Mental Tempe dan Hak-hak Rakyat

Sumber Kompas edisi Yogyakarta
Kamis, 17 Januari 2008

Oleh: Thomas Pudjo Widijanto

Tahu-tahu tempe/asale mung saka dele/najan barang sepele/kabeh- kabeh mbutuhake jalaran murah regane/tahu- tahu tempe…. Tahu-tahu tempe/ berasal dari kedelai/biar barang sepele/semua membutuhkan/ karena murah harganya….

Syair tembang karya dalang Ki Nartosabdo itu akrab sekali di telinga orang Jawa sejak awal 1970-an. Lagu itu serasa kurang pas lagi ketika belakangan ini harga tempe tidak lagi murah-setidaknya dalam perhitungan warga miskin-karena langkanya kedelai yang memang merupakan hasil impor.

Maka, derita mahalnya harga tempe itu harus disandang Ny Padmo (78), warga Congdongcatur, Depok, Sleman, yang sudah puluhan tahun berjualan khusus melayani tukang becak dan masyarakat bawah di seputar Jalan Suroto, Kotabaru, Yogyakarta.

“Tadinya saya menjual tempe goreng Rp 250 per potong. Tetapi karena mahal, saya naikkan menjadi Rp 500 per potong. Eee, para sopir becak itu pada nggak kuat beli. Terpaksa saya berganti tempe gembus yang harganya bisa Rp 250 per potong,” katanya. Tempe gembus terbuat dari ampas tahu, yang biasanya juga untuk memberi makan hewan babi.

Ya, lagu Ki Nartosabdo itu seperti kehilangan logikanya. Padahal, spirit lagu itu dibuat benar-benar dari napas kerakyatan. Dicipta berdasarkan realitas bahwa tempe dibuat oleh rakyat dan menjadi makanan rakyat. Bukan hanya enak, melainkan murah harganya.

Sudah pasti almarhum Ki Nartosabdo dan juga masyarakat desa tahu cara pembuatan tempe, yang tanpa sentuhan teknologi apa pun. Kedelai cukup dimasukkan dalam tempayan, lalu dicelupkan dalam aliran sungai, kemudian diinjak-injak pemiliknya agar kulit arinya mengelupas dan terbawa air sungai. Setelah dibungkus dengan daun, kedelai itu lalu difermentasi.

Jadi, tempe bukan hanya makanan rakyat, melainkan juga hak rakyat. Tak pernah ada keluhan rakyat kekurangan kedelai kala itu. Begitu murahnya tempe sebagai makanan rakyat, muncullah istilah mental tempe-julukan yang diberikan kepada mereka yang memiliki mental murahan.

Akan tetapi, dalam perjalanan sejarah, tempe ternyata menjadi primadona masyarakat luas. Dari Sabang sampai Merauke makanan tempe hampir dipastikan ada. Kebutuhan kedelai meningkat tajam. Mulai tahun 1980-1990-an muncul monopoli kedelai yang direstui pemerintah dengan berdirinya Koperasi Perajin Tahu-Tempe Indonesia (Kopti).

Sepertinya, kehadiran Kopti yang muncul hampir di setiap kabupaten malah justru seperti menemukan ladang baru untuk mengeruk keuntungan pribadi. Korupsi yang dilakukan pengurus Kopti terjadi di mana-mana. Akhirnya, Kopti dibubarkan.

Bubarnya Kopti, yang ternyata menggunakan mental tempe dalam membina pengusaha tempe, bukan berarti selesainya derita masyarakat pembuat tempe. Kini ketika kedelai menghilang, masyarakat seperti terbiarkan, menunggu keputusan yang tak jelas, seperti menjadi permainan. Rakyat seperti tak punya hak untuk menjadi pengusaha tempe.

Dulu usaha industri kecap atau kacang goreng merupakan usaha rakyat dalam skala ekonomi rumah tangga. Kini kecap atau kacang goreng itu terebut industri-industri besar yang akhirnya membuat produk rakyat itu gulung tikar. Tak ada lagi kecap rakyat. Tak ada lagi kacang rakyat. Yang ada produk kemasan yang berlabel industrial.

Sepertinya usaha-usaha perekonomian rakyat menjadi rebutan ketika berkembang menjadi produk massal. Dengan menghilangnya kedelai, apakah nasib tempe rakyat itu akan tergerogoti pula? Apakah bangun ekonomi rakyat itu akan mendapatkan pembinaan atau malah tercerabut kemudian dengan munculnya tempe-tempe industrial?

Maka, berkatalah Mbok Padmo, “Sopir becak sudah kesulitan makan dengan lauk tempe.” (WAK)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s