Ganjalan Keanekaragaman Konsumsi

Sumber Kompas

Senin, 10 Maret 2008 | 02:27 WIB

Oleh Posman Sibuea

Paket kebijakan pemerintah untuk menurunkan bea masuk tepung terigu telah mencederai diversifikasi konsumsi pangan.

Kenaikan harga tepung terigu yang mencapai 100 persen lebih membuat pemerintah panik. Kebijakan stabilisasi harga telah bermetamorfosis menjadi sebuah ganjalan baru dalam perwujudan keanekaragaman konsumsi berbasis sumber daya lokal.

Upaya pemerintah menekan harga terigu tidak memberikan ruang untuk melanjutkan gerakan diversifikasi konsumsi pangan yang sudah digelar sejak tahun 1974. Pengembangan produk pangan berbasis umbi-umbian, jagung, dan sagu terhambat karena pemerintah menggiring warga kota mengonsumsi produk olahan tepung terigu seperti roti dan mi. Devisa negara terkuras untuk membiayai dan memuaskan selera konsumen kelas menengah ke atas ini. Setiap tahun kita mengimpor sekitar lima juta ton gandum yang menghabiskan devisa negara sekitar Rp 7 triliun.

Menjadi pelopor
Masyarakat kelompok menengah ke atas seharusnya bisa menjadi pelopor gerakan diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. Mereka bisa dikondisikan untuk tidak lagi menikmati pangan murah yang justru disubsidi uang rakyat. Mereka harus disadarkan, diversifikasi konsumsi tidak sekadar mengganti roti dengan singkong atau jagung, tetapi hendak menumbuhkan perekonomian petani selaku produsen pangan. Masyarakat menengah ke atas harus rela membeli pangan produk lokal dengan harga layak sehingga menguntungkan petani.

Sayang sebagian besar warga sudah telanjur memiliki kebiasaan makan yang terpusat pada roti dan mi instan saat sarapan pagi. Kedua makanan ini telah mengkristal sebagai ukuran gengsi. Sarapan pun identik dengan makan roti dan mi.

Padahal, sejak dulu Indonesia dikenal memiliki beragam makanan lokal, dalam arti roti dan mi instan bukan produk Indonesia asli. Namun, miskinnya inovasi pengembangan produk pangan menyebabkan gerakan diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal gagal.

Seiring dengan itu, pembentukan sejumlah pusat pengembangan teknologi pangan menjadi amat penting guna menyukseskan perwujudan diversifikasi konsumsi pangan. Selama ini pemanfaatan teknologi untuk pengembangan produk pangan lokal porsinya masih dirasa kurang. Meski pengembangan teknologi dalam industri pangan nasional berhasil meningkatkan kualitas produk pangan olahan, peningkatan ini belum diikuti upaya pengayaan kandungan lokal dalam produk yang dihasilkan.

Potensi pangan berbasis sumber daya lokal yang kian terabaikan berkorelasi positif dengan ketergantungan kita yang kian besar terhadap produk olahan terigu. Selama ini pemerintah belum berhasil mendorong perubahan pola makan dari roti dan mi instan ke komoditas terdiversifikasi yang disesuaikan potensi sumber daya lokal.

Untuk itu, masyarakat tidak bisa lagi diajak makan sagu, jagung, dan ubi dalam bentuk produk olahan tradisional. Arah pengembangannya harus diletakkan pada selera konsumen dan keinginan pasar sehingga singkong, misalnya, perlu diolah menjadi bentuk produk pangan baru yang bisa dinikmati dengan gaya hidup gaul dan kosmopolitan. Pemahaman yang lebih baik tentang gaya hidup masyarakat akan memandu dalam menentukan prioritas diversifikasi konsumsi pangan.

Ganjalan klasik
Masalah lain yang menjadi ganjalan klasik dalam pengembangan diversifikasi pangan adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) di teknologi pangan untuk menjalankan proses pengolahan secara efisien. Hingga kini, kualitas SDM di industri pangan sebagian besar adalah tamatan SLTA ke bawah dan hanya sekitar 3 persen yang menyandang gelar sarjana.

Ditinjau dari segi lokasi pabrik, jumlah SDM yang berkualifikasi sarjana di industri pangan cenderung menurun jika lokasi industri itu kian jauh dari Jakarta. Lebih-lebih jika lokasi industri itu di luar Jawa. Tercatat, lebih dari separuh industri pangan di luar Jawa belum memiliki tenaga sarjana teknologi pangan.

Data tahun 2006 menunjukkan, industri pangan yang memiliki SDM berkualifikasi sarjana teknologi pangan umumnya didominasi industri besar. Untuk industri pangan sedang dan kecil, jumlah SDM berkualifikasi sarjana teknologi pangan kian sedikit. Di sisi lain, ada kekosongan tenaga berkualifikasi diploma sehingga level manajer dan supervisor diduduki oleh lulusan SLTA atau sarjana nonprofesional teknologi pangan.

Padahal, penguasaan teknologi pangan menjadi faktor penting dalam pengembangan diversifikasi produk pangan olahan. Minimnya jumlah sarjana teknologi pangan di industri pangan harus dijembatani dengan pembukaan diploma program studi ini di sejumlah perguruan tinggi dan memperbanyak pelatihan teknologi pengolahan pangan oleh lembaga terkait.

Mengatrol kualitas SDM di bidang teknologi pangan menjadi hal mendesak dilakukan untuk menetaskan berbagai produk pangan baru guna mewujudkan diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.

Untuk bahan baku roti dan mi, komoditasnya bukan hanya terigu. Di negeri ini ada banyak sumber pangan lain, seperti jagung, sagu, dan umbi-umbian, yang dapat menyubstitusi terigu. Pemerintah seharusnya dapat mendorong para ahli pangan kita menyulap tepung jagung dan ubi jalar sebagai bahan baku membuat mi dan roti.

Hal lain yang tak kalah penting adalah peran gubernur dan bupati sebagai ujung tombak yang mampu mengikis sejumlah ganjalan demi terwujudnya diversifikasi konsumsi pangan. Sudah saatnya tiap-tiap daerah menyuguhkan penganan lokal pada tiap rapat guna mengurangi ketergantungan pada tepung terigu.

Selain itu, UKM industri pangan yang berhasil mengembangkan produk pangan baru berbasis sumber daya lokal patut diberikan insentif berupa tambahan modal dan keringanan pajak.

Posman Sibuea, Ketua Lembaga Penelitian Unika Santo Thomas SU Medan, Anggota Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s