Masalah Diversifikasi Pangan

Sumber Kompas

Senin, 10 Maret 2008 | 02:27 WIB

Oleh Her Suganda

Coba bayangkan jika bahan makanan pokok kita tidak diseragamkan berupa beras. Masyarakat Madura dibiarkan bahan makanan pokoknya jagung dan masyarakat Maluku serta Papua makanan pokoknya sagu. Kebutuhan beras tentunya tidak akan terlalu membebani dan pemerintah tidak direpotkan karena harganya melonjak-lonjak.

Tetapi, karena beras menjadi bahan makanan pokok hampir seluruh masyarakat Indonesia, peran beras sudah dianggap sebagai ”dewa penyelamat”, seolah-olah orang akan mati jika tidak punya beras. Sampai-sampai untuk mengatasinya, pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan raskin, beras untuk orang miskin. Untuk menutupi kebutuhan beras, terpaksa dipenuhi dengan impor. Padahal, sebagai negeri agraris, negeri kita cukup kaya dengan berbagai tanaman pengganti yang nilai gizi dan jumlah kalorinya tidak kalah dibandingkan dengan beras.

Anjuran dan ajakan tentang hal ini sebenarnya bukan hal baru. Lewat proyek Applied Nutrition Program, pada tahun 1969 pemerintah pernah berusaha memopulerkan slogan pangan bukan hanya beras. Pada saat yang sama, pemerintah mengenalkan beras tekad yang terbuat dari bahan pangan campuran tela atau singkong, kemudian kacang, dan jagung. Bahkan, jauh sebelumnya, pada saat meresmikan peletakan batu pertama Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor pada 27 April 1952, Presiden Soekarno dalam pidato sambutannya menyerukan penganekaragaman bahan makanan pokok pengganti beras. Saat itu, penduduk Indonesia yang berjumlah 75 juta jiwa membutuhkan sekitar 6,5 juta ton beras. Karena produksi dalam negeri hanya sekitar 5,5 juta ton, maka sisanya harus didatangkan dari luar negeri.

Namun, gerakan itu hanya menyentuh sebagian besar elite, tidak menjamah semua lapisan masyarakat yang justru menempati urutan kuantitas terbesar dari penduduk Indonesia. Ironisnya lagi, yang dianjurkan hanya golongan masyarakat nonpegawai negeri sipil dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Kedua golongan itu justru memperoleh jatah pembagian beras setiap bulan. Sebaliknya, rakyat harus mengantre untuk bisa memperoleh jatah beras murah yang jumlahnya sangat terbatas.

Karena tidak mampu memenuhi kebutuhannya akan beras, kelaparan terjadi di mana-mana. Bahkan sihir beras tak pernah tergoyahkan sehingga kita bukan hanya gagal melakukan penganekaragaman bahan makanan pokok. Beras sebagai komoditas yang mempunyai nilai strategis malah menjadi isu politik sehingga menjadi salah satu sebab jatuhnya Orde Lama.

Menyadari betapa penting nilai strategis beras dan bisa berpengaruh pada stabilitas politik, usaha peningkatan produksi beras memperoleh perhatian yang lebih intensif semasa Orde Baru sehingga berhasil menempatkan Indonesia berswasembada beras pada tahun 1984. Akan tetapi, jumlah penduduk yang terus bertambah tidak mampu diimbangi dengan peningkatan produksi beras. Lagi-lagi untuk menutupi kebutuhan isi perut rakyatnya, pemerintah (dalam hal ini Badan Urusan Logistik/Bulog) harus mendatangkan beras dari luar negeri.

Makanan pokok
Dengan pengalaman di atas, kita seharusnya segera menyadari betapa tidak mungkinnya untuk tetap bertahan hanya dengan satu bahan makanan pokok. Kita tidak perlu malu karena gengsi mengganti beras dengan bahan makanan pokok lain, misalnya dengan tanaman garut (Marantha arundinacea L). Tanaman ini merupakan tumbuhan monokotil dari Amerika Selatan, biasa tumbuh di pekarangan di bawah pohon rindang.

Di Sunda, tanaman ini dinamakan patat sagu, sedangkan di Jawa disebut larut, di Madura dinamakan marus, di Ternate disebut huda sula, dan di Melayu dinamakan sagu betawi, sagu belanda, atau arairut. Umbinya yang segar berwarna putih, ditutupi kulit menyerupai sisik coklat muda merupakan sumber karbohidrat, mengandung air (69-72 persen), protein (1,0-2,2 persen), lemak (0,1 persen), pati (19,4-21,7 persen), serat (0,6-1,3 persen), dan abu 1,3-1,4 persen (Kompas, 3 Maret 2002).

Yang menarik, tanaman garut bisa jadi makanan siap santap. Tepung garut dinilai sangat cocok dikonsumsi anak-anak penderita kelainan pencernaan Sindrom Down.

Selain garut, masih terdapat gembili (Dioscorea aculeate L), ganyong, hanjeli, sorgum, dan banyak lagi tanaman lainnya. Gembili memiliki kandungan yang setara atau bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan beras dan terigu. Dari sisi cita rasa, tepung berbagai jenis umbi tanaman tersebut tidak kalah dengan nasi. Tepung hanjeli lebih enak daripada tepung beras.

Tanaman hanjeli pernah dibudidayakan secara luas oleh para petani di daerah Lembang, Bandung. Akan tetapi, karena kurangnya perhatian pemerintah, tanaman tersebut makin berkurang. Bahkan, di beberapa tempat tanaman itu sudah sulit dijumpai karena lahannya sudah ditanami dengan tanaman sayuran atau bunga yang dianggap lebih menguntungkan.

Jenis tanaman
Berbagai jenis tanaman tersebut sangat memungkinkan dibudidayakan secara luas. Tanaman garut pernah dicanangkan untuk ditanam di atas lahan seluas sejuta hektar di Pulau Jawa. Tetapi, seperti program sebelumnya, program ini hilang ditelan bumi. Begitu musim panen tiba dan harga beras bergerak turun, perlahan-lahan program tersebut dilupakan dengan sendirinya. Pemerintah sendiri, ganti menteri ganti kebijaksanaan. Program diversifikasi pangan tak ubahnya dengan pepatah ”panas-panas tahi ayam”. Karena itu, peran beras sebagai bahan makanan pokok tetap kuat dan belum bisa tergantikan.

Bahwa pandangan sebagian besar masyarakat tidak mungkin hidup tanpa beras terlihat dalam kehidupan penduduk miskin. Mereka yang tidak mampu membeli beras menggantinya dengan beras aking.

Beras aking merupakan makanan pengganti penduduk miskin di daerah Kabupaten Cirebon dan Indramayu, Jawa Barat. Beras tersebut sebenarnya tidak pantas disebut beras karena sudah menjadi nasi yang merupakan sisa makanan yang kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. Karena sisa makanan, tidak jarang nasi aking sudah bercampur dengan sayuran sehingga harus dipilah lagi. Mengenai nilai gizinya, sudah barang tentu sangat diragukan.

Her Suganda, Wartawan di Jawa Barat

2 responses to “Masalah Diversifikasi Pangan

  1. dengan hormat,
    sy mhsw Univ Brawijaya Mlg, saat ini sdg penelitian ttg pembuatan beras tiruan dari tepung komposit tapioka dan kacang tunggak dg penambahan bahan pengikat tepung porang (Amorphophallus oncophylus). sy menemui kesulitan mencari literatur yg relevan dg penelitian sy. mohon bantuan bpk/ibu untuk memberikan informasi jurnal atau situs yg terkait dg penelitian sy tsb.
    demikian permohonan sy.
    terima kasih.

  2. ad gk makalah ttg makanan pokok penduduk di Indonesi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s