB

Pemerintah Diminta Menindak Penyeleweng Gula

MADIUN, KOMPAS – Sekitar 50 petani tebu di wilayah PTPN XI membuang gula ke jalan di samping Pabrik Gula Pagotan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Sabtu (30/8). Aksi ini sebagai salah satu bentuk protes atas maraknya gula impor dan rafinasi di pasaran yang mengakibatkan gula produksi petani tidak laku.

Sebelum membuang gula ke jalan dan menginjak-injaknya, petani menunjukkan gula hasil panen yang menumpuk di empat gudang di PG Pagotan.

Gula ini tidak bisa terjual karena di pasaran banyak gula impor dan gula rafinasi yang seharusnya hanya dipakai untuk industri makanan dan minuman.

Menurut Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PG Pagotan Sudira, ada 180.000 ton gula di empat gudang itu. Gula yang menumpuk tidak hanya gula hasil giling tahun ini, tetapi ada pula gula hasil giling tahun lalu.

Keep reading →

→ 2 CommentsCategories: Ekonomi
Tagged: , ,

Indonesia Masuk “Perangkap Pangan”

September 1, 2008 · Leave a Comment

Sumber Kompas | Senin, 1 September 2008 | 03:00 WIB

Petani Hanya Jadi Buruh Tanam

Jakarta, Kompas – Indonesia sebagai bangsa agraris ternyata sudah masuk dalam ”perangkap pangan” atau food trap negara maju dan kapitalisme global. Tujuh komoditas pangan utama nonberas yang dikonsumsi masyarakat sangat bergantung pada impor.

Bahkan, empat dari tujuh komoditas pangan utama nonberas, yakni, gandum, kedelai, daging ayam ras, dan telur ayam ras, sudah masuk kategori kritis. Meskipun belum kritis, jagung, daging sapi, dan susu patut diwaspadai.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, yang juga guru besar sosial ekonomi pertanian Universitas Jember, Rudi Wibowo, krisis ini terjadi karena Indonesia tidak mampu mengatasi persoalan itu sejak dulu. ”Dari waktu ke waktu tidak ada perkembangan berarti untuk mengurangi ketergantungan pangan impor itu, justru sebaliknya malah makin parah,” kata Rudi, Sabtu (30/8) di Surabaya.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: Ekonomi · Globalisasi · Pangan
Tagged: , , ,

Pekarangan, Pertahanan Pangan yang Hilang

September 1, 2008 · Leave a Comment

Sumber Kompas | Senin, 1 September 2008 | 03:00 WIB

ANDREAS MARYOTO

Lahan yang makin menyempit tak hanya terjadi di sawah, kebun, atau ladang, tetapi juga di pekarangan, lahan yang langsung berdampingan dengan rumah. Fragmentasi lahan menjadikan pekarangan yang merupakan pertahanan pangan terakhir itu nyaris hilang. Kasus kurang gizi sangat boleh jadi akibat dari keadaan ini.

Sekarang kita sulit untuk mendapatkan pekarangan di rumah-rumah di Pulau Jawa. Sampai tahun 1980-an para guru masih mengajarkan bercocok tanam di pekarangan kepada murid-muridnya. Sekarang mungkin hal itu masih diajarkan, tetapi tidak mudah diterapkan. Di depan rumah bukan lagi lahan pekarangan, tetapi sudah menjadi jalan raya. Di belakang rumah lahan makin sedikit dan cenderung berimpitan dengan rumah tetangga.

Meski demikian, jejak pekarangan masih ada. Pekarangan dengan berbagai aneka tanaman dan juga hewan piaraan masih ditemukan di keluarga-keluarga yang umumnya anak-anaknya bekerja di luar kota dan tidak menggantungkan pada lahan milik orangtuanya sehingga lahan itu masih terjaga.

Keep reading →

→ Leave a CommentCategories: Pangan
Tagged: , , ,

Jufri, Karya Pertanian di Frekuensi Radio

June 11, 2008 · 5 Comments

Sumber Kompas | Rabu, 11 Juni 2008 | 03:00 WIB

Agnes Rita Sulistyawaty

Tak ada latar belakang pertanian dalam hidup Jufri Nazaruddin (46). Dorongan untuk perubahanlah yang membuat Jufri bersemangat menjalankan radio komunitas berbasis informasi pertanian sekitar tiga tahun terakhir.

Ketika merintis radio Agro FM 107,7 MHz di Kecamatan IV Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Jufri sedang mengelola radio pendidikan, Tiramita FM. Namun, keprihatinan melihat kondisi petani di sekitar tempat tinggalnya membuat pria tamatan IAIN Imam Bonjol, Bukittinggi, ini, bersama Forum Komunitas Peduli Petani, menerima tawaran mendirikan Agro FM. Setahun kemudian, ia rela Tiramita FM tutup demi berkonsentrasi pada Agro FM.

Jufri berusaha merealisasikan radio yang akan memberikan informasi tentang pertanian kepada pendengarnya. Dengan dana utama dari kantong sendiri, ditambah sedikit tambahan dari kawan-kawan, ia membeli pemancar bekas Rp 2,5 juta dan sebuah tower sementara.

Keep reading →

→ 5 CommentsCategories: Sosial
Tagged: