Produksi Beras Tidak Akan Mencapai Target

Sumber Kompas

Senin, 10 Maret 2008 | 02:12 WIB

Malang, Kompas – Produksi beras pada musim panen Januari-April 2008 diperkirakan tidak akan mencapai target. Hal itu disebabkan banyak gabah yang hampa atau penyakit kresek, kegagalan panen akibat banjir, dan penundaan panen karena penanaman ulang (replanting).

Menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir, Minggu (9/3) di Indramayu, Jawa Barat, ketiga penyebab utama itu akan berdampak langsung terhadap penurunan produksi padi periode Januari-April 2008. ”Tingginya kadar hampa gabah dan penyakit kresek juga menimpa petani di Jawa Barat,” kata Winarno.

Menurut laporan anggota KTNA di Jawa Barat, kadar hampa dan penyakit kresek menimpa gabah dan tanaman padi di Subang, Cirebon, Karawang, dan Indramayu. ”Kadar hampa atau kresek pada panen kali ini meningkat 10-15 persen,” ungkap Winarno.

Berdasarkan data Departemen Pertanian, target produksi gabah Januari-April 2008 sebanyak 26,788 juta ton gabah kering giling (GKG) atau 16,930 juta ton beras. Produksi gabah atau beras sebanyak itu diperoleh dari perhitungan luas panen pada periode yang sama sekitar 5,7 juta ha.

Pemerintah menghitung produksi gabah atau beras hingga April 2008 bakal mencapai sekitar 44 persen dari total target produksi gabah 2008 sebanyak 61,11 juta ton atau setara 34,61 juta ton beras bersih. Dengan memperkirakan produksi gabah Januari-Juli menyumbang 59,77 persen dari total produksi gabah atau beras sepanjang 2008, setidaknya produksi gabah Januari-April diharapkan memberikan kontribusi 73,3 persen.

Pergeseran musim tanam
Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian Kaman Nainggolan, pergeseran musim panen bisa saja terjadi, apalagi ada bencana banjir dan akan ada ancaman kekeringan. ”Namun, apabila dihitung secara nasional dalam total setahun masih dalam kisaran target,” katanya.

Kaman menjelaskan, produksi GKG sebanyak 61,11 juta ton diperkirakan diperoleh dari luas tanam 12,24 juta ha areal pertanian padi. Karena mempertimbangkan dampak bencana banjir, kekeringan, dan serangan organisme pengganggu tanaman seperti hama penyakit, pemerintah menetapkan manajemen risiko.

Jadi, dari 12,24 juta hektar luas lahan tanam padi, yang diperkirakan bakal dipanen hanya sekitar 12 juta. ”Selebihnya 240.000 hektar masuk dalam kategori risiko yang harus ditanggung akibat berbagai dampak penyebab kegagalan panen,” katanya. (MAS/RYO)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s