Reinvestasi Infrastruktur Pertanian Butuh Rp 70 Triliun

Sabtu, 27 Oktober 2007

Jakarta, Kompas – Untuk membangun kembali infrastruktur pertanian yang rusak diperlukan investasi antara Rp 60 triliun dan Rp 70 triliun.

Pembangunan dan perbaikan meliputi jaringan irigasi, jalan pertanian, serta pengembangan jaringan listrik. Selain itu juga pengembangan riset di bidang teknologi pertanian dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.

Hal itu diungkapkan Deputi II Bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan Menko Perekonomian Bayu Krisnamurthi, Jumat (26/10) di Jakarta.

Melalui pembangunan itu, lanjut Bayu, diharapkan bisa mendorong peningkatan produksi dan produktivitas sejumlah komoditas strategis pertanian, yang pada akhirnya mendorong ketahanan pangan nasional.

Menurut Bayu, perubahan iklim global dan kebijakan pengembangan energi berbahan bakar nabati memicu perubahan struktur perdagangan komoditas pertanian, pergeseran pola konsumsi, berkurangnya pasokan dunia, dan kenaikan harga.

Jika tidak mengantisipasi sejak sekarang dampak buruk di atas, di masa 10-15 tahun mendatang bangsa ini akan mengalami kesulitan, terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan, pakan, dan energi.

Bayu mencontohkan, berkembangnya industri bahan bakar nabati dunia yang umumnya berbasis jagung membuat permintaan jagung naik.

Permintaan meningkat di tengah suplai normal mengakibatkan harga melonjak. Jagung merupakan tanaman semusim, sama dengan kedelai.

Melonjaknya permintaan jagung dunia yang menyebabkan harga naik mendorong petani beralih dari menanam kedelai ke jagung. Akibatnya, produksi kedelai menurun.

“Kebijakan energi memang tidak secara langsung berpengaruh ke beras, tetapi akan memicu perubahan pola konsumsi dan pilihan usaha tani yang mengakibatkan pasokan komoditas pertanian dunia relatif sedikit. Pada akhirnya harga beras pun akan terdorong naik,” katanya.

Anggaran terbatas
Menurut Bayu, stok pangan dunia tahun 2000 masih cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk dunia hingga 110 hari. Enam tahun berselang (2006), stok pangan dunia hanya cukup untuk 50 hari.

Sebelumnya belum pernah ada dalam sejarah perdagangan pertanian dunia, harga kebutuhan pokok dalam enam bulan naik 20-40 persen. Contohnya, harga beras di pasar dunia sekarang mencapai 230 dollar AS per ton, sebelumnya berkisar 180 dollar-190 dollar AS.

Sementara itu, Menko Perekonomian Boediono mengakui biaya yang diperlukan untuk menyempurnakan infrastruktur pertanian di Indonesia sangat besar, sedangkan anggaran pemerintah sangat minim. Oleh karena itu, pembangunan hanya bisa dilakukan bertahap.

“Kami sadar pertanian itu adalah kunci keberhasilan pemerintah (dalam mengentaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran). Namun, pemerintah harus memilah-milah penggunaan dana yang tersedia karena banyak sekali prioritasnya,” katanya.

Salah satu prioritas penggunaan dana yang mendesak adalah pembangunan jalan dan pembangkit listrik. Pembangunan kedua sektor tersebut menyedot sebagian besar anggaran yang dimiliki pemerintah.

“Namun, sebenarnya sebagian irigasi sudah mulai dibangun. Anggarannya tidak akan cukup untuk merehabilitasi seluruh irigasi. Dananya sudah disalurkan melalui Departemen Pekerjaan Umum dan Pertanian. Anggaran di APBN 2008 juga sudah cukup untuk meningkatkan lagi kualitas irigasi, baik sekunder maupun primer,” katanya. (MAS/OIN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s