Buruh Penggarap Dominasi Pertanian

Sumber Kompas

Minat Menjadi Petani Masih Rendah

Senin, 24 Maret 2008 | 11:38 WIB

Bandung, Kompas – Sekitar 75 persen petani di Jawa Barat adalah buruh penggarap yang tidak memiliki lahan. Hanya 25 persen petani yang memiliki sawah. Adapun petani yang memiliki lahan lebih dari 0,25 hektar sebanyak 5 persen.

Demikian dikatakan Gubernur Jabar Danny Setiawan, Minggu (23/3) di Bandung. Berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jabar tahun 2007, terdapat sekitar 2,27 juta rumah tangga pertanian di Jabar. Provinsi Jabar merupakan daerah agraris dengan indikasi banyaknya masyarakat yang bekerja sebagai petani. Namun, kata Danny, jangan dianggap mereka semua adalah petani pemilik lahan. Pada masa mendatang, penerapan pertanian kolektif akan diupayakan.

“Artinya, dengan lembaga koperasi, para petani yang memiliki lahan kurang dari 0,25 hektar dikumpulkan sebanyak 100 atau 200 orang,” katanya. Bila dihimpun, luas lahannya sekitar 50 hektar, lalu dilakukan usaha agrobisnis.

Lahan sempit yang dimiliki petani menjadi kendala untuk menerapkan usaha tersebut. Luas lahan yang memadai untuk kebutuhan itu setidaknya 30 hektar. Danny mengatakan, pihaknya sudah meminta para bupati membuat proyek percontohan sistem tersebut sejak dua tahun lalu.

Pada kenyataannya, Danny mengakui, tidak mudah melaksanakan pemikiran itu. Pasalnya, petani enggan jika lahannya disatukan karena khawatir akan kehilangan sawah. Banyak rencana harus dilakukan dalam konteks usaha ekonomi yang bertumpu pada potensi bisnis.

Petani yang merupakan pekerjaan mayoritas penduduk Jabar perlu difasilitasi lembaga koperasi agar dapat menguasai produksi dari hulu hingga hilir. “Sektor primer, produksi, pengolahan, sampai jasa perdagangannya mereka kuasai,” katanya.

Saat ini petani hanya menguasai produksi, itu pun tidak maksimal. Pengolahan dan jasa perdagangannya yang tidak mereka kuasai, lanjut Danny, justru merupakan sektor yang memberikan keuntungan besar. Akhirnya, petani sering menerima pendapatan kecil, bahkan menanggung kerugian.

Di lain pihak, pengusaha diimbau menginteraksikan bisnisnya dengan masyarakat setempat untuk menekan ketimpangan sosial. Contohnya, ujar Danny, jika pengusaha membutuhkan beras, petani bisa diperkenalkan pada teknologi pangan. Demikian pula dengan pasokan daging, petani diberi bibit sapi. Daging atau padinya lalu dibeli industri sekitar dan petani dapat meningkatkan taraf hidupnya. Secara teknis, pemikiran itu seharusnya dilakukan bupati.

Rendah
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Daerah Jabar Oo Sutisna mengungkapkan, bila industri di Jabar ingin didorong, sebaiknya pabrik yang dibangun masih terkait dengan sektor pertanian, misalnya produsen traktor, pupuk, atau benih. Sebab, alam Jabar sangat subur. Sepanjang tahun, lahannya bisa ditanami.

Wakil Direktur Pusat Kajian Kebijakan Pertanian dan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Trisna Insan Noor mengatakan, minat generasi muda menjadi petani masih rendah.

“Baik di desa maupun kota pemuda memandang pertanian sebagai pekerjaan yang penuh lumpur dan harus berkotor-kotor,” kata Trisna. Padahal, sektor pertanian sebenarnya masih memiliki prospek yang baik. (bay)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s