Harga Pangan Ditunggu Stabil

Sumber Kompas

Senin, 24 Maret 2008 | 01:16 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS – Pemerintah memilih untuk tetap membiarkan harga-harga kebutuhan pokok melambung hingga mencapai titik stabil. Sementara itu, pihak yang paling terkena dampaknya akan tetap dilindungi dengan pemberian subsidi.

”Ada alternatif lain, yaitu menyetop kenaikan harga, tidak mengikuti kenaikan harga dunia. Namun, untuk itu diperlukan biaya yang besar secara terus-menerus untuk memberi subsidi,” ujar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam kuliah umum ”Strategi Pemerintah dalam Rangka Stabilisasi Gejolak Harga Komoditas Pangan” di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Sabtu (22/3).

Satu-satunya komoditas pangan yang dapat ditekan yaitu beras karena merupakan komoditas pokok. Untuk itu, harga beras kini dikendalikan dengan harga Rp 4.000-Rp 6.000 per kilogram oleh Bulog.

Di luar beras tidak ada pengendalian harga, tetapi lonjakan akan diredam agar harga merangkak sedikit demi sedikit. Hal tersebut dilakukan dengan berbagai langkah instrumen, seperti menaikkan pajak ekspor.

Perlu dilindungi
Kenaikan harga, menurut Mari, memberikan keuntungan kepada beberapa pihak, seperti produsen besar, eksportir, atau petani. Karena itu, di sisi lain, pihak yang tercekik akibat kenaikan harga perlu dilindungi oleh pemerintah.

Untuk minyak goreng, pemerintah mengalokasikan dana Rp 500 miliar untuk menyubsidi 19,2 juta jiwa penduduk miskin di seluruh Indonesia. Pemerintah bekerja sama dengan produsen minyak goreng menjual minyak goreng Rp 2.500 per kilogram. Harga tersebut lebih murah dari harga pasar yang kini dijual Rp 12.500 per kilogram. Hal ini sudah diterapkan di Jakarta dan Gunung Kidul, sementara daerah lain segera menyusul.

Harga kedelai
Solusi jangka pendek lain juga dilakukan pada kenaikan harga kedelai yang sangat memukul para perajin tahu tempe. Kepada 115.000 perajin tahu tempe di seluruh Indonesia, pemerintah memberi subsidi Rp 1.000 untuk setiap kilogram kedelai yang dibeli. Kenaikan harga tepung terigu pun hanya dapat diredam supaya tidak lagi fluktuatif.

Sementara itu, program jangka panjang yang akan dilakukan pemerintah satu-satunya adalah meningkatkan produksi dalam negeri.

”Untuk itu program departemen pertanian harus jalan. Produksi beras, kedelai, gula, dan jagung harus diprioritaskan supaya stok dalam negeri aman,” ujar Menteri Perdagangan.

Mari menyebutkan, untuk mencapai solusi jangka panjang tersebut diperlukan waktu yang bervariasi untuk tiap komoditas. Kedelai, misalnya, dengan masa tanam tiga bulan diharapkan tahun ini produksi dalam negeri setidaknya dapat mencapai angka 800.000 ton atau naik 200.000 ton dari tahun lalu. Karena kebutuhan dalam negeri mencapai dua juta ton, itu harus dilakukan secara bertahap dengan menyediakan lahan yang lebih luas.

Kelancaran distribusi
Departemen Perdagangan dalam rencana jangka panjang akan melancarkan distribusi berbagai komoditas supaya harga lebih terkontrol baik bagi petani maupun konsumen.

”Memang ini adalah kebijakan yang bersifat sementara, tetapi kami juga punya rencana jangka menengah yang lebih komprehensif. Tidak hanya pangan, tetapi juga kelembagaan. Bagaimana mengubah birokrasi agar lebih efektif membutuhkan waktu lama karena harus mengubah mind set dari seorang regulator dan kontroler menjadi fasilitator,” kata Mari. (A02)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s