Mitigasi Perubahan Iklim dengan Pertanian Organik dan Distribusi Lokal

Sumber Beritabumi.or.id

Oleh Ani Purwati

Pertanian organik sebagai sistem pertanian berkelanjutan ternyata tidak hanya menghasilkan produk yang sehat. Pertanian yang mengutamakan keselarasan alam ini juga mempunyai potensi dalam mitigasi perubahan iklim (climate change). Melalui Siaran Pers ISIS (31/1), Dr Mae-Wan Ho dan Lim Li Ching menyebutkan pertanian organik mampu mengurangi sekitar 30 persen emisi gas rumah kaca (greenhouse gasses) dan menghemat 16 persen energi global.

Potensi terbesar berasal dari penyerapan karbon 11%, sistem lokalisasi distribusi pangan akan mengurangi transport 10%, mengurangi proses dan pengepakan 1,5%, tanpa penggunaan pupuk N akan mengurangi emisi nitroksida 5% dan menghilangkan energi fosil.

Laporan United Nations Food and Agriculture Organisation (FAO) 2002 menyebutkan, pertanian organik menyebabkan ekosistem mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim dan berpotensi mengurangi gas rumah kaca pertanian. Pertanian organik juga lebih efisien daripada pertanian konvensional per skala hektar berkaitan dengan konsumsi energi fosil ataupun pupuk buatan dan pestisida.

Hemat Energi
Sejak 1999, uji coba jangka panjang Rodale Institute’s di Amerika Serikat (AS) juga menyebutkan bahwa penggunaan energi dalam sistem konvensional 200 persen lebih tinggi daripada dua sistem organik (dengan pupuk kandang dan hijau serta hanya dengan pupuk hijau) dengan hasil panen yang tidak berbeda jauh.

Hasil studi di Denmark menunjukkan, energi dalam produksi susu organik lebih rendah dari susu konvensional dan untuk pengembangan barley organik, energinya 35 persen lebih rendah daripada konvensional.

Pada 2002, pertanian Inggris menggunakan energi sekitar 2,7 persen dan sekitar 1,8 persen mengeluarkan emisi gas rumah kaca. Sebagian besar (76,2 persen) merupakan energi tidak langsung dari pembuatan dan transportasi pupuk, pestisida, mesin pertanian, pakan ternak dan obat tanaman.

Sisanya 23,8 persen merupakan energi langsung pada pertanian untuk menggerakkan traktor dan mengkombinasi mesin penuai, mengeringkan hasil panen, pemanasan dan penerangan rumah kaca, pemanasan dan ventilasi ternak babi dan ayam. Pemupukan nitrogen membutuhkan input energi yang besar sekitar 53,7 persen dari total energi. Maka dengan menghilangkan pupuk nitrogen akan menghemat 1,5 persen penggunaan energi nasional dan satu persen emisi GRK nasional.

Pertanian organik tentu lebih efisien dalam energi karena tidak menggunakan pupuk kimia buatan. Asosiasi Lahan menemukan bahwa pertanian organik di Inggris lebih efisien sekitar 26 persen dalam penggunaan energi per ton produksi daripada pertanian konvensional, termasuk pengembangan tomat dalam pemanasan rumah kaca.

Di tengah kenaikan harga minyak pada 2006, petani di seluruh dunia sangat khawatir akan konsekuensi peningkatan biaya produksi. David Pimental di Universitas Cornell, New York, Amerika Serikat menyampaikan kajiannya tentang pertanian organik yang dapat mengurangi ketergantungan pada energi dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi per unit produksi.

Pada seluruh pengembangan lahan di dunia, energi fosil diinvestasikan dalam produksi pertanian. Rata-rata di AS, sekitar dua unit energi fosil diinvestasikan untuk memanen per unit energi hasil panen. Ini berarti AS menggunakan lebih dari dua kali sejumlah energi fosil daripada energi matahari yang diserap tanaman, sehingga pertaniannya tidak mungkin mendukung apapun seperti produksi biofuel yang dipromosikan George W. Bush.

Berdasarkan perhitungan semua input energi fosil dalam sistem jagung organik, outputnya lebih besar daripada input dengan perbandingan 5,79 (yaitu mendapatkan 5,79 unit energi jagung untuk setiap unit energi yang dikeluarkan). Sedangkan sistem konvensionl hanya 3,99. Sistem organik menyerap energi matahari 180 persen lebih daripada konvensional. Input total energi juga berkurang 31 persen atau 64 gallons energi fosil tersimpan per hektar. Jika 10 persen dari seluruh jagung AS dikembangkan secara organik, negara tersebut akan menyimpan sama dengan sekitar 200 juta gallons minyak.

Kedelai organik menghasilkan 3,84 kilokalori energi makanan per kilo energi fosil yang digunakan dibandingkan 3,19 dalam sistem konvensional dan input energi 17 persen lebih rendah dari konvensional. Sapi organik memerlukan 50 persen lebih rendah energi fosil daripada konvensional.

Kurangi Emisi GRK
Secara global menurut IPCC 2005, diperkirakan secara langsung pertanian berkontribusi 11 persen total emisi gas GRK. Total emisi 6,1 Gt CO2e tersusun atas CH4 (3,3 Gt) dan N2O (2,8 Gt).

Di Amerika Serikat, pertanian berkontribusi 7,4 persen emisi GRK secara nasional. Di Inggris, pertanian diperkirakan berkontribusi 7,4 persen emisi GRK nasional dengan persiapan pemupukan 1 persen terdiri dari metana 37,5 persen total nasional dan nitroksida sekitar 95 persen total nasional. Fermentasi pencernaan ternak bertanggungjawab atas 86 persen kontribusi metana dari pertanian, sisanya dari pupuk, sedangkan emisi nitroksida didominasi oleh aplikasi pupuk sintetis 28 persen dan pelarutan pupuk nitrogen serta aplikasi pupuk kandang ke air permukaan dan sekitarnya 27 persen.

Diasumsikan setengah dari seluruh emisi nitroksida berasal dari pupuk N, menghilangkannya akan menghemat 11.56 Mt CO2e. Ini setara dengan 1,5 persen emisi GRK nasional. Total GRK yang berkurang dari penghilangan pupuk N sekitar 2,5 persen emisi nasional Inggris. Inggris bukanlah pengguna pupuk N dibandingkan negara lain, namun secara global dengan menghilangkan pupuk N akan menghemat sedikitnya 5 persen GRK dunia.

FAO mengatakan, pertanian organik lebih sedikit memancarkan nitroksida (N2O). Ini terkait dengan lebih sedikitnya input N, lebih sedikit N pupuk organik dari ternak yang lebih rendah kepadatannya, lebih tinggi ratio C/N dalam pupuk organik memberi sedikit mineral N di tanah sebagai sumber denitrifikasi dan penyerapan N tanah yang lebih efisien dengan menggunakan tanaman penutup.

Emisi gas rumah kaca dikalkulasi 48-46 lebih rendah per hektar dalam sistem pertanian organik di Eropa tanpa pupuk N kimia buatan, menggunakan sedikit energi, sedikit input pupuk P dan K kimia, meninggalkan pestisida.

Menyimpan Karbon
Pertanian berkelanjutan membantu menstabilkan perubahan iklim dengan mempertahankan kualitas tanah organik seperti mengurangi erosi tanah dan meningkatkan struktur fisik tanah. Tanah organik akan lebih baik menyimpan air sehingga dapat menahan dampak perubahan iklim seperti kekeringan dan banjir.

Hasil studi 20 perusahaan komersial California menemukan bahwa lahan organik mengandung 28 persen lebih karbon organik. Demikian juga hasil uji coba Rodale Institute bahwa karbon tanah meningkat pada sistem organik setelah 15 tahun namun tidak pada sistem konvensional. Setelah 22 tahun, sistem pertanian organik rata-rata 30 persen lebih tinggi kandungan organiknya daripada sistem konvensional.

Menurut hasil penelitian Broadbalk di Rothamsted Experimental Station diperkirakan 4 ton CO2 dapat tersimpan pada tiap hektar tanah organik setiap tahun. Sehingga sistem organik di Inggris dapat menyimpan 68 Mt CO2 atau 10,35 persen emisi GRK tiap tahun. Begitu pun di Amerika Serikat jika kengkonversi 65 juta hektar lahannya ke organik akan menyimpan 260 Mt CO2 tiap tahun.

Secara global dengan 1.5335 milyar hektar lahan secara organik, diperkirakan 6134 Gt CO2 dapat tersimpan tiap tahun, sama dengan 11 persen lebih emisi global dari pertanian.

One response to “Mitigasi Perubahan Iklim dengan Pertanian Organik dan Distribusi Lokal

  1. Meirna sachrawati

    apakah co2 dan o2 di dalam distem pertanian termasuk energi non ekonomis dalam proses respirasi dan fotosintesis sama dalam hal kualitasnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s