Petani Rawa dengan Pestisida Nabati

Sumber Kompas

Oleh M Syaifullah

Saurani, warga Desa Tambak Sirang Laut, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, tak bisa berkata-kata lagi saat melihat satu petak taradak (persemaian benih padi) miliknya meranggas. Kematian bibit padi itu gara-gara Saurani salah semprot pestisida.

Tadinya, dia ingin menyemprot persemaian seluas empat meter persegi itu dengan pestisida nabati yang dibuat sendiri. Namun, yang terambil jeriken pestisida kimia pembasmi rumput. Tak pelak lagi, bukan pertumbuhan benih yang makin subur, justru satu petak taradak mati.

”Tujuannya baik, Saurani mau memakai pestisida nabati, tapi salah ambil. Kini terpaksa menyemai lagi,” kata Syahrani, Petugas Penyuluhan Lapangan (PPL) Kecamatan Gambut saat temui beberapa waktu lalu.

Di Desa Tambak Sirang Laut, kehadiran PPL Syahrani dalam beberapa bulan terakhir menjadi pembicaraan di kalangan petani setempat. Warga Martapura, ibu kota Kabupaten Banjar, membuka kesadaran baru bagi empat kelompok tani setempat. Hal itu muncul setelah hampir setiap hari dia menemui mereka di desa itu dengan sepeda motor menempuh jarak 30 kilometer dari rumahnya.

Bagi Syahrani, upaya mendorong pemakaian pupuk organik dan pestisida nabati adalah keharusan ketimbang membiarkan kerusakan areal pertanian di daerah setempat. Bom waktu itu bisa terjadi karena para petani terus bergantung pada pemakaian pupuk dan pestisida kimia. ”Pilihan satu-satu agar masalah ini tidak meledak menjadi bencana bagi petani nantinya, saya mendorong mereka melakukan cara-cara bertani ramah lingkungan,” katanya.

Syahrani sendiri mengakui pada awalnya prihatin karena petani di daerah kini sudah begitu akrab menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Keadaan ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah masa lalu terkait program bimbingan masyarakat (bimas) dan intensifikasi masyarakat (inmas).

Mereka selama ini lupa bahwa memakai zat-zat kimia yang tidak ramah lingkungan itu tidak hanya mematikan makhluk hidup, tetapi sekaligus pencemaran udara, air, dan tanah. Bahkan, dimungkinkan meracuni atau menimbulkan penyakit bagi petani itu sendiri atau orang lain.

Belakangan, tuturnya, yang paling dirasakan petani adalah besarnya ongkos untuk membeli sarana produksi padi tersebut. Petani setempat kini minimal setiap kali musim tanam mengeluarkan uang untuk membeli pupuk dan pestisida kimia Rp 1,5 juta per hektar.

Padahal, rata-rata petani di daerah tersebut memiliki satu hingga tiga hektar sawah. Mereka baru sadar mengalami ketergantungan ketika bulan Juni 2007 kesulitan mendapatkan pupuk kimia. ”Sambil membantu kesulitan mereka itulah, saya mulai memperkenalkan pembuatan dan pemakaian pestisida nabati dan pupuk organik,” katanya.

Semula diragukan
Pada awalnya, ungkap Gajali, Ketua Kelompok Petani Sejahtera, tawaran Syahrani diragukan petani. Namun, setelah melihat kemampuan pemakaian pestisida nabati itu sangat baik menjaga tanaman persemaian, mereka mau menggunakan. Demikian juga pupuk organik.

Di sawah rawa pasang surut, tuturnya, tidak ada olah tanah seperti di Jawa dengan bajak sapi atau traktor. Sebab, kalau dilakukan pengolahan tanah, maka yang keluar adalah tanah yang mengandung pirit sehingga kesuburan berkurang. Sementara pupuk kimia juga tidak menggemburkan tanah, melainkan menyuburkan tanaman. ”Petani menjadi senang karena pupuk organik yang dipakai dapat menyuburkan tanah,” ucap pria yang memimpin kelompok tani beranggotakan 40 orang ini.

Yang menggembirakan lagi, lanjutnya, mereka juga terbantu karena sebagian bahan pembuatan pestisida dan pupuk itu mudah didapatkan. Untuk pestisida nabati, yakni dari tumbuhan serai (Andropogan margus L), jeriangau (Acorus Calamus L), sirsak (Annona muricata L), tagari, dan lengkuas. Tumbuhan itu ditumbuk dengan halus di dalam lesung kecil kemudian diberi air secukupnya dan disaring dua hingga tiga kali untuk mendapatkan ekstraknya.

Sebelum digunakan, ekstrak pestisida itu didiamkan 24 jam dengan kondisi tertutup. Saat digunakan, satu liter ekstrak pestisida terlebih dahulu dicampur dengan sembilan liter air. ”Pestisida ini mampu mengusir sekitar 120 hama padi,” kata Normansyah, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Gambut.

Pupuk organik pembuatannya dilakukan petani setempat dengan membuat kompos dari bahan antara lain jerami, kotoran hewan, dolomit (kapur pertanian) dan cairan trikodarma (cairan yang berasal dari entrak gula, kentang, dan agar-agar). Untuk mendapatkan kompos, campuran itu didiamkan selama 21 hari sebelum ditebar di sawah. ”Para petani menjadi antusias karena ongkosnya kurang dari Rp 500.000 setiap hektar. Sekarang, tinggal kemauan mereka meneruskan kepada petani lain,” kata Syahrani.

Petani Kecamatan Gambut memang pantas didorong memakai pestisida nabati dan pupuk organik. Sebab, wilayah di pinggiran Kota Banjarmasin ini merupakan salah satu sentra padi sawah rawa pasang surut terbaik Kalsel. Tingkat produksi gabah untuk varietas lokal 3,5 ton-3,8 ton per hektar dan unggul 4,5 ton-4,8 ton per hektar.

3 responses to “Petani Rawa dengan Pestisida Nabati

  1. Teman Saya memerlukan pestisida organik dalam jumlah besar, apakah dapat dibantu ?
    Tolong spesifikasi dan harganya di E-Mail ke rdaniset@batan.go.id atau r.danisetiawan@yahoo.co.uk terima kasih.
    Danny Setiawan

  2. Selamat dan sukses petani gambut. Mudahan peran penyuluh pertamian semakin terasa bg mrk. Dan juga mudahan tujuan2 penyuluhan bs tercapai. Amin . Bangkitlah petani kita. Tiada hari tanpa penyuluhan.!!

  3. pestisida nabati itu contohnya apa saja???????? saya sangat ingin tahu. mohon penjelasannya ya… terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s