Salak Pondoh Organik Raih Sertifikasi Prima 3

Sumber Kompas

SLEMAN, KOMPAS – Salak pondoh organik produksi Kelompok Tani Duri Kencana di Dusun Trumpon, Merdikorejo, Tempel, memperoleh sertifikasi Prima 3 dari Departemen Pertanian. Salak pondoh yang dibudidayakan tanpa menggunakan bahan-bahan kimia itu dinyatakan sehat untuk dikonsumsi karena level residu pestisida di bawah ambang batas.

Ketua Kelompok Tani Duri Kencana Musrin mengungkapkan, secara fisik salak pondoh organik memang tidak berbeda dengan salak pondoh pada umumnya. “Bentuk dan warnanya memang sama. Namun, salak pondoh organik lebih sehat untuk dikonsumsi karena sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida,” kata Musrin, Jumat (11/1) di Sleman.

Selain disukai pembeli karena rasa yang lebih manis, salak pondoh organik juga lebih tahan lama dibandingkan dengan salak nonorganik. Setelah dipetik, salak organik bisa tahan sampai setengah bulan, lebih lama dari daya tahan salak nonorganik yang rata-rata hanya satu minggu.

“Budidaya salak secara organik yang kami rintis sejak tahun 2004 juga menguntungkan karena terbukti mampu mengembalikan kesuburan tanah. Kalau dulu humus sepertinya sudah habis di tanah kami, saat ini tanah sudah gembur lagi. Produktivitas pun lebih stabil,” tutur Musrin.

Belum banyak dikenal
Dari 86 anggota Kelompok Tani Duri Kencana, saat ini semua mempraktikkan pola pertanian organik dengan sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia. Tiap hektar kebun rata-rata memiliki 2.500 rumpun salak yang masing-masing rumpun mampu menghasilkan sekitar lima kilogram salak per tahun. Sebagian besar petani di Trumpon sendiri menanam salak pondoh jenis super yang saat ini dijual Rp 3.000 per kilogram.

Meskipun lebih menyehatkan, salak pondoh organik belum banyak dikenal masyarakat luas.

“Masih dibutuhkan waktu untuk membangun pasar khusus bagi penjualan salak pondoh organik, seperti di swalayan tertentu, misalnya. Para pengepul juga perlu disiapkan untuk itu,” tutur Musrin.

Warsiah (55), petani salak pondoh organik lain di Dusun Ngemplong, Girikerto, Turi, juga mengakui tantangan pemasaran tersebut. Menurut dia, sampai saat ini belum banyak petani salak organik di wilayahnya sehingga posisi mereka juga tidak cukup kuat untuk ikut menentukan harga di pasar. (DYA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s