Gunakan Kedelai Hitam dan Kacang Hijau

Sumber Kompas

Surabaya, Kompas – Perajin tempe bisa mengganti bahan baku kedelai putih yang harganya semakin mahal dengan kedelai hitam dan kacang hijau. Beragam jenis kacang-kacangan lain juga bisa dipakai sebagai bahan baku tempe.

Pakar teknologi pangan dari Universitas Brawijaya, Malang, Nur Hidayat, mengatakan, sebenarnya semua jenis kacang-kacangan bisa dipakai untuk membuat tempe. Tetapi, saat ini hanya kedelai hitam dan kacang hijau yang paling mudah digunakan. “Jumlah produksi kedua jenis tumbuhan itu bisa memenuhi kebutuhan pembuat tempe,” ujarnya dari Malang, Selasa (15/1).

Kedua jenis kacang tersebut juga biasa dipasok petani dalam negeri sehingga tidak perlu khawatir terpengaruh kenaikan harga di pasar global. “Harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan kedelai kuning saat ini,” tuturnya.

Memang, rasa tempe dari kedua kacang itu berbeda dibandingkan dengan tempe kedelai kuning. Kalaupun ingin lebih terasa seperti tempe sekarang, bisa dicampur dengan sedikit kedelai kuning.

Pengurus Yayasan Tempe Indonesia, Arsiniati M Brata, mengatakan, sebagai alternatif bisa juga dipilih kacang koro dan kecipir. Tetapi, kedua jenis kacang itu harus diperkecil ukurannya. “Tempe koro dianggap kurang menarik karena koronya besar-besar. Kalau diperkecil mungkin lebih menarik,” tuturnya.

Di beberapa daerah, tempe berbahan baku demikian sudah dikenal. Namun, tempe-tempe itu memang kurang populer dibandingkan dengan tempe kedelai putih. “Ada banyak alternatif bahan baku bisa dipakai,” ujar guru besar emeritus ilmu gizi Universitas Airlangga itu.

Penggunaan bahan baku alternatif itu lebih baik dibandingkan dengan apa yang dilakukan perajin sekarang ini. Saat ini sebagian perajin mencampur kedelai dengan singkong atau jagung. “Penggunaan campuran itu membuat tempe mengandung karbohidrat. Kandungan karbohidrat membuat tempe berasa asam dan kaya bakteri,” ujarnya. (RAZ)

3 responses to “Gunakan Kedelai Hitam dan Kacang Hijau

  1. salut campur heran sama para pengusaha tempe itu, kepikiran (baca:kreatif?) menggunakan tambahan singkong… meski ternyata ga mendasar, apa sudah segitu frustasinya krn harga kdelai tinggi atau memang terlalu kreatif (ktnya otak manusia tiba2 bisa menghasilkan ide2 gila pd situasi mndesak atau didesak…), apapun itu.
    artikel ini menarik skali, alternatif solusi konkret drpd (sambil…) menunggu pemerintah bergerak, atau hanya mengutuki kegelapan, lebih baik ambil lilin dan nyalakan bukan?
    pertanyaannya,kenapa bisa kurang populer ya? apa ini masalah kebiasaan atau (ternyata) politik kedelai itu…penelitian sudah banyak, di kampus saya juga sepertinya hanya jadi ‘pengisi’ perpus saja, yayasan tempe juga (ternyata lagi) sudah ada…jadi?
    wahai para mahasiswa2, dosen, praktisi teknologi pangan, inilah lahan kalian…

  2. betul yg sdr nisa bilang…
    penelitian harusnya di ikuti langkah penerapan di lapangan, entah siapa yang harusnya nglakuin. tapi kalo ada niat, pasti ada jalan. dunia akademisi harusnya bisa ngembangin itu daripada minta duit terus2an dari mahasiswa kan bisa ngolah lahan yang tersedia di kampus

  3. kenapa tdk dgn koro pedang.kadar protein sama dgn kedelai. ayo tanam koro pedang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s