Kebijakan soal Kedelai Absurd, Swasta Didorong Tanpa Insentif

Sumber Kompas

Jakarta, Kompas – Kebijakan pemerintah menurunkan tarif impor kedelai menjadi 0 persen merupakan kebijakan yang absurd dan lucu karena tidak mempunyai efek apa pun terhadap harga dan kelangkaan kedelai saat ini. Kebijakan tersebut diambil seolah-olah pemerintah bekerja untuk mengatasi masalah ini.

Penilaian tersebut disampaikan Didik J Rachbini, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional (PAN), di Jakarta, Selasa (15/1).

“Kasus ini menunjukkan adanya kebijakan kosong dalam hal ketahanan pangan, khususnya untuk kedelai yang menjadi bahan baku tempe sebagai makanan rakyat yang sudah mendarah daging,” ujar Didik yang juga anggota DPR.

Menurut Didik, sistem produksi kedelai hancur karena kebijakan pemerintah terhadap sistem komoditas ini adalah kebijakan pembiaran, yang tidak memberi stimulasi terhadap petani untuk mendapat insentif keuntungan dalam berproduksi.

Didik mengusulkan agar pemerintah membangun kebijakan baru dengan menciptakan stimulasi dan insentif yang baik melalui tarif yang tinggi pada saat harga turun.

“Ketika harga naik, maka tarif dilepas untuk memberi kemungkinan menurunkan harga tetapi tetap memberi insentif untuk berproduksi,” katanya.

Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada wartawan setelah memimpin rapat terbatas dengan menteri dan jajaran eselon I Departemen Pertanian mengungkapkan, perlunya perajin tempe-tahu beradaptasi menghadapi kenaikan harga kedelai di pasar dunia.

Bagaimana pun, ujar Presiden, kenaikan harga kedelai sampai 100 persen dapat menimbulkan guncangan pada industri berbasis kedelai di Tanah Air.

Rapat yang berlangsung empat jam itu dihadiri Wapres Jusuf Kalla dan sejumlah menteri di antaranya Menko Perekonomian Boediono, Menko Kesra Aburizal Bakri, dan Menteri Pertanian Anton Apriyantono.

Presiden mengatakan, dalam mengatasi kenaikan harga kedelai di pasar dunia dalam jangka pendek pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan. Di antaranya menurunkan bea masuk impor dari 10 persen menjadi 0 persen.

Selain itu juga mencoba mencari alternatif sumber impor lain yang lebih murah. Terkait tidak logisnya tingkat kenaikan harga kedelai di pasar domestik dibanding harga kedelai di pasar dunia, Presiden menyatakan pihaknya akan melakukan komunikasi intensif dengan para importir.

Tujuannya, agar para importir juga bisa memahami kondisi para perajin dan bisa menyelamatkan usaha mereka serta mencegah terjadinya guncangan di perdagangan kedelai dalam negeri.

Terlalu banyak impor
Gubernur Provinsi DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X menyatakan, pemerintah pusat seharusnya sudah bisa mengantisipasi melonjaknya harga kedelai sejak awal.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kan telah mengeluarkan perkiraan pada bulan Agustus tahun lalu bahwa persediaan pangan dan kacang-kacangan, ketela untuk kebutuhan dunia akan menurun karena sebagian dipindahkan untuk pembuatan biodisel dan metanol akibat harga minyak yang makin mahal. Karena itu, persoalan ini harusnya bisa diantisipasi pemerintah sejak awal,” ungkap Sultan HB X.
Krisis harga kedelai, menurut Sultan, akibat Indonesia juga terlalu banyak melakukan impor kedelai dan tidak banyak memproduksi sendiri. Petani enggan menanam kedelai karena tidak menguntungkan dan tidak ada jaminan harga.

Sementara itu, Mentan Anton Apriyantono mengatakan, perlu peran swasta untuk mendorong peningkatan produksi kedelai.

Menurut Mentan, tingkat harga kedelai yang saat ini 600 dollar AS per ton, amat menjanjikan bagi siapa saja yang hendak berinvestasi dalam budidaya kedelai. Dengan kenaikan harga lebih dari 100 persen, usaha menanam kedelai akan mendapatkan keuntungan yang besar. Selama ini petani enggan menanam kedelai karena harganya rendah.

Persoalannya, menanam kedelai tidak serta merta bisa dilakukan. Petani juga membutuhkan proses, pendidikan, dan kesiapan lahan pertanian.

Tanaman sekunder
Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Departemen Pertanian Tjuk Eko Hari Basuki mengatakan, tanaman kedelai di Indonesia masih menjadi tanaman sekunder di kalangan petani.

Akibatnya, perlakuan atas kedelai belum maksimal sehingga hasil pertanian kedelai juga belum optimal.

Masa penanaman kedelai ini, menurut Tjuk, masih dilakukan pada musim kemarau. Ditambah dengan perlakuan yang minim selama masa perawatan, maka jumlah kedelai yang dipanen masih tergolong sedikit.

Ketua DPR Agung Laksono dalam kunjungan kerja ke Bandar Lampung mengemukakan, penurunan BM kedelai harus diawasi supaya tidak dimanfaatkan oleh para importir kedelai. Setelah harga turun, pemerintah harus melakukan normalisasi.

Berdasarkan analisa dari Goldman Sachs Group Inc dan Deutsche Bank AG, sebagaimana diberitakan Bloomberg, harga kedelai saat ini merupakan angka tertinggi dalam 34 tahun terakhir, setelah pernah mengalami puncaknya pada tahun 1974.

Harga tertinggi itu terjadi pada 28 Desember 2007. Rekor harga kedelai tercatat 13,1025 per bushel, tertinggi sejak 5 Juni 1973 yang tercatat 12.90 dollar AS, di Bursa Komoditas Chicago.

Di bursa komoditas berjangka Chicago, AS, Senin, harga kedelai untuk penyerahan Maret 2008 turun menjadi 12,965 per satu bushel (ukuran volume yang berlaku umum di AS, yang setara dengan 2.150,42 inci kubik atau 35,24 liter). (REUTERS/AP/AFP/MON/MAS/ HAR/ART/ADH/LSD/MKN/ADH/ RWN/DYA/HLN/SF/WIN/NEL/ RTS/GUN)

One response to “Kebijakan soal Kedelai Absurd, Swasta Didorong Tanpa Insentif

  1. so far so good…..
    ak setuju sama pendapat mas….dengan berita-berita di dalamnya
    kenapa ya pemerintah selalu berpikir jangka pendek???
    Padahal ini bukan hanya permasalahan selama 5 tahunan saja….kan ini permasalahan yang terus menerus terjadi setiap ganti presiden dan kabinet….
    Apa mungkin LoI itu bisa kita “langgar”
    dengan tetap proteksi petani?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s