Seren Taun: Bentuk Aktualisasi Sosial Budaya dalam Pertanian Organis

Sumber Siaran Pers

Cijulang, sebuah kampung kecil di kaki Gunung Salak, hanya sekitar 75 km dari Ibukota Jakarta, tengah bergeliat  dengan kearifan lokal petani organik melalui kebudayaan  “Seren Taun”. Di tengah derasnya arus globalisasi, upacara ini masih dilestarikan oleh warganya. Tak heran jika sistem pertanian organik masih dapat dijumpai di kawasan yang terletak di kaki Gunung Salak ini.

Sistem PO secara kultural sebenarnya sudah mengakar lama di Indonesia. Bentuk teknik-teknik pertanian yang diterapkan nenek moyang sebenarnya banyak diserap menjadi beberapa teknik yang sekarang dikenal sebagai teknik pertanian organik. Keterkaitan pertanian dengan ritual budaya di Indonesia cukup kental, salah satu bentuk  ritual budaya lokal di tatar Sunda adalah acara Seren Taun yang merupakan wujud penghormatan dan rasa syukur dari masyarakat petani di Jawa Barat terhadap Alam dan Tuhan yang telah memberikan kelimpahan rahmat-Nya melalui tanah yang subur dan hasil bumi berupa sayuran, buah-buahan dan umbi-umbian (Sikep hejo buah beti). Serta adanya harapan dan doa agar untuk pertanian yang akan dilakukan pada  tahun depan dapat melimpah juga seperti tahun-tahun sebelumnya.

”Gagasan acara ini adalah sebagai bentuk counter paradigma atas kecenderungan main straem pertanian organis yang sekarang ini lebih mengarah pada bisnis semata tanpa memperhatikan aspek sosio kultural di masyarakat,” ungkap Gandhi Bayu, koordinator acara Seren Taun yang dilaksanakan di kampung Cijulang, Minggu 13 Januari 2008.

Pertanian Organik (PO) dipandang sebagai suatu idiologi dari gerakan bersama yang mendorong basis petani-petani skala kecil agar mau menerapkan kembali sistem pertanian yang lebih mengedepankan penggunaan bibit lokal, pupuk bahan organik setempat dan pengendalian hama penyakit terpadu secara alami.  Namun gerakan PO di tingkat petani/kelompok petani organik skala kecil, pada praktek produksinya masih banyak menghadapi berbagai kendala yaitu keterbatasan kepemilikan sumberdaya produksi organik (lahan, tenaga kerja, ternak, sumber air, teknologi dan dana usaha).

Seperti yang juga banyak terjadi di kampung lain di Indonesia, petani organik Cijulang ini menghadapi kenyataan bahwa  ketersediaan air yang menjadi hal mutlak dalam produksi organik, terutama jenis tanaman sayuran dan padi, tengah terancam oleh  semakin meningkatnya eksploitasi air terutama di mata air sekitar lereng Gunung Salak salah satunya di Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor. Bila fenomena ini dibiarkan saja oleh pemerintah setempat dan tidak segera membuat pengaturan pemanfaatan air yang adil bagi masyarakat sekitar, maka hal ini akan menjadi ancaman bagi tersendatnya atau berhentinya produksi organik.

Dan walaupun pemerintah telah mencanangkan gerakan ”Go Organik 2010” sejak tahun 2000 dengan menentukan beberapa kabupaten dan kota di Indonesia sebagai perintisan PO, salah satunya di Kabupaten Bogor dan Kota Bogor, tetapi ternyata pada pelaksanaannya belum memperlihatkan hasil yang menggembirakan sehingga publik memandang bahwa pemerintah belum terlalu serius mendorong gerakan pertanian organik. Oleh karenanya , ”Go Organik 2010”  masih dipandang sebagai sekedar jargon yang belum menyentuh masalah substansi yaitu peningkatan kesejahteraan petani Indonesia, terutama petani kecil.

One response to “Seren Taun: Bentuk Aktualisasi Sosial Budaya dalam Pertanian Organis

  1. sebuah kearifan lokal yang harus dikembangkan dalam menghadapi globalisasi. sangat menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s