Bulog Akan Membeli Semua Gabah Petani

Sumber Kompas

Senin, 10 Maret 2008 | 12:59 WIB

Semarang, Kompas – Perum Bulog Jawa Tengah berkomitmen membeli seluruh gabah hasil produksi petani. Hal ini disebabkan kebutuhan beras Jateng yang sangat tinggi pada tahun ini, yaitu mencapai 510.000 ton atau tertinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Selain itu, Bulog juga harus mencari stok beras untuk memenuhi gudangnya karena beberapa wilayah lumbung beras seperti Kudus dan Pati baru saja dilanda banjir sehingga sebagian besar hasil padi menjadi puso. Stok beras tersebut harus segera diperoleh Bulog selama musim panen raya dari bulan Maret hingga Mei mendatang.

“Tidak benar kalau kami enggan membeli beras dari petani dan hanya mau membeli beras dari kontraktor atau tengkulak. Tolong kami diberi tahu di mana lokasi tepat stok gabah petani yang tidak terbeli itu. Satgas pembeli gabah akan segera dikirim ke sana,” kata Kepala Bulog Divisi Regional Jateng Hari Syahdan, Minggu (9/3).

Ia mengatakan, Bulog menyiapkan satuan tugas (satgas) khusus yang bertugas membeli gabah petani. Tim itu dibekali modal dan piranti yang diperlukan dalam transaksi pembelian gabah seperti timbangan dan pengukur kadar air.

“Jika satgas berkeliling tanpa tujuan pasti untuk mencari stok gabah dari petani, itu hanya akan membuang tenaga dan biaya percuma. Oleh karena itu, kami berharap informasi terperinci dari petani pada masing-masing subdivre. Jadi, satgas kami juga langsung punya tujuan jelas,” ucap Hari.

Menurut Hari, sebagian besar petani telah mengikat kontrak dengan tengkulak. “Saya juga terkadang jadi bingung, siapa itu petani yang benar-benar petani. Mereka kebanyakan sudah membentuk organisasi yang bertugas mengurus transaksi gabah,” katanya.

Pembelian gabah dari kontraktor sebenarnya bukan program Bulog. Meski ia mengakui, 70 persen pembelian gabah Bulog pada 2007 diperoleh dari para tengkulak. Sisanya baru dibeli dari petani.

Terkait harga gabah yang jatuh seperti di Grobogan, Blora, Pati, Kudus, serta Rembang, Hari menjelaskan, wilayah-wilayah itu memang merupakan areal kritis terutama pada masa tanam rendeng seperti saat ini. “Curah hujan sangat tinggi, angin juga kencang. Jadi, kualitas gabah turun,” ujarnya.

Meskipun demikian, katanya, Bulog tetap akan membeli gabah kering panen (GKP) yang kualitasnya di bawah standar.

Berdasarkan pantauan Kompas pada Minggu kemarin, harga GKP di tingkat petani di Pati, Kudus, dan Demak paling rendah Rp 1.500 dan paling tinggi Rp 1.800 per kilogram. Pada posisi yang sama tahun 2007, harga GKP rata-rata di atas Rp 2.000 per kg. (A05/sup)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s