Media Tani

Entries tagged as ‘Marketing’

Dutch company claims int’l trade rights over Gayo coffee

February 11, 2008 · 1 Comment

The Jakarta Post, Jakarta (11.02.2008)

The Gayo tribe in Aceh Nanggroe Darussalam may already have lost the right to use their own name in international trade for their own brand of coffee after a Dutch firm officially claimed Gayo coffee as its trademark.

Made from one of the world’s finest varieties of Arabica beans grown only in central Aceh’s highlands, the Gayo trademark coffee can only be used in international trade by Amsterdam-based company Holland Coffee B.V.

(more…)

Categories: Ekonomi · Globalisasi
Tagged: ,

Pelatihan Inspektor Sistem Pangan Organik

February 5, 2008 · 3 Comments

Sumber BioCert

Perkembangan pertanian organik di Indonesia tumbuh cukup pesat. Saat ini diperkiraan sekitar 41 ribu ha lahan telah disertifikasi organik dengan total penjualan produk organik untuk ekspor mencapai lebih dari 200 juta dolar Amerika (FiBL 2008). Menurut Organic Monitor, Indonesia memiliki potensi sebagai produsen organik utama dunia terutama untuk ekspor. Produk organik unggulan Indonesia, seperti kopi, rempah-rempah dikenal di pasar internasional.

Saat ini beroperasi beberapa lembaga sertifikasi organik nasional dan lima lembaga sertifikasi organik asing di Indonesia.  Untuk menjalankan perannya, lembaga sertifikasi tersebut memerlukan tenaga inspektor yang kompeten untuk menjalankan kegiatan inspeksi.

(more…)

Categories: Advokasi · Agenda · Ekonomi · NGO · Pangan
Tagged: , ,

WORTA, Memastikan Perdagangan Berkeadilan

February 5, 2008 · Leave a Comment

Oleh Muhammad Riza

Tambar, seakan tak menyangka saat dilakukan refleksi tentang pemasaran salah satu produk kelompoknya. “Kalau dihitung, ternyata saya bisa masuk seratus lima puluh ribuan sebulan untuk penjualan WORTA,” ujarnya pada Bayu Cahyono, access market project team leader YDA Solo, Rabu, 21 Nopember 2007 lalu.

Padahal, “Itu dilakukan dengan cara sambilan saja. Kalau ada teman yang butuh atau kebetulan main kemana sambil bawa WORTA, dijual atau dititipkan dulu,” lanjutnya lagi. Itu baru hasil dari seorang Tambar, Ketua Pokja KTB, petani yang juga seorang pendidik. Belum lagi hasil penjualan beberapa petani anggota lainnya dan juga oleh YDA Solo.

(more…)

Categories: Advokasi · Ekonomi · Globalisasi · NGO
Tagged: ,

Ubud organic market needs more space

January 31, 2008 · 1 Comment

Sumber The Jakarta Post

Features – January 31, 2008

Anton Muhajir, Contributor, Denpasar

The front yard of Pizza Bagus in Pengosekan, Ubud, was bustling with activity one recent morning.

Vendors had transformed the cramped yard into Ubud’s first organic market. Buyers carefully scoured piles of various organic food products, from fruits and vegetables to bread, honey, and ice cream.

Dutch national Edith van Walsum, a mother of two children, said shopping the organic market was quite exciting.

(more…)

Categories: Advokasi · Ekonomi · Kesehatan · Lingkungan · NGO · Produksi
Tagged: ,

Uni Eropa: Aturan Baru Untuk Pengembangan Pertanian Organik

January 17, 2008 · Leave a Comment

Sumber Biocert

Para menteri pertanian Uni Eropa mencapai kesepakatan mengenai aturan baru produksi dan pelabelan organik pada tanggal 12 Juni 2007 di Brussel Belgia.

Aturan baru ini mengatur tujuan, prinsip dan aturan umum mengenai produksi organik termasuk juta mengenai aturan impor dan sistem pengawasannya.

Selain itu, aturan ini juga mewajibkan pelabelan organik Uni Eropa bagi produk organik dipasarkan di Uni Eropa, namun produk tersebut dapat menyertakan label logo organik nasional atau swasta.

(more…)

Categories: Ekonomi · Globalisasi
Tagged: ,

Tip Memasuki Pasar Organik Jerman

January 17, 2008 · Leave a Comment

Sumber Biocert

Penjualan produk organik di Eropa di tahun 1998-2003 meningkat menjadi dua kali lipat. Konsumen di Italia, Spanyol, Jerman, Inggris, dan Perancis membelanjakan sekitar 8 milyar Euro untuk produk organik, dimana Jerman merupakan negara dengan belanja terbanyak (40%), dengan total belanja mencapai 4,6 milyar EUR.

Jerman merupakan negara dengan pasar organik kedua terbesar di dunia setelah AS. Diperkirakan, pasar organik Jerman akan terus tumbuh pesat. Selain konsumen produk organik terbesar, Jerman juga merupakan negara pengimpor produk organik terbesar di Eropa (38% produk organik di pasar Jerman berasal dari impor).  Impor buah, rempah-rempah, kopi, kakao, teh dan gula ke Jerman merupakan peluang bagi negara non-Eropa. Tetapi diperlukan kesungguhan untuk memasuki bisnis besar tersebut.

Berikut ini, tips untuk memasuki pasar organik terbesar kedua di dunia tersebut:

(more…)

Categories: Ekonomi
Tagged: ,

Kondisi Pertanian Kacau-balau

January 17, 2008 · 2 Comments

Kompas, Kamis, 17 Januari 2008

Krisis Kedelai Bisa Memunculkan Ketidakpercayaan Rakyat kepada Pemerintah

Jakarta, Kompas – Apa yang ditakuti bangsa ini benar-benar terjadi. Harga dan pemenuhan kebutuhan pokok warga yang berbasis pertanian sudah didikte bangsa lain. Ketika harga kedelai di pasar dunia naik, misalnya, Pemerintah Indonesia tak kuasa menahan laju kenaikan harga kedelai di dalam negeri.

Guru besar Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin saat dihubungi di Australia, Rabu (16/1), mengungkapkan, ketergantungan pangan bangsa ini sesungguhnya tengah berlangsung.

(more…)

Categories: Ekonomi · Pangan
Tagged: ,

Kebijakan soal Kedelai Absurd, Swasta Didorong Tanpa Insentif

January 16, 2008 · 1 Comment

Sumber Kompas

Jakarta, Kompas – Kebijakan pemerintah menurunkan tarif impor kedelai menjadi 0 persen merupakan kebijakan yang absurd dan lucu karena tidak mempunyai efek apa pun terhadap harga dan kelangkaan kedelai saat ini. Kebijakan tersebut diambil seolah-olah pemerintah bekerja untuk mengatasi masalah ini.

Penilaian tersebut disampaikan Didik J Rachbini, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN), di Jakarta, Selasa (15/1).

“Kasus ini menunjukkan adanya kebijakan kosong dalam hal ketahanan pangan, khususnya untuk kedelai yang menjadi bahan baku tempe sebagai makanan rakyat yang sudah mendarah daging,” ujar Didik yang juga anggota DPR.

Menurut Didik, sistem produksi kedelai hancur karena kebijakan pemerintah terhadap sistem komoditas ini adalah kebijakan pembiaran, yang tidak memberi stimulasi terhadap petani untuk mendapat insentif keuntungan dalam berproduksi.

(more…)

Categories: Ekonomi · Globalisasi · Pangan
Tagged: ,

Salak Pondoh Organik Raih Sertifikasi Prima 3

January 12, 2008 · Leave a Comment

Sumber Kompas

SLEMAN, KOMPAS – Salak pondoh organik produksi Kelompok Tani Duri Kencana di Dusun Trumpon, Merdikorejo, Tempel, memperoleh sertifikasi Prima 3 dari Departemen Pertanian. Salak pondoh yang dibudidayakan tanpa menggunakan bahan-bahan kimia itu dinyatakan sehat untuk dikonsumsi karena level residu pestisida di bawah ambang batas.

Ketua Kelompok Tani Duri Kencana Musrin mengungkapkan, secara fisik salak pondoh organik memang tidak berbeda dengan salak pondoh pada umumnya. “Bentuk dan warnanya memang sama. Namun, salak pondoh organik lebih sehat untuk dikonsumsi karena sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida,” kata Musrin, Jumat (11/1) di Sleman.

Selain disukai pembeli karena rasa yang lebih manis, salak pondoh organik juga lebih tahan lama dibandingkan dengan salak nonorganik. Setelah dipetik, salak organik bisa tahan sampai setengah bulan, lebih lama dari daya tahan salak nonorganik yang rata-rata hanya satu minggu.

(more…)

Categories: Ekonomi
Tagged: ,

Pasar Organik Ubud Butuh Tempat Lebih Luas

January 5, 2008 · Leave a Comment

Sumber Bale Bengong

Oleh Anton Muhajir

Pukul 10.00 pagi di halaman depan Pizza Bagus di jalan raya Pengosekan Ubud, suasana agak hiruk pikuk. Sekitar 30 orang memenuhi halaman tak lebih dari 10 x 4 meter persegi itu. Sepuluh meja di halaman jadi tempat berbagai produk organik seperti sayur, buah, madu, hingga roti dan es krim. Karena sempitnya halaman, antar-pengunjung harus saling bertenggang rasa agar mereka tidak menumpuk di satu tempat. Mereka segera pindah ke meja lain usai berbelanja.

Edith van Walsum, warga Belanda, adalah salah satu pembeli pagi itu. Meski baru pertama kali datang ke Bali, ibu dua anak itu langsung minta diantar ke pasar organik Ubud untuk belanja di pasar organik tersebut. “Belanja di pasar organik selalu lebih menyenangkan karena ada kedekatan tersendiri dengan petani. Produknya juga lebih sehat karena tanpa bahan kimia,” katanya. Edith, yang pagi itu membeli selai mangga, tahu tentang pasar organik di Ubud dari temannya yang bekerja di LSM pertanian.

Tempat berjualan produk organik ini memang bukan pasar. Hanya beranda restoran yang “dipaksa” menjadi pasar. Pasar khusus produk organik ini diadakan tiap Sabtu dari pukul 10.00 hingga 2 siang. Pengunjung yang membeli atau sekadar lihat-lihat hampir selalu penuh. Karena itu, pengelolanya berencana pindah ke tempat lain. “Kami sudah mencari beberapa tempat baru. Tapi belum sesuai kriteria,” kata Sayu Komang Sri Mahayuni, pengelola pasar organik tersebut.

(more…)

Categories: Advokasi · Ekonomi
Tagged: ,