Setelah Swasembada Beras, Lalu Apa Lagi?

Kompas | Selasa, 16 Desember 2008 | 00:29 WIB

Hermas E Prabowo

Lebih dari 24 tahun menunggu, akhirnya swasembada beras tercapai juga. Swasembada tahun 2008 ini berbeda dibandingkan tahun 1984 karena swasembada kali ini tanpa sedikit pun dibarengi impor beras. Lain cerita pada 1984, di mana swasembada masih dibarengi dengan impor beras 414.300 ton. Mengapa kita bisa swasembada beras?

Pertanyaan ini penting diajukan sebagai refleksi sekaligus pijakan dalam upaya mempertahankan swasembada beras 2009 dan pada tahun-tahun yang akan datang.

Perlu diingatkan bahwa sejak munculnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, tidak ada lagi kemampuan pemerintah mengontrol budidaya pertanian.

Petani bebas memilih komoditas apa yang akan mereka tanam tanpa ada tekanan atau paksaan untuk menanam komoditas tertentu yang diinginkan pemerintah.

Sejak itu, impor beras terus meningkat dan puncaknya tahun 1999, di mana impor beras mencapai 4,7 juta ton atau tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Melalui UU itu pula, era ”liberalisasi” budidaya pertanian dimulai karena tidak ada kendali pemerintah atas usaha tani. Satu-satunya faktor yang menjadi acuan petani memilih komoditas yang akan mereka tanam adalah faktor keuntungan.

Mudah diingat bahwa tahun 2007/2008 terjadi lonjakan harga komodita,s baik di pasar domestik maupun internasional. Harga beras di Thailand bahkan melambung hingga 800 dollar AS per ton, beras Vietnam mencapai 600 dollar AS per ton.

Begitu pula harga beras China, India, dan Pakistan melonjak. Lonjakan harga komoditas memicu ketakutan di antara negara-negara pengekspor beras.

China, India, dan Pakistan bahkan menghentikan ekspor sementara waktu. Akibatnya, suplai beras ke pasar dunia merosot. Melihat gejala buruk itu, Pemerintah Indonesia berkomitmen meningkatkan produksi tanaman pangan, di antaranya beras, jagung, dan kedelai.

Peningkatan produktivitas
Salah satu insentif yang diberikan pemerintah adalah menaikkan harga pembelian pemerintah untuk gabah dan beras, baik di tingkat petani maupun usaha penggilingan (lihat tabel). Dengan begitu, diharapkan keuntungan petani meningkat dan muncul kegairahan untuk menanam padi.

Luas tanam padi musim hujan periode Oktober 2007-Maret 2008 mencapai 7,86 juta hektar atau 3,4 persen di atas pencapaian luas tanam pada periode sama 2006/2007.

Lantas, bagaimana dengan produktivitas? Ada beberapa faktor penting dalam mendukung peningkatan produktivitas, antara lain iklim kondusif, benih unggul, pupuk, suplai air, serangan hama penyakit, dan pengelolaan pascapanen.

Sejak bergulirnya Program Peningkatan Produksi Beras (P2BN), penggunaan benih varietas unggul menjadi salah satu pilihan. Pada musim tanam 2008 saja, pemerintah mengalokasikan bantuan benih padi dalam APBN sebanyak 37.500 ton dengan sasaran areal tanam 1,5 juta hektar.

Belum lagi bantuan benih dalam bentuk Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU), cadangan benih nasional, dan bantuan benih dalam bentuk subsidi harga kepada petani.

Begitu pula luas tanam padi hibrida ditingkatkan. Bantuan benih hibrida tahun ini sebanyak 1.285 ton dengan sasaran luas tanam 86.000 ton.

Bagaimana dengan pupuk? Suplai pupuk tahun 2007/2008 nyaris tanpa perubahan. Kelangkaan pupuk urea terjadi di mana-mana sehingga banyak petani yang kesulitan mendapatkan pupuk.

Akibatnya, banyak pula tanaman padi milik petani yang terlambat dipupuk sehingga pertumbuhan tidak optimal. Dari 5,8 juta ton kebutuhan pupuk urea, pemerintah hanya mampu mengalokasikan 4,3 juta ton pada musim tanam tahun 2008.

Faktor penentu peningkatan produktivitas lain adalah stabilitas suplai air. Musim tanam padi Oktober 2007-September 2008 yang menjadi basis penghitungan produksi padi 2008 nyaris tanpa ada gangguan suplai air yang berarti.

Hujan dan bencana banjir memang sempat mengganggu kualitas produksi padi dan merendam tanaman padi yang baru mulai tanam ataupun yang hampir panen.

Namun, bencana banjir 2007/2008 lebih banyak terjadi pada tanaman padi muda sehingga replanting bisa segera dilakukan dan luas lahan puso dapat diminimalkan.

Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Deptan menunjukkan, bencana banjir dan kekeringan musim tanam Oktober 2007-Maret 2008 hanya merendam tanaman padi seluas 335.056 hektar. Bandingkan dengan musim tanam 2006/2007 yang mencapai 485.868 ha.

Sementara musim kemarau yang berlangsung April-September 2008 merupakan jenis kemarau basah. Meskipun periode musim kemarau, hujan masih turun sehingga menolong budidaya padi.

Pada musim tanam di musim hujan 2007/2008, ada serangan tikus, hama penggerak batang, tungro, kresek, dan blas yang terjadi pada 208.931 ha atau di atas serangan hama yang terjadi pada musim tanam di musim hujan 2006/2007 yang hanya 143.312 ha.

Kualitas panen
Lantas, bagaimana dengan program pascapanen? Musim panen 2008, Departemen Pertanian memperbaiki kualitas panen dengan memperkecil potensi kehilangan hasil.

Deptan mengalokasikan dana Rp 80 miliar untuk meningkatkan kualitas gabah petani dalam program gerakan pengamanan pascapanen.

Dana itu untuk pembelian peralatan pertanian pascapanen, pendampingan, dan pengawalan. Alat-alat itu berupa sabit bergerigi (103.000 buah), alat perontok padi manual (1.000), alat perontok padi mekanik (400), dan 40.000 terpal ukuran 8 meter x 8 meter.

Bagaimana dengan jaminan pasar? Selain faktor harga dan peningkatan kualitas sistem budidaya padi oleh Deptan, jaminan pasar oleh Perum Bulog juga semakin memantapkan petani untuk menanam padi.

Terbukti dengan peningkatan pembelian beras Bulog tahun 2007 yang mencapai 1,76 juta ton dan tahun 2008 sebanyak 3,1 juta ton. Ini membuat petani semakin bersemangat untuk menanam padi.

Akankah harga komoditas pertanian dunia, terutama beras, tetap tinggi pada masa mendatang? Akankah Bulog tetap memberikan jaminan pasar bagi petani di tengah krisis global ini?

Melihat besarnya pengaruh harga dalam meningkatkan produksi, faktor daya tarik harga pada 2009 dan tahun-tahun mendatang harus tetap dipertahankan bila Indonesia ingin tetap mempertahankan swasembada beras. Begitu pula dengan jaminan pasar oleh Bulog untuk mendorong stabilisasi harga beras di tingkat petani, pada level yang stabil tinggi.

Meski begitu, usaha Deptan melalui bantuan benih unggul, perbaikan irigasi, perbaikan pascapanen, dan perbaikan distribusi pupuk harus dipertahankan dan tetap ditingkatkan.

Satu lagi pekerjaan rumah yang belum diselesaikan pemerintah, pengendalian laju konversi lahan. Tanpa menghentikan itu, swasembada beras hanya akan berlangsung sesaat karena setelah itu Indonesia akan menjadi importir beras terbesar dan akan semakin besar.

Setelah sukses mencapai swasembada beras, pertanyaan selanjutnya, apa lagi?

Masih banyak pekerjaan rumah pemerintah, yakni swasembada gula, daging sapi, dan kedelai, yang saat ini jauh dari harapan.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/16/00293933/setelah.swasembada.beras.lalu.apa.lagi

Menuju Negara Pertanian Termaju di Dunia

Sumber Kompas | Selasa, 9 Desember 2008 | 00:58 WIB

Oleh Hermas E Prabowo

Bagaimana membangun perekonomian yang pertumbuhannya terasa sampai ke sumsum tulang mayoritas rakyat Indonesia? Tidak ada cara lain kecuali membangun sektor pertanian yang berkualitas dan terintegrasi dengan sektor industri dan perdagangan sehingga mampu menumbuhkan pusat ekonomi baru.

Keandalan sektor pertanian tidak diragukan lagi. Selama satu dasawarsa (1998-2008), sektor pertanian kembali menunjukkan daya tahan di tengah krisis ekonomi.

Seperti yang dinyatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat krisis global mulai tampak pada triwulan III-2008.

Continue reading

Aruh Baharin, Pesta Padi Dayak Halong

Sumber Kompas | Selasa, 9 Desember 2008 | 03:00 WIB

Oleh M Syaifullah

Hari Sabtu awal Oktober lalu, lima balian (tokoh adat) yang memimpin upacara ritual terlihat berlari kecil sambil membunyikan gelang hiang (gelang terbuat dari tembaga kuningan) mengelilingi salah satu tempat pemujaan di balai depan rumah milik Ayi, warga Desa Kapul, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Hampir semua warga Dayak setempat, bahkan warga dari beberapa kampung lainnya, hadir mengikuti ritual adat tua yang masih dilestarikan dan dipertahankan di kecamatan yang terletak sekitar 250 kilometer utara Banjarmasin, ibu kota Kalimantan Selatan. Mereka larut menyaksikan para balian itu saat bamamang (membaca mantra) memanggil para dewa dan leluhur.

Prosesi adat ini dikenal dengan Aruh Baharin, pesta syukuran yang dilakukan keluarga besar terdiri dari 25 keluarga tersebut karena hasil panen padi di pahumaan (perladangan) mereka berhasil dengan baik. Pesta yang berlangsung tujuh hari itu terasa sakral karena para balian yang seluruhnya delapan orang itu setiap malam menggelar prosesi ritual pemanggilan roh leluhur untuk ikut hadir dalam pesta tersebut dan menikmati sesaji yang dipersembahkan.

Continue reading

Padi MSP Belum Lolos Sertifikasi

Sumber Bali Post

Selain benih padi Super Toy HL-2 yang telah membuat heboh, masih ada benih padi lain yang berpotensi menimbulkan pro-kontra. Seperti Super Toy, bibit padi MSP ternyata belum lulus proses sertifikasi Badan Pengawasan Sertifikasi Benih (BPSB) Departemen Pertanian. ‘Tetapi sudah mulai mengajukan, karena kita dorong untuk perbaikan,’ kata Menteri Pertanian Anton Apriantono, di Kantor Kepresidenan, Senin (8/9) kemarin.

Anton mengatakan pihaknya telah menerima data mengenai benih padi yang mengambil nama dari mantan Presiden RI itu. Namun, hingga kini benih padi tersebut dinilai belum memenuhi persyaratan yang seperti diharapkan dan masih dalam proses. Untuk itu, pihaknya masih terus meminta perbaikan sesuai dengan protokol yang ada. Atas dasar itu, pemerintah telah mengingatkan kepada perusahaan penjual padi tersebut bahwa benih padi MSP belum boleh dikomersialkan atau diperjualbelikan.

Pada sesi kedua, agenda rapat kabinet terbatas kemarin membahas tentang benih dan pangan yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, Anton mengatakan sama sekali tidak membahas mengenai kasus Super Toy yang diprotes petani karena saat dipanen ternyata tidak ada isinya. ‘Hanya memberikan penjelasan tentang duduk persoalannya kepada Presiden,’ ujarnya.

Continue reading

Denpasar farmers’ market association promote home grown

Wasti Atmodjo ,  Contributor ,  Denpasar   |  Mon, 09/08/2008 10:59 AM  |  Bali

Denpasar farmers recently established the Market Farmers’ Association (Aspartan), aiming to expand the market for local agricultural products.

To mark the establishment of the association, on the weekend the group organized a two-day Farmers’ Market in the parking lot east of Puputan Margarana Square, Renon.

The market comprised 50 stalls, selling various agricultural products including processed goods.

Continue reading

Petani Madiun Kecewa Super Toy

Sumber Kompas | Senin, 8 September 2008 | 00:50 WIB

Seperti halnya petani di Kabupaten Purworejo, petani di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, juga kecewa terhadap padi Super Toy HL-2. Hasil panen mereka tidak seperti yang dijanjikan petugas dari PT Sarana Harapan Indopangan. Padahal, harga benih Super Toy hampir 10 kali lipat harga benih padi biasa.

Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Madiun, Minggu (7/9), ada 5 hektar lahan pertanian di Kecamatan Dolopo dan Kebonsari, Kabupaten Madiun, ditanami padi Super Toy HL-2.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Madiun Wijanto Joko Purnomo mengatakan, saat PT Sarana Harapan Indopangan (SHI) menawarkan benih Super Toy, ia meminta Balai Benih Kabupaten Madiun mengecek. Hasil belum ada tiba-tiba ada acara panen perdana Super Toy di Dolopo pada 7 April oleh Sekretaris Daerah Pemprov Jatim Soekarwo.

Continue reading

Petani Merauke Jangan Cuma Jadi Penonton

Sumber Kompas | Senin, 8 September 2008 | 03:00 WIB

Musim kemarau ini, sejauh mata memandang, lahan pertanian di Serapuh, Merauke, Papua, kering kerontang. Debu-debu halus beterbangan saat angin bertiup.

Anwar Gebze (40) berusaha menyegarkan tanah dengan menyemprotkan air ke lahannya. Sebuah pompa buatan China dihubungkan dengan selang sepanjang 20 meter yang ujungnya diikatkan pada sebatang bambu. Kedua tangannya memegang bambu dan air menyembur keluar dari ujung selang, membasahi tanah yang hendak ditanami kedelai.

Baru kali pertama Anwar menanam kedelai. Biasanya pria di Kampung Waninggap Nanggo ini menanam padi dan umbi-umbian. Kali ini, ia sedang mempraktikkan pelatihan dari pemerintah setempat yang mengajari petani memanfaatkan lahan kosong agar menghasilkan.

Continue reading