Irigasi Sempurna, Swasembada Pangan Tercapai

Sumber Kompas

Oleh Haryo Damardono dan Hermas E Prabowo

”Saya harus bayar air Rp 170.000 per tiga bulan untuk mengairi sawah. Biaya untuk air sama saja menambah utang. Sebab, petani kecil seperti saya harus mengutang sebelum menanam padi,” kata Maryono (50-an). Sawahnya hanya terletak 10 meter dari tepi Sungai Bengawan Solo, tetapi harus berjuang untuk memperoleh air.

Untuk mendapatkan air, Maryono dan warga Desa Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, masih harus mengoperasikan pompa- pompa berbahan bakar solar. Pompa itu berumur sekitar 20 tahun sehingga lebih banyak mati ketimbang beroperasi.

Mengapa harus dengan pompa? Bagaimana dengan pintu air di Desa Laren? Pintu air itu ternyata tidak dapat difungsikan untuk mengalirkan air ke sawah karena elevasi air di Bengawan Solo lebih rendah daripada ketinggian lahan sawah.

Namun, bila elevasi air meninggi karena hujan di hulu, pintu air pun tidak dapat dibuka begitu saja karena air akan membanjiri sawah. Jadi, pintu air itu tidak dapat digunakan semaksimal mungkin.

Sulitnya mendapatkan air bagi pertanian jelas tidak hanya dialami warga Desa Laren, tetapi juga petani lain di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo. Sebab, di DAS ini hanya ada satu waduk besar, yakni Waduk Gajah Mungkur (371 juta meter kubik). Itu pun letaknya jauh di hulu, di Kabupaten Wonogiri.

Padahal, idealnya ada dua atau tiga waduk besar lain yang selain difungsikan sebagai penyokong lahan pertanian tetapi juga sebagai pengendali banjir. Bila waduk dirasa sulit dibangun karena topografi datar, setidaknya dibangun segera penampungan air (long-channel storage).

Ironi bagi warga Desa Laren dialami pula Tangin, petani di Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Lahan sawah yang disewa Tangin walau hanya berjarak 5 kilometer dari Sungai Cimanuk, tetapi hanya ditanami padi dua kali dalam setahun.

Padahal, Maret ini air di Kecamatan Widasari berlebihan. Namun, pada musim kemarau, Tangin mengatakan, air sulit didapat sehingga daripada memaksakan untuk menanam padi lebih baik menanam kacang.

Keterbatasan daya dukung jaringan irigasi mungkin salah satu faktor. Namun, faktor utama adalah ketiadaan waduk yang representatif di DAS Sungai Cimanuk.

Dari potensi air Sungai Cimanuk di Bendung Rentang sebesar 4,3 miliar meter kubik per tahun hanya dapat dimanfaatkan 28 persen, sedangkan sisanya terbuang ke laut karena belum ada waduk.

Pembangunan waduk
Tahun 2007-2012, pemerintah menargetkan membangun 17 waduk baru yang diharapkan mampu melayani 121.000 hektar (ha) persawahan. Bila dipilah, di luar Waduk Jati Gede (melayani 90.000 ha) dan Waduk Karian (20.000 ha) yang direncanakan sejak puluhan tahun silam, ke-15 waduk lainnya hanya diproyeksikan untuk melayani 11.000 ha lahan pertanian.

Artinya, penambahan daya dukung waduk baru tidak terlalu signifikan menambah kapasitas 937 bendungan di Indonesia, yang mampu melayani 848.000 ha areal pertanian. Sebagian besar waduk pun dibangun rezim Orde Baru.

Jangankan membangun, Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Siswono Yudho Husodo mengatakan, sekitar 35 persen jaringan irigasi kini rusak sehingga petani menderita.

Data Departemen Pekerjaan Umum (PU) pun menyebutkan terdapat 6,7 juta ha areal irigasi di Indonesia. Bila ucapan Siswono benar, maka 2,4 juta ha lahan persawahan tidak mampu berproduksi maksimal.

Masih banyak pekerjaan harus dituntaskan untuk memperbaiki jaringan irigasi, mulai dari memperketat pengawasan terhadap operasional dan pemeliharaan jaringan, hingga koordinasi dengan berbagai pihak yang tidak langsung terlibat pada perusakan jaringan irigasi.

Sedimentasi tinggi pada saluran irigasi, misalnya, merupakan akibat banyak hal, yakni mulai dari alih fungsi hutan ke lahan pertanian yang menyebabkan longsoran tanah masuk ke DAS hingga Departemen PU yang tidak segera mengeruk sedimentasi di badan sungai.

Mengapa terbangunnya jaringan irigasi begitu penting? Apakah bedanya bagi petani antara menanam dua kali dibanding tiga kali dalam satu tahun?

Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Departemen Pertanian Hilman Manan menjelaskan, ketersediaan jaringan irigasi dapat meningkatkan produksi komoditas pertanian, terutama tanaman pangan, secara signifikan. Jaringan irigasi yang memadai akan mendorong peningkatan indeks pertanaman (IP).

Sederhananya, IP adalah tingkat keterseringan atau kemungkinan penanaman komoditas tertentu, seperti padi, dalam satu kalender musim tanam pada lahan sawah beririgasi.

Sawah dengan irigasi golongan I (satu) atau yang terdekat dengan sumber air (waduk) memungkinkan ditanami tiga kali dalam setahun (umur panen padi sekitar 110 hari).

Beda dengan sawah beririgasi golongan III, atau yang berada di ujung (tail-end) jaringan irigasi sehingga hanya dapat ditanami satu atau dua kali musim tanam, sehingga setelah menanam padi (periode I), lalu padi (periode II), maka hanya dapat ditanam palawija (periode III).

Menurut Hilman, rata-rata IP lahan sawah di Indonesia hanya 1,57 kali. Artinya, dalam setahun rata-rata lahan pertanian di Indonesia ditanami kurang dari dua kali musim tanam. Di Jawa, IP rata-rata di atas 2, tetapi di luar Jawa umumnya 1-1,3 kali.

”Dengan meningkatkan rata- rata IP nasional menjadi 2 saja, Indonesia mencapai swasembada pangan. Keluhan kekurangan lahan pun terminimalisasi karena lahan dapat ditanami berkali-kali,” jelas Hilman. Isu keterbatasan luas lahan pun dapat terdegrasi dengan dimaksimalkannya kemampuan lahan untuk berproduksi.

Swasembada pangan
Mungkinkah swasembada pangan? Begini hitungannya, dengan luas lahan pertanian beririgasi sekitar 7,4 juta ha (angka ini lebih tinggi dari data Departemen PU), maka bila IP rata-rata nasional 2 kali akan tersedia luas lahan untuk tanam padi sekitar 14,8 ha.

Nah, apabila produktivitas per hektar lahan sawah rata-rata nasional 4,7 ton, produksi padi nasional sudah mencapai 69,56 juta ton gabah kering giling (GKG), atau lebih tinggi 8,4 juta ton dibandingkan dengan target produksi gabah 2008.

Bagi petani padi pun dengan tiga kali masa tanam dalam setahun pendapatan bersihnya Rp 21 juta setahun (karena per musim tanam pendapatan bersih sekitar Rp 7 juta). Sebaliknya, dengan pola padi-padi-jagung pendapatannya sekitar Rp 18 juta sebab pendapatan bersih dari menanam jagung hanya Rp 5 juta-Rp 6 juta setahun.

Jelas, ketersediaan jaringan irigasi yang mumpuni sangat membantu petani. Hilman memastikan Indonesia kembali menjadi pengekspor beras andai jaringan irigasi disempurnakan.

Namun, bagi petani seperti Maryono, angka produksi nasional tentu tidak dihiraukannya. Baginya, yang terpenting adalah mampu memperoleh air bagi sawahnya. Syukur-syukur tanpa biaya tambahan. Sayangnya, ironi Maryono terus berlanjut.

One response to “Irigasi Sempurna, Swasembada Pangan Tercapai

  1. Untuk kelengkapan : Permodelan Teknologi Sistem Irigasi Indonesia, lihat juga di ( http://gravekorwlcs.wordpress.com/data-riset/ )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s