Pertanian Berkelanjutan, Pertanian Konservasi

Sumber Sinar Harapan | Jumat, 08 Februari  2008

Oleh Midzon LI Johannis

Konferensi Para Pihak ke-13 dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP-13/-UNFCCC) pada 15 Desember 2007 telah menyepakati Peta Jalan Bali. Walaupun berisi berbagai kompleksitas kerangka kerja, namun esensi dari Bali Road Map adalah semua pihak mengakui secara bulat bahwa pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) merupakan tujuan bersama untuk memitigasi dampak pemanasan global terhadap perubahan iklim bagi kehidupan di planet bumi ini.

Pemanasan global yang diukur dari kenaikan suhu rata-rata dunia, antara lain telah mencairkan es di kutub yang menyebabkan kenaikan permukaan laut, yang mengancam keanekaragaman hayati, maupun gangguan terhadap pola iklim yang sangat berpengaruh terhahap aktivitas manusia, termasuk di bidang pertanian. Pemanasan global terjadi oleh karena adanya penumpukan GRK, seperti gas karbon dioksida (CO2), metan (CH4), dan lain sebagainya, yang telah melebihi titik jenuh di atmosfer.

Menurut United Nation Human Development Report 2007/2008, total emisi GRK adalah sebesar 29 Gt karbondioksida, yang didominasi oleh sektor energi sebesar 24.7 persen, yaitu suatu gabungan jumlah emisi yang berasal dari bidang kelistrikan, manufaktur dan konstruksi, transportasi serta aktifitas berbasis energi lainnya.

Sektor kedua adalah perubahan penggunaan lahan dan kehutanan sebesar 7.6 persen, sektor yang ketiga adalah pertanian sebesar 5.6 persen dan sisanya adalah emisi dari sektor lainnya seperti proses-proses industrial dan limbah. Emisi GRK yang dihasilkan oleh sektor pertanian berasal dari pembukaan dan penyiapan lahan, dekomposisi alamiah dan pembakaran sisa-sisa tanaman (biomass), penggunaan bahan bakar fosil, penggunaan pupuk kimia yang melebihi daya serap tanaman dan lain sebagainya.

Pertanian Berkelanjutan, Pertanian Konservasi
Pemanasan global telah menyebabkan perubahan iklim yang berdampak pada meningkatnya tekanan lingkungan dalam bentuk iregularitas ketersediaan air karena kekeringan dan banjir; degradasi lahan oleh erosi dan pengikisan bahan organik dan mineral tanah; perubahan praktik-praktik pertanian seperti pola tanam, ancaman terhadap kesinambungan produktifitas tanaman, baik itu yang menyangkut kuantitas maupun kualitas, serta perubahan dalam diversifikasi tanaman. Hal ini diramalkan akan mengancam kelangsungan produksi pangan di dunia maupun di Indonesia dalam jangka panjang.

Para ahli telah mengajukan kerangka mitigasi terhadap emisi GRK. Untuk sektor pertanian, International Panel on Climate Change (IPCC) telah merekomendasikan beberapa langkah penting dengan menggunakan teknologi maupun praktik yang saat ini tersedia. Langkah langkah itu antara lain: memperbaiki manajemen lahan pertanian dan ladang penggembalaan untuk meningkatkan penyimpanan karbon di tanah; restorasi lahan gambut dan lahan yang telah rusak.

Memperbaiki teknik-teknik budidaya tanaman padi, manajemen di bidang peternakan dan pemupukan untuk mereduksi emisi gas metan; serta memperbaiki teknik aplikasi pupuk nitrogen untuk mengurangi emisi gas nitrat. Menggunakan energi berbasis tanaman untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil; dan memperbaiki efisiensi energi.

Teknologi dan praktik-praktik seperti itu terangkum dalam konsep Pertanian Berkelanjutan (Sustainable Agriculture), yang pada tingkat implementasinya terjelma di dalam praktik pertanian konservasi (Conservation Agriculture).

Pertanian konservasi yang memperkenalkan olah tanah konservasi, dalam bentuk olah tanah minimum, tanpa olah tanah dan pemanfaatan mulsa. Ini ternyata telah diterapkan pada kurang lebih 100 juta hektar lahan pertanian di dunia, terutama di Amerika Selatan, Amerika Utara serta beberapa negara Afrika. Namun laju adopsi olah tanah konservasi ini melambat dalam satu dekade terakhir ini.

Organisasi Pangan Dunia (FAO) menyayangkan pelambatan ini, karena FAO sendiri telah memprediksi bahwa di masa mendatang olah tanah konservasi akan menggantikan teknik olah tanah konvensional yaitu olah tanah sempurna. Olah tanah sempurna yang biasanya dilakukan secara mekanis dengan cangkul atapun traktor cenderung merusak struktur tanah, sebagai sumber emisi gas karbon atau pun gas metan.

Menurunkan Emisi BBM dan Metan
Oleh tanah konservasi, di samping memiliki keunggulan-keunggulan teknis dan ekonomis, juga menawarkan suatu cara untuk mengurangi emisi GRK serta meningkatkan pengikatan karbon di tanah. Suatu model yang dikembangkan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa diseminasi yang meluas dari olah tanah konservasi dengan mempertahankan 30% residu tanaman pada permukaan lahan pertanian, dapat menetralisir (offset) 16% emisi bahan bakar fosil.

Suatu penelitian pada lahan sawah di Indonesia yang dipresentasikan dalam forum 4th Asia Pacific Weed Science Society di Ho Chi Minh City pada tahun 2005 yang lalu, memperlihatkan penurunan emisi gas metan sebesar 43% jika menerapkan olah tanah konservasi.

Ini membuktikan bahwa peralihan dari praktik olah tanah konvensional menuju olah tanah konservasi secara meluas akan memberikan sumbangan yang besar dalam peningkatan deposit karbon di tanah, yang secara langsung akan meningkatkan kesuburan tanah, serta mengurangi emisi gas metan di atmosfer. Ini merupakan kontribusi sektor pertanian yang sangat berarti dalam upaya mitigasi risiko dari perubahan iklim akibat pemanasan global.

Di Indonesia pertanian konservasi pernah populer di tahun 90-an, namun gerakannya sangat lambat, malah kehilangan momentumnya dan tidak jelas sampai di mana tingkat perkembangannya. Conservation agriculture sangat berarti bagi pertanian Indonesia, karena di luar mengurangi emisi GRK, ia memberikan manfaat praktis yang langsung dapat dinikmati oleh petani dalam hal efisiensi biaya dan energi, mempercepat siklus tanam dan pemanfaatan air, serta meningkatkan kesuburan tanah.

Maka pemerintah perlu memfasilitasi kembali gerakan olah tanah konservasi melalui program-program praktis dan nyata, serta mendukung dalam bentuk sumberdaya finansial maupun penelitian dan penyuluhan, serta merangkul berbagai pihak yang tertarik untuk mengakselerasi gerakan olah tanah konservasi.

Pertanian yang berbasis olah tanah konservasi tidak akan berhasil dikembangkan jika setiap pelaku di sektor ini masih terikat di dalam mind-set olah tanah konvensional. Untuk memperoleh kembali momentum yang telah hilang dibutuhkan motivasi yang besar dan perubahan paradigma dari segenap pihak yang bergerak di sektor pertanian, baik itu pejabat, peneliti, ilmuwan, penyuluh, maupun petani sebagai pelaku langsung pertanian.

Semoga dengan sistem pertanian yang sederhana ini, pemerintah dan masyarakat pertanian Indonesia secara sukarela dapat menyumbangkan sesuatu yang berarti dalam pengurangan emisi GRK dalam konteks pemanasan global dan pembangunan berkelanjutan. Perjalanan yang jauh selalu dimulai dengan langkah pertama.

Penulis adalah pengamat masalah Pertanian. Alumnus IPB. Sekjen Asosiasi Industri Perlindungan Tanaman (Croplife) Indonesia. Tinggal di Bogor.

3 responses to “Pertanian Berkelanjutan, Pertanian Konservasi

  1. Setuju, kami yang mengembangkan TOT tahun 80-90-an. Skarang sudah banyak diadop petani. Tetapi memang pemerintah tdk tanggap. Padahal teknologi ini menguntungkan, melestarikan lahan dan diterima msyarakat.
    MU, Universitas Lampung

  2. Perlu lebih digiatkan lagi dengan peran serta berbagai pihak, beberapa penelitan telah membuktikan manfaat OTK tsb baik dalam rangka konservasi (air,tanah) dan biodiversitas untuk pertanian yang berkelanjutan. MYI, R&D Syngenta

  3. Pingback: MELESTARIKAN LAHAN DENGAN OLAH TANAH KONSERVASI | supriantomuslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s