Jagung, Sebuah Contoh Keruwetan

Sumber Kompas

Hermas E Prabowo

Jagung boleh jadi salah satu komoditas pertanian yang paling “rentan” saat ini. Dua puluh tahun lalu, jagung belum menjadi komoditas menarik. Konsumsi jagung masih didominasi kebutuhan pangan.

Saking tidak populernya jagung kala itu, orang makan jagung dianggap terbelakang. Pelan tetapi pasti, dominasi nasi jagung untuk memenuhi kebutuhan warga pedesaan bergeser ke beras.

Ketika kesadaran bangsa ini mulai tumbuh untuk memenuhi kebutuhan protein cukup bagi warganya, industri peternakan tumbuh. Maklum, telur dan daging ayam merupakan jenis protein termurah yang mudah dijangkau, bahkan oleh masyarakat miskin sekalipun.

Sebagai gambaran, harga tiap gram protein telur hanya Rp 75 atau sama dengan harga per gram protein tahu. Namun, kandungan protein telur lebih besar 12,5 persen dibandingkan dengan tahu yang hanya 7,5 persen.

Harga per gram protein daging ayam pedaging sedikit lebih mahal atau sebesar Rp 85. Kandungan protein mencapai 18,5 persen atau sedikit di bawah daging sapi. Namun, harga telur dan daging ayam jauh di bawah daging sapi yang mencapai Rp 45.000 per kg.

Tingginya kandungan protein dalam telur dan ayam menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya industri unggas. Oleh karena itu, investasi di sektor ini mengalir deras. Total nilai investasi industri unggas saat ini sudah mencapai Rp 7 triliun.

Dengan “mempekerjakan” sekitar 2,5 juta orang dan menanggung hidup 10 juta jiwa, industri unggas makin kuat dan terus berkembang. Konsekuensinya, kebutuhan bahan baku pakan melonjak. Tahun 2016 industri pakan bahkan butuh 6,25 juta ton jagung atau naik 2,65 juta ton dari kebutuhan tahun 2006.

Pertanyaannya, dari mana kebutuhan jagung itu akan dipenuhi ketika produksi jagung dalam negeri tak kunjung naik?

Selalu sama
“Produk unggas akan sulit bersaing dalam era global ketika pakan masih bergantung impor,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Perunggasan Indonesia (GPPI) Anton J Supit dengan nada gelisah.

Kegelisahan Anton cukup beralasan mengingat harga bahan baku pakan terus naik. Harga jagung dunia di pasar Amerika Serikat yang pada Januari 2006 hanya 145 dollar AS per ton sampai September 2007 naik 125 dollar AS menjadi 270 dollar AS. Pada periode yang sama, jagung Argentina naik dari 137 dollar AS menjadi 265 dollar AS.

Naiknya harga jagung dunia mendorong industri pakan mengalihkan permintaan jagung dalam negeri. Akibatnya, jagung lokal juga terkerek, dari semula Rp 1.450 menjadi Rp 2.400 per kilogram.

Persoalan jagung dari tahun ke tahun selalu sama dan selalu tidak pernah teratasi. Produksi jagung nasional bersifat musiman, kualitas bervariasi, dan skala usaha kecil. Sementara industri pakan ternak menghendaki pasokan yang mengalir, kualitas yang standar, dengan skala usaha menengah dan besar.

Pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kelangsungan produksi jagung sebagai upaya menjaga kelangsungan hidup industri unggas kerap lepas tangan.

Dengan segala kelemahan yang sengaja dieksploitasi, pemerintah selalu angkat tangan jika dituntut membenahi tiga persoalan itu. Pemerintah malah mencoba membagi beban tanggung jawab dengan menyatakan kalau swasta juga bertanggung jawab atas kelangsungan produksi jagung lokal.

“Seharusnya swasta juga ikut mendorong pertumbuhan jagung lokal. Produksi jagung lokal harus diserap, jangan mencari mudahnya saja dengan impor begitu,” kata Dirjen Tanaman Pangan Sutarto Alimoeso. Hal sama juga diungkapkan Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Djoko Said Damardjati.

Di negara mana pun di dunia, sebuah industri memerlukan jaminan pasokan bahan baku. Para pengusaha telah dengan susah payah menciptakan lapangan pekerjaan bagi bangsa ini untuk kelangsungan hidup warganya, tetapi di sisi lain pemerintah enggan memberikan jaminan suplai jagung yang layak.

Akibatnya, industri harus turun tangan sendiri. Membina petani dan memberikan jaminan permodalan agar suplai jagung lancar. Kondisi ini tak ayal menciptakan biaya produksi yang tinggi, yang ujung-ujungnya akan berdampak pada harga telur dan daging. Padahal, konsumsi per kapita daging ayam bangsa Indonesia tahun 2006 hanya 4,5 kg, jauh di bawah Filipina yang mencapai 8,5 kg atau Thailand 14 kg. Jangan bandingkan dengan Singapura dan Malaysia yang berturut-turut sebesar 28 kg dan 38,5 kg. Konsumsi per kapita ayam Indonesia hanya sedikit di atas Myanmar, yaitu 4 kg.

Rendahnya konsumsi telur karena rendahnya daya beli masyarakat. Naiknya harga protein akan memperlambat peningkatan kecerdasan bangsa, yang pada gilirannya akan menumpulkan persaingan antarbangsa. Padahal, tidak ada yang sulit apabila pemerintah mau benar-benar menggerakkan usaha tani jagung. Solusinya tentu bagaimana membangun tempat penyimpanan dan pengeringan jagung serta infrastruktur jalan dan pelabuhan curah.

Konsep berpikir yang seharusnya dipakai adalah dengan membangun tempat pengeringan dan penyimpanan jagung akan memberikan jaminan harga yang baik bagi petani. Jika harga jagung terus membaik, petani bergairah menanam jagung. Peningkatan produksi pun dengan mudah dicapai.

Namun, konsep berpikir pemerintah sepertinya bertolak belakang. Pembangunan sarana pengeringan dan penyimpanan hanya membuat enak industri pakan. Mereka tinggal memetik hasilnya saja.

Akan tetapi, bukankah sebenarnya keuntungan industri juga menguntungkan masyarakat? Industri yang berkembang pesat akan menyerap banyak tenaga kerja sehingga roda ekonomi bisa bergerak.

Pola pikir lama memang harus diubah. Jika tidak, membangun 57 tempat penyimpanan dan pengeringan jagung dengan kapasitas sekitar 4.000 ton saja sudah dianggap sebagai sebuah keberhasilan. Padahal, produksi jagung nasional diperkirakan mencapai 12,44 juta ton.

Tarik-menarik
Persoalan yang selalu dikeluhkan petani jagung adalah rendahnya harga jual. Tahun lalu, harga jagung hanya 1.000 per kg. Memang ada kenaikan tahun ini, tetapi bukan karena membaiknya sistem tata niaga perjagungan nasional, tetapi lebih karena tertolong dampak melonjaknya harga jagung dunia akibat kebijakan energi alternatif.

Harga minyak mentah dunia yang tinggi mendorong konversi energi alternatif ke etanol dan biodiesel. Jagung adalah bahan baku etanol, dengan begitu komoditas jagung di pasar dunia lebih diminati. Dan, Indonesia terkena dampak positif dari kenaikan itu.

Pada kenyataannya, sistem tata niaga jagung tak pernah berubah. Kondisi ini membahayakan bagi ketahanan jagung nasional, setidaknya bagi industri peternakan. Tanpa diimbangi produksi yang tinggi, industri peternakan akan semakin lama terjepit harga jagung. Akibatnya, harga produk ternak naik.

Jika bangsa ini mau, menggenjot produksi jagung lokal akan sangat menguntungkan. Pasalnya, perdagangan ekspor-impor jagung akan berlangsung dalam volume tanpa batas. Berapa pun produksi jagung nasional akan terserap di pasar dunia.

Lalu apa persoalannya? Lagi-lagi masalah lahan dan produktivitas. Dari dulu lahan tanaman jagung nyaris tak pernah berkembang, sekitar 3,3 hektar. Produktivitas juga tidak bertumbuh signifikan. Tengoklah produktivitas jagung di negara-negara maju yang rata-rata di atas 8 ton per hektar.

Bangsa ini memang selalu terlambat mengantisipasi. Ketika dunia membutuhkan banyak jagung, kita hanya bisa menonton tanpa bisa menikmati. Bahkan, jika tidak segera menaikkan produksi, industri peternakan di negeri ini akan akan jadi tumbal.

4 responses to “Jagung, Sebuah Contoh Keruwetan

  1. produk si jagung saat ini memeng cenderung memang kurang mendapat perhatiaan dipasar. namun perlu adanya penuntunan tentang pengelolaan jagung terlebih dahulu kepada masyarakat baik oleh pemerintah maupun pihak swasta. hal itu tentang kegunaan, kemudahaan dan potensi yang ada. sebab dengan demikian masyrakat akan lebih mudah terpengaruh atau terpacu untuk produksi jagung tersebut.
    pemerintah bisa melalu web, brosur, atau pelatiahan2. intinya daya gugah untuk produksi perlu ditingkatkan. dan apabila hal ini dapat tersosialisasikan dengan baik, maka langkah berikutnya adalah……🙂

  2. F Alexander Ferry W

    masalah utama di indonesia untuk jagung
    yaitu keamanan, infrastruktur,mekanisasi, pupuk, penyimpanan dan pengeringan jagung

    anda mau tanam jagung ayo gabung dng saya

    08121909697/alex

  3. salam\
    apakah ada yang bisa bantu untuk proses pembuatan bio kultur.saya ucapan terimaksih dan sangat berarti bagi kami\

    wasalam

  4. salam..
    saat ini saya menjual CD cara bertani jagung yang benar, hanya dengan harga 60 ribu (sudah ongkos kirim).
    CD bukan berisi ebook PDF atau paparan data melainkan video interaktif/audio visual bagaimana prakteknyalangsung di lapangan.
    dan tersedia juga buku panduannya (berwarna dan bergambar) harga 60 ribu.
    jika berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.
    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s