Entries tagged as ‘Globalisasi’
Sumber Kompas | Jumat, 5 September 2008 | 00:31 WIB
Oleh IVAN A HADAR
Indonesia masuk perangkap pangan negara maju dan kapitalisme global. Tujuh komoditas utama nonberas yang dikonsumsi masyarakat bergantung pada impor.
Padahal, sejak dua tahun terakhir, terjadi lonjakan harga pangan dan komoditas pertanian lainnya. Akibatnya, terjadi penurunan ketahanan pangan dengan indikasi mengenaskan, seperti meningkatnya kasus gizi buruk serta kematian anak balita dan ibu melahirkan.
Sebenarnya, spirit penguatan ketahanan pangan bisa ditemui dalam judul utama disertasi doktoral SBY, ”Pembangunan Pertanian dan Pedesaan sebagai Upaya Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran”. Sayang, kebijakan pemerintah selama ini dinilai mengorbankan pertanian di pedesaan sebagai sektor penyerap tenaga kerja terbanyak. Indikasinya, penyunatan subsidi dan impor produk pertanian yang menyengsarakan petani dan memperburuk pembangunan pertanian itu sendiri.
(more…)
Categories: Globalisasi · Pangan · Politik
Tagged: Globalisasi, Kompas, Opini, Pangan
Sumber Kompas | Kamis, 4 September 2008 | 00:44 WIB
Oleh Gatot Irianto
Peningkatan kebutuhan pangan terjadi akibat pertambahan penduduk yang relatif tinggi (1,38 persen/tahun) dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Semua pihak perlu mewaspadai fenomena itu.
Paling tidak ada tiga komoditas pangan nonberas yang perlu dicermati terkait peningkatan permintaan sehingga bisa mendorong ketergantungan berlebihan atas bahan pangan impor. Gandum, tetua ayam ras (grand parent stock) baik pedaging maupun petelur serta ternak sapi, merupakan tiga komoditas utama yang kini menjadi perhatian publik dan pemerintah karena ledakan permintaannya.
Peningkatan permintaan gandum dan daging ayam broiler yang besar akibat promosi dan layanan antar yang amat militan dan didukung industri hulu dan hilir perusahaan multinasional yang tangguh. Kondisi ini diperburuk terbatasnya edukasi media tentang hidup sehat atas pangan berbasis terigu dan daging ayam ras pada kelompok usia produktif dan anak anak.
(more…)
Categories: Pangan
Tagged: Globalisasi, Kompas, Opini, Pangan
Sumber Kompas | Selasa, 2 September 2008 | 03:00 WIB
Hermas E Prabowo
Soma (48), tidak meminta belas kasihan. Ia hanya menyuarakan,” Harga sarana produksi pasti tinggi. Sayangnya, harga produk pertanian tidak pernah pasti.”
Itulah kondisi yang selalu dialami Soma, dan petani lainnya. Bahkan situasi itu pula yang dihadapi orangtuanya, bahkan kakeknya, yang menjadi petani.
Persoalan petani selalu berulang. Namun, tidak satu pun ”uluran tangan” pemangku kepentingan yang menyelesaikan persoalan itu. Apalagi di era globalisasi, ketika komoditas pangan dan hortikultura dari negara lain menyerbu pasar lokal. Petani dibiarkan ”bertarung” sendiri melawan kapitalisme global.
(more…)
Categories: Ekonomi · Lingkungan
Tagged: Ekonomi, Globalisasi, Sosial
Sumber Kompas | Senin, 1 September 2008 | 03:00 WIB
Petani Hanya Jadi Buruh Tanam
Jakarta, Kompas – Indonesia sebagai bangsa agraris ternyata sudah masuk dalam ”perangkap pangan” atau food trap negara maju dan kapitalisme global. Tujuh komoditas pangan utama nonberas yang dikonsumsi masyarakat sangat bergantung pada impor.
Bahkan, empat dari tujuh komoditas pangan utama nonberas, yakni, gandum, kedelai, daging ayam ras, dan telur ayam ras, sudah masuk kategori kritis. Meskipun belum kritis, jagung, daging sapi, dan susu patut diwaspadai.
Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, yang juga guru besar sosial ekonomi pertanian Universitas Jember, Rudi Wibowo, krisis ini terjadi karena Indonesia tidak mampu mengatasi persoalan itu sejak dulu. ”Dari waktu ke waktu tidak ada perkembangan berarti untuk mengurangi ketergantungan pangan impor itu, justru sebaliknya malah makin parah,” kata Rudi, Sabtu (30/8) di Surabaya.
(more…)
Categories: Ekonomi · Globalisasi · Pangan
Tagged: Ekonomi, Globalisasi, Kompas, Pangan
February 8, 2008 · 1 Comment
Sumber Sinar Harapan | Jumat, 08 Februari 2008
Oleh Midzon LI Johannis
Konferensi Para Pihak ke-13 dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP-13/-UNFCCC) pada 15 Desember 2007 telah menyepakati Peta Jalan Bali. Walaupun berisi berbagai kompleksitas kerangka kerja, namun esensi dari Bali Road Map adalah semua pihak mengakui secara bulat bahwa pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) merupakan tujuan bersama untuk memitigasi dampak pemanasan global terhadap perubahan iklim bagi kehidupan di planet bumi ini.
Pemanasan global yang diukur dari kenaikan suhu rata-rata dunia, antara lain telah mencairkan es di kutub yang menyebabkan kenaikan permukaan laut, yang mengancam keanekaragaman hayati, maupun gangguan terhadap pola iklim yang sangat berpengaruh terhahap aktivitas manusia, termasuk di bidang pertanian. Pemanasan global terjadi oleh karena adanya penumpukan GRK, seperti gas karbon dioksida (CO2), metan (CH4), dan lain sebagainya, yang telah melebihi titik jenuh di atmosfer.
Menurut United Nation Human Development Report 2007/2008, total emisi GRK adalah sebesar 29 Gt karbondioksida, yang didominasi oleh sektor energi sebesar 24.7 persen, yaitu suatu gabungan jumlah emisi yang berasal dari bidang kelistrikan, manufaktur dan konstruksi, transportasi serta aktifitas berbasis energi lainnya.
(more…)
Categories: Globalisasi · Lingkungan
Tagged: Globalisasi, Lingkungan, Pertanian Berkelanjutan, Perubahan Iklim
Sumber Koran Seputar Indonesia
DENPASAR – Ekspor produk pertanian organik Indonesia hingga saat ini masih belum berjalan mulus. Buruknya standar kualitas produk, menjadi penyebab utama penolakan di negara tujuan.
Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Departemen Pertanian Djoko Said Damardjati mengatakan, masing-masing negara cenderung memiliki standar tersendiri tentang pertanian organik.
Kondisi tersebut tentu sangat merugikan dan menghambat lalulintas ekpor-impor produk organik. “Perbedaan inilah yang coba kita harmonisasikan dalam pertemuan,” katanya di Sanur, Bali, Selasa (27/11/2007).
(more…)
Categories: Ekonomi · Globalisasi
Tagged: Globalisasi, Marketing
Sumber Aliansi Petani Indonesia
Kamis, 2007 November 22
Didasari niat untuk meningkatkan kapasitas Petani dan rumah tangga petani terhadap akses teknologi informasi dengan tujuan mengembangkan sumber daya Manusia untuk peningkatan ekonomi petani, API bekerja sama dengan Formasi Indonesia terhitung sejak Agustus 2007 melangsungkan penyelenggaraan program CTC (Community Training Center) yang dilaksanakan di enam lokasi dari enam serikat tani Aliansi Petani Indonesia.
CTC-CTC API tersebut diantaranya terdiri atas 1. Sekretariat API Bali yang berlokasi di Jl. Banyubiru No. 289 Dusun Airanakan Banyubiru Negara Jembrana Bali 82251. 2. ORTATA (Organisasi Taloa) , Jl. Sultan Kharuddin No. 28 Sumbawa Besar. 3. Sekretariat Paguyuban Petani Cianjur (PPC) 1, Alamat : JL. Pagelaran No. 43 Cianjur. 4. Sekretariat Paguyuban Petani Cianjur (PPC), Jl. Pangeran Hidayatullah No. 142 Desa Limbangan Sari RT 02 RW 13 Cianjur. 5. Himpunan Petani dan Nelayan Pakidulan (HPNP) di Jl. Merdeka KMP Situgede Wetan No. 18 RT/RW 02/06 Desa Cipanengah Kec. Lembur Situ Kota Sukabumi. dan 6. Kelompok Petani Perempuan Saluyu (PPPS )beralamat di Jl. Kp. Cisaat RT 01/01 Desa Caringin Kec. Kab. Sukabumi Jawa Barat 43359.
(more…)
Categories: Advokasi · Agenda · Globalisasi · NGO
Tagged: Globalisasi, Advokasi
Kamis, 18 Oktober 2007 18:55:00
Jakarta-RoL — Perum Bulog akan membuat kontrak baru pengadaan beras impor sebesar 105 ribu ton pada awal November 2007 untuk mengantisipasi ketersediaan pasokan beras di dalam negeri selama musim paceklik (November 2007-Januari 2008).
Dirut Perum Bulog, Mustafa Abubakar, di Jakarta, Kamis (18/10), mengungkapkan kontrak baru itu antara lain mencakup 82 ribu ton sisa volume impor beras di tahun 2007 yang belum direalisasikan.
“Selain itu ada tambahan 23 ribu ton kontrak impor dengan President Agri (perusahaan asal Thailand,red),” katanya ketika melihat penurunan perdana beras impor asal Thailand di Pelabuhan Tanjung Priok.
(more…)
Categories: Ekonomi · Globalisasi
Tagged: Beras, Bulog, Globalisasi, Republika
Bank Dunia Jakarta, August 13, 2007.
Modern retailing and supermarkets are booming in Indonesia, growing at 20 percent a year since the lifting of restrictions in 1998. In fact, they now account for 30 percent of the food retail business. The national output of fresh fruits and vegetables has doubled to US$10 billion from 1994-2004 and is increasingly reflected in changing patterns of food consumption. Indonesians consumption of fresh produce was 50 per of their of expenditure on rice in 1994, it rose to increased to 75 percent in 2004 and, in urban areas, it now stands at 100 percent. i.e. urban Indonesians, are spending the same amount of money on rice as they are on fresh fruit and vegetables. Nearly all of this produce is home grown and while imports have nearly tripled over the last decade, they still account for only 3 percent domestic consumption. These findings are part of a report Horticultural Producers and Supermarket Development in Indonesia released by the World Bank in Jakarta today.
Report Highlights
Among the main findings of the report is the comparative disadvantage of traditional wholesale markets in competing with suppliers of better quality produce either from abroad or from smart new domestic wholesalers. Large inter-island traders and a new-generation of Indonesian wholesalers who are specialized, capitalized, and dedicated to the modern food industry are making it harder for traditional markets to compete.While fresh fruit and vegetables account for 8 percent of supermarket sales and up to 15 percent of urban retail, a high share – 80 percent of the fruit sold and 20 percent of vegetables – are imported. Fruit and vegetables from China and Thailand in particular are usually cheaper and at the same time of a higher quality, making it difficult for local farmer to compete. “Indonesian farmers trying to sell to supermarkets are really handicapped by extremely poor supply chains,” says the lead author of the report Shobha Shetty. “Moving over poor roads, lacking cold chains and logistics services while dealing with entrenched bad business practices, Indonesian farmers face formidable odds. Yet, retailers see a large opportunity for local produce in supermarkets if these supply chain problems could be resolved.”
(more…)
Categories: Advokasi · Ekonomi · Globalisasi
Tagged: Globalisasi, Marketing
Kompas Senin, 22 Oktober 2007
Pascal S Bin Saju dan R Adhi Kusumaputra
Mohammad Arief (64) memandang hamparan sawah nan hijau miliknya di Desa Bayah Barat, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Dia membayangkan sawahnya seluas 1,8 hektar, warisan turun-temurun, yang selama ini menjadi sumber nafkah keluarganya bakal lenyap.
Arief adalah salah satu dari ratusan warga pemilik sawah, kebun, dan tegalan yang tersebar di lima desa di Kecamatan Bayah, yang saat ini sedang galau. Sawah produktif miliknya yang dalam setahun dapat panen tiga kali bakal tergusur untuk kawasan industri semen PT Boral Indonesia, perusahaan penanaman modal asing (PMA) asal Australia.
Sekali panen, sawah Mohammad Arief menghasilkan 6,5 ton gabah. Jika dalam setahun tiga kali panen, sawahnya menghasilkan 19,5 ton gabah senilai rata-rata Rp 58,5 juta. Bagi Arief, uang sebanyak itu sangatlah berarti. Apalagi untuk ukuran hidup di kota kecamatan Bayah, di wilayah pantai selatan Banten.
(more…)
Categories: Lingkungan · Sosial
Tagged: Globalisasi, Lahan