Benih Palsu, Gagal Panen

Sumber Kompas

Palembang, Kompas – Petani padi di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, gagal panen gara-gara menanam benih palsu. Mereka terjebak membeli produk palsu karena pada saat awal musim tanam lalu tiba, bantuan benih dari pemerintah tidak kunjung datang. Akibatnya, mereka kini menderita kerugian tidak sedikit.

Berdasarkan pantauan Kompas, Senin (6/11), gagal panen terjadi di sejumlah desa, di antaranya Rantau Bayur dan Muara Sugihan. Sekitar 50 petani padi di daerah tersebut mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. Panen pada awal musim hujan ini mulai berlangsung pekan lalu.

Menurut Hasnan Habib (34), petani di Rantau Bayur, dia memulai tanam padi tiga bulan lalu. Akan tetapi, tanaman padi yang tumbuh dan berisi bulir hanya sekitar 30 persen. “Lainnya mati saat berusia 2,5 bulan. Sisanya memang tumbuh, tetapi tidak berisi bulir padi,” katanya.

Hasnan dan petani lain menduga benih padi merek Ciherang yang dibeli Rp 27.000 per kantong isi lima kilogram itu palsu.

Staf Balai Perbenihan Sumatera Selatan Naidi Nalim membenarkan adanya peredaran benih padi palsu merek Ciherang. Pihaknya sudah melaporkan kasus peredaran benih palsu itu ke Kepolisian Daerah Sumsel.

Naidi mensinyalir benih palsu diproduksi di Palembang, dan diedarkan ke sejumlah kabupaten di Sumsel, termasuk di Banyuasin. Benih palsu tersebut dikemas dengan kantong berkapasitas lima kilogram dengan logo Sri Pelita Subang, Jawa Barat.

Swasembada beras
Benih padi palsu diduga beredar pula di daerah lain di Indonesia, sehingga mengancam produksi padi nasional. Padahal Deptan saat ini berambisi agar Indonesia dapat segera swasembada beras. Oleh karena itu, produksi pertanian harus ditingkatkan.

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi padi adalah dengan memperkuat distribusi pupuk. Konsumsi pupuk pun perlu ditambah agar produksi pertanian bisa meningkat.

Produksi pupuk juga harus ditambah karena kebutuhan pada 2008 diprediksi naik. “Kebutuhan pupuk urea 2008 diperkirakan 4,5 juta ton,” kata Menteri Pertanian Anton Apriyanto kepada wartawan, seusai bertemu direksi PT Pupuk Kalimantan Timur, Selasa (6/11) di Bontang.

Selain itu, lanjut Anton, pada 2007 kebutuhan pupuk SP 36 sekitar 1,3 juta ton, NPK 1 juta ton, dan organik 500.000 ton.

Meningkatnya konsumsi pupuk, ungkap Anton, akan membantu peningkatan produksi gabah kering giling (GKG) tahun depan menjadi 56 juta ton. (oni/bro)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s