Media Tani

Entries tagged as ‘Lingkungan’

Pekarangan, Pertahanan Pangan yang Hilang

September 1, 2008 · Leave a Comment

Sumber Kompas | Senin, 1 September 2008 | 03:00 WIB

ANDREAS MARYOTO

Lahan yang makin menyempit tak hanya terjadi di sawah, kebun, atau ladang, tetapi juga di pekarangan, lahan yang langsung berdampingan dengan rumah. Fragmentasi lahan menjadikan pekarangan yang merupakan pertahanan pangan terakhir itu nyaris hilang. Kasus kurang gizi sangat boleh jadi akibat dari keadaan ini.

Sekarang kita sulit untuk mendapatkan pekarangan di rumah-rumah di Pulau Jawa. Sampai tahun 1980-an para guru masih mengajarkan bercocok tanam di pekarangan kepada murid-muridnya. Sekarang mungkin hal itu masih diajarkan, tetapi tidak mudah diterapkan. Di depan rumah bukan lagi lahan pekarangan, tetapi sudah menjadi jalan raya. Di belakang rumah lahan makin sedikit dan cenderung berimpitan dengan rumah tetangga.

Meski demikian, jejak pekarangan masih ada. Pekarangan dengan berbagai aneka tanaman dan juga hewan piaraan masih ditemukan di keluarga-keluarga yang umumnya anak-anaknya bekerja di luar kota dan tidak menggantungkan pada lahan milik orangtuanya sehingga lahan itu masih terjaga.

(more…)

Categories: Pangan
Tagged: , , ,

Pertanian Berkelanjutan, Pertanian Konservasi

February 8, 2008 · 1 Comment

Sumber Sinar Harapan | Jumat, 08 Februari  2008

Oleh Midzon LI Johannis

Konferensi Para Pihak ke-13 dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP-13/-UNFCCC) pada 15 Desember 2007 telah menyepakati Peta Jalan Bali. Walaupun berisi berbagai kompleksitas kerangka kerja, namun esensi dari Bali Road Map adalah semua pihak mengakui secara bulat bahwa pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) merupakan tujuan bersama untuk memitigasi dampak pemanasan global terhadap perubahan iklim bagi kehidupan di planet bumi ini.

Pemanasan global yang diukur dari kenaikan suhu rata-rata dunia, antara lain telah mencairkan es di kutub yang menyebabkan kenaikan permukaan laut, yang mengancam keanekaragaman hayati, maupun gangguan terhadap pola iklim yang sangat berpengaruh terhahap aktivitas manusia, termasuk di bidang pertanian. Pemanasan global terjadi oleh karena adanya penumpukan GRK, seperti gas karbon dioksida (CO2), metan (CH4), dan lain sebagainya, yang telah melebihi titik jenuh di atmosfer.

Menurut United Nation Human Development Report 2007/2008, total emisi GRK adalah sebesar 29 Gt karbondioksida, yang didominasi oleh sektor energi sebesar 24.7 persen, yaitu suatu gabungan jumlah emisi yang berasal dari bidang kelistrikan, manufaktur dan konstruksi, transportasi serta aktifitas berbasis energi lainnya.

(more…)

Categories: Globalisasi · Lingkungan
Tagged: , , ,

Mitigasi Perubahan Iklim dengan Pertanian Organik dan Distribusi Lokal

January 15, 2008 · 1 Comment

Sumber Beritabumi.or.id

Oleh Ani Purwati

Pertanian organik sebagai sistem pertanian berkelanjutan ternyata tidak hanya menghasilkan produk yang sehat. Pertanian yang mengutamakan keselarasan alam ini juga mempunyai potensi dalam mitigasi perubahan iklim (climate change). Melalui Siaran Pers ISIS (31/1), Dr Mae-Wan Ho dan Lim Li Ching menyebutkan pertanian organik mampu mengurangi sekitar 30 persen emisi gas rumah kaca (greenhouse gasses) dan menghemat 16 persen energi global.

Potensi terbesar berasal dari penyerapan karbon 11%, sistem lokalisasi distribusi pangan akan mengurangi transport 10%, mengurangi proses dan pengepakan 1,5%, tanpa penggunaan pupuk N akan mengurangi emisi nitroksida 5% dan menghilangkan energi fosil.

Laporan United Nations Food and Agriculture Organisation (FAO) 2002 menyebutkan, pertanian organik menyebabkan ekosistem mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim dan berpotensi mengurangi gas rumah kaca pertanian. Pertanian organik juga lebih efisien daripada pertanian konvensional per skala hektar berkaitan dengan konsumsi energi fosil ataupun pupuk buatan dan pestisida.

(more…)

Categories: Lingkungan · NGO · Pangan
Tagged: , , , , ,

Pemanasan Global Setelah Konferensi Bali

December 22, 2007 · 2 Comments

Sumber Sinar Harapan | Sabtu, 22 Desember  2007

Pengantar:
DR Rizaldi Boer. Dia merupakan sarjana bidang agroclimatology dari Institut Pertanian Bogor dan meraih gelar Doktor dari University of Sydney dalam bidang agriculture dengan fokus pada analisa risiko iklim yang akan datang pada pertanian.

Dari hasil konferensi Bali kemarin, apa pengaruhnya terhadap pertanian?
Konferensi Bali dan berbagai organisasi dunia, baik lembaga swadaya masyarakat (Non Government Organization – NGO) maupun lembaga pemerintah, sudah mengakui dampak perubahan iklim terhadap berbagai sektor sangat signifikan, khususnya di sektor pertanian. Jika frekuensi intensitas bencana akibat pemanasan global makin sering dan tanpa ada upaya-upaya adaptasi maka kegagalan panen akan makin sering terjadi dan pada akhirnya berdampak pada ketahanan pangan nasional.

Seberapa besar pengaruh global warming terhadap bencana itu?
Kalau dampak dari pemanasan global adalah produktivitas tanaman pangan menurun. Dengan suhu udara meningkat tentu akan berakibat peningkatan respirasi sehingga mengambil sebagian besar hasil fotosintesis. Berdasarkan kajian yang kita lakukan dan dari modelling-modelling yang dilakukan berkaitan dengan simulasi dampak pemanasan global, penurunan produktivitas berkisar 10-30% per ton per hektar tergantung dari lokasi dan kondisi tanah. Jadi itu cukup signifikan.

(more…)

Categories: Lingkungan
Tagged: , , ,

Dampak Perubahan Iklim Bagi Petani Indonesia

November 29, 2007 · 1 Comment

Sumber KBR68H | 29-11-2007

Pemanasan global telah mengacaukan musim hujan dan musim kemarau. Para petani kini sulit menentukan jenis varietas dan kalender tanam, lantaran iklim sulit diduga. Di berbagai wilayah Indonesia kekeringan dan banjir menggagalkan produksi pangan. Sawah banyak puso atau gagal panen lantaran kemarau panjang dan banjir. Para petani mestinya tidak begitu saja pasrah. Di sejumlah kabupaten/kota, berbagai kelompok petani kini aktif mengikuti sekolah lapangan iklim. Mereka berharap bisa lebih mudah dan pasti dalam menetapkan varietas serta kalender tanam, sesuai gejala-gejala iklim yang dipelajari.

Salah meramalkan iklim
Untuk tahun 2003, para petani di Indramayu, Jawa Barat, punya catatan kelam. Ribuan hektar lahan terserang puso, gagal panen. Kala itu mereka menanam padi jenis talimas, salah satu varietas padi yang butuh waktu panjang dan perlu banyak air.

Waryono, Didi Casmadi dan petani lain Kecamatan Kadang Haur, Indramayu, waktu itu salah meramalkan iklim. Musim hujan yang mereka duga panjang, justru malah berlangsung pendek. Akibatnya, sawah hanya menghasilkan bulir-bulir gabah kosong, karena kurang air. Para petani pun rugi rata-rata Rp. 1,5 juta dari 700 meter persegi sawah mereka. Sedangkan gabah Wahyono jadi gabuk karena angin bugang.

(more…)

Categories: Lingkungan · Pangan
Tagged: , , , ,

Pemerintah Diminta Tangguhkan Izin Kebun

November 7, 2007 · Leave a Comment

Sumber Kompas

Jakarta, Kompas – Aktivis lingkungan hidup mengklaim perkebunan kelapa sawit telah mengganggu habitat satwa dan tanaman liar.

Oleh karena itu, mereka meminta pemerintah menangguhkan penerbitan izin baru perkebunan kelapa sawit dan mengevaluasi izin lama yang belum direalisasikan.

“Sejak 2006 sampai November 2007, sedikitnya 544 orangutan sudah mati akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit. Pemerintah jangan menutupi soal ini dan harus segera mencari solusinya,” kata Direktur Centre for Orangutan Protection (COP) Hardi Baktiantoro kepada Kompas, Senin (5/11) di Jakarta.

(more…)

Categories: Lingkungan · Sosial
Tagged: ,

Polusi Udara dan Kegagalan Proyek Utang

October 25, 2007 · 1 Comment

Firdaus Cahyadi

SatuDunia, 24 October 2007
Udara bersih adalah komponen yang amat vital bagi keberlanjutan kehidupan manusia. Betapa tidak, seseorang mungkin bisa memilih air yang akan diminum dan makanan yang akan dimakan sesuai dengan standar kesehatan. Namun, seseorang tidak mampu memilih apakah udara yang dia hirup sehat atau tidak.

Untuk itulah negara wajib memenuhi hak warganya atas udara bersih tersebut. Namun, betapa terkejutnya bila kita membaca laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia yang baru saja diterbitkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) pada September 2007.

Dalam laporan itu terlihat bahwa pada sepanjang 2006 di sepuluh kota di Indonesia (Jakarta, Surabaya, Palangkaraya, Pontianak, Pekanbaru, Semarang, Bandung, Medan, Jambi dan Denpasar), jangankan untuk memenuhi hak atas udara bersih, untuk memantau kualitas udara secara lengkap dalam satu tahun pun KLH tidak mampu melakukannya.

(more…)

Categories: Lingkungan · NGO · Pemanasan Global
Tagged: , ,