Diversifikasi Pangan, Masyarakat Menengah Atas Bisa Jadi Pelopor

Sumber Suara Pembaruan

[ JAKARTA] Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, masyarakat yang termasuk ke dalam kelompok menengah atas mestinya bisa menjadi pelopor diversifikasi pangan. Hal itu bisa dikondisikan dengan tidak lagi membiarkan kelompok menengah atas menikmati pangan murah yang justru disubsidi oleh keringat petani. Masyarakat menengah ke atas harus rela membeli pangan dengan harga layak atau menguntungkan petani selaku produsen yang telah menyediakan pangan bagi mereka.

Saat dihubungi SP di Jakarta, Selasa (19/2), Mentan mengatakan, harga pangan yang tidak lagi murah akan mendorong kelas menengah ke atas lebih banyak melakukan diversifikasi dalam konsumsi pangan mereka. Dalam kaitan inilah pemerintah perlu menyediakan banyak pilihan pangan yang layak dan beragam baik .

Hal itu bisa dilakukan dengan mengembangkan inovasi produk pangan yang beragam dari sumber yang juga beraneka. “Serta mendorong tumbuhnya industri-industri yang mampu menyediakan pangan yang beragam tadi,” ujar Mentan.

Sementara itu, untuk masyarakat menengah ke bawah yang memang daya belinya masih rendah, pemerintah harus memberikan subsidi tanpa harus membuat harga pangan menjadi murah. “Jadi kemampuan daya belinya yang disubsidi, bukan harga pangannya yang ditekan,” kata Anton.

Pemberian subsidi untuk meningkatkan daya beli masyarakat menengah bawah itu antara lain melalui program beras bagi rakyat miskin (raskin), bantuan tunai langsung (BLT), dan bantuan lain untuk pendidikan dan kesehatan.

Kebijakan harga pangan layak atau tidak lagi murah juga berdampak pada pengurangan jumlah rakyat miskin. Pasalnya, menurut Anton, dari total jumlah masyarakat miskin di Indonesia sebanyak 68 persennya adalah petani. Dan 60 persen dari petani miskin tersebut bergerak di subsektor tanaman pangan yang merupakan komoditas strategis.

“Meningkatnya harga pangan di tingkat petani itu berarti meningkatkan kesejahteraan petani. Jika petani sejahtera, maka terjadi pengurangan 68 persen rakyat miskin di Indonesia,” ujar Mentan.

Proteksi

Selain itu penetapan harga pangan yang layak bagi petani, sekaligus memberikan proteksi atau perlindungan bagi keberlangsungan usaha pertanian pangan. Jika usaha pertanian pangan itu menguntungkan, maka dipastikan mereka akan giat menyediakan pangan yang cukup bagi bangsa ini.

Menyinggung adanya anggaran pemerintah yang dialokasikan ke petani namun ada yang tidak sampai ke tujuan, Mentan menjelaskan anggaran tersebut tidak selalu langsung diterima petani dalam bentuk uang tunai.

“Anggaran untuk petani bisa disalurkan dalam bentuk subsidi bibit atau pupuk ke petani,” katanya. Dengan subsidi, tambahnya, petani bisa memperoleh sarana produksi secara gratis atau membeli dengan harga yang lebih rendah dari harga di pasaran.

Sementara itu, pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin mengatakan, tidak mudah untuk meningkatkan kesejahteraan petani meski harga pangan naik. Seringkali petani tidak bisa menikmati harga pangan tinggi karena mereka terjerat rentenir atau tengkulak misalnya. Oleh karena itu, harus ada upaya keras untuk memperbaiki struktur tata niaga komoditas pangan agar berpihak pada petani.

Ia mencontohkan, anjloknya harga bawang merah di saat panen melimpah. Itu terjadi karena ada tangan-tangan jahat yang menghancurkan harga dengan mengimpor bawang merah di saat panen raya. Tujuannya jelas agar harga bawang merah petani bias dibeli murah oleh mereka, kemudian mereka menjualnya ke konsumen dalam maupun luar negeri dengan harga tinggi. [L-11]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s