Ketahanan Pangan Harus Dijaga

Masyarakat Diminta Ubah Perilaku Konsumtif

Sumber Kompas

Senin, 10 Maret 2008 | 13:03 WIB

Gunung Kidul, Kompas – Produktivitas padi lahan kering di Kabupaten Gunung Kidul meningkat hingga 30,06 persen dibanding tahun lalu. Peningkatan produksi ini, menurut Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, harus diikuti dengan upaya peningkatan ketahanan pangan. Pemerintah daerah juga diminta terus mengedepankan keberpihakan kepada petani. Oleh Mawar Kusuma Sultan mengimbau agar pemerintah daerah mulai membuat langkah pengamanan pangan dengan ketersediaan stok berupa beras. Sehingga, akan terwujud stabilitas padi, jangan sampai kelebihan produksi membuat harga jatuh, ujar Sultan usai panen raya padi gogo di Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul, Sabtu (8/3).

Kelebihan produksi padi di tingkat petani, menurut Sultan, harus dibeli oleh pemerintah daerah dengan harga wajar. Kelebihan produksi beras itu selanjutnya harus tetap disimpan di lumbung desa hingga tiba masa ketika warga telah kehabisan bahan pangan. Saat itulah beras kembali dijual ke petani dengan harga murah, ucap Sultan. Saat ini, rata-rata produksi padi gogo per hektar mencapai sembilan ton dan 11 ton untuk padi sawah. Masyarakat, lanjut Sultan, diharapkan mulai mengubah perilaku konsumtif. Ketika panen raya, kecenderungan membeli barang yang tidak perlu, seperti sepeda motor, harus dihilangkan. Palawija Sultan terus mendorong masyarakat untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Tidak hanya padi, melainkan juga palawija seperti jagung serta kacang tanah.

Harga aneka produk pangan tersebut dimungkinkan terus naik, apalagi dengan kecenderungan perluasan pemanfaatannya untuk bahan bakar nabati. Bupati Gunung Kidul Suharto menambahkan, sebanyak 76 persen dari 95.000 warga Gunung Kidul menggantungkan hidup dari bercocok tanam. Peningkatan produktivitas pertanian diyakini akan berkorelasi dengan semakin terdongkraknya kesejahteraan masyarakat. Luasan areal tanaman padi di Gunung Kidul mencapai lebih dari 44.000 hektar, terdiri dari 12.000 lahan sawah dan 32.000 lahan tegalan.
Tahun ini, kegagalan panen hanya terjadi di 49 hektar lahan atau 0,012 dari keseluruhan areal tanam. Gagal panen tersebut terjadi akibat kekeringan, serangan hama uret, serta banjir di wilayah utara Gunung Kidul. Panen raya padi di Gunung Kidul masih terus berjalan. Pemanenan baru dilaksanakan di 75,8 persen wilayah. Tahun ini, pemerintah daerah sedang mengujicobakan varietas padi baru yang lebih cocok ditanam di areal tadah hujan, yaitu padi varietas ciherang. Sebelumnya, masyarakat menanam padi IR-64 yang lebih cocok di lahan sawah.

One response to “Ketahanan Pangan Harus Dijaga

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
    Produk ini dikenalkan sejak tahun 1969 oleh pemerintah saat itu, karena berdasarkan penelitin tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan tersebut. Hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an. Saat itu Indonesia swasembada pangan.
    Petani kita selanjutnya secara fanatis dan turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK dan pengendali hama kimia saja.
    Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak bijaksana dan tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) pada tanaman padi yang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita. Mungkin ini walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam teknis budidayanya.
    Petani kita sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan pola tersebut.
    Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI SISTEM GABUNGAN POLA SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI.
    SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
    KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    GUNAKAN PUPUK DAN PENGENDALI HAMA ORGANIK NASA UNTUK TANAM PADI DAN BERBAGAI KOMODITI. HASILNYA TETAP ORGANIK.
    KUALITAS DAN KUANTITAS SERTA PENGHASILAN PETANI MENINGKAT, RAKYAT MENJADI SEHAT, NEGARA MENJADI KUAT.
    omyosa, 08159927152
    papa_260001527@yahoo.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s