Petani “Pailit” pada Musim Panen

Sumber Kompas

Oleh Anita Yossihara

Panen tiba, petani desa, memetik harapan. Bocah-bocah berlari lincah di pematang sawah. Padi menguning lambai menjuntai, ramai dituai. Riuh berlagu lesung bertalu, irama merdu. Senja datang, mereka pulang, membawa harapan.

Penggalan lagu Potret Panen yang diciptakan penyanyi Iwan Fals pada awal dekade 1980-an itu menggambarkan kegembiraan petani, menuai harapan saat panen tiba. Gambaran yang jauh bertolak belakang dengan kondisi petani Banten pada musim panen kali ini.

Sebagian besar petani di Banten tidak lagi bisa menikmati hasil panen. Mereka kini hanyalah petani penggarap. Lahan sawah yang mereka miliki turun-temurun sudah beralih tangan menjadi milik warga perkotaan, seperti Kota Serang, Cilegon, bahkan Jakarta.

Jadilah petani sebagai ”buruh” di lahan milik leluhur mereka. Setiap kali panen, para petani hanya memperoleh separuh gabah hasil panen. Itu pun belum dikurangi dengan gabah yang disetorkan untuk membayar utang modal bertani, seperti pembelian bibit padi, pupuk, pestisida, serta biaya sewa pompa air, traktor, dan sebagainya.

Panen tahun ini pun kurang baik akibat angin kencang yang kerap menerpa wilayah Banten. Pada saat yang sama harga gabah kering panen (GKP) turun dari Rp 2.400-Rp 2.500 menjadi Rp 1.700-Rp 1.800 per kilogram.

Nasib pahit salah satunya dialami Romli, petani asal Desa Terumbu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten. Dulu Romli petani pemilik lahan 1 hektar warisan leluhurnya, tetapi kini hanya menjadi petani penggarap. Pada panen kali ini Romli berhasil menuai lebih kurang 5 ton GKP. Separuh hasil atau 2,5 ton gabah diberikan kepada pemilik lahan, sisanya menjadi bagiannya.

Bagian panen 2,5 ton itu pun masih harus dipotong 1,5 ton untuk melunasi utang modal bertani kepada pemilik lahan. ”Paling bersih bisa bawa pulang 1 ton. Namun, itu tidak utuh karena masih harus dijual sebagian untuk melunasi utang di warung dan tetangga,” tuturnya.

Sebagian lagi masih harus dijual untuk dipakai bayar uang sekolah anak-anaknya. Akhirnya sisa padi itu hanya bisa dikonsumsi sampai panen musim depan. ”Cukup untuk satu-dua bulan makan. Kalau habis, ya beli beras lagi ke warung,” katanya.

Nasib Zainudin tidak jauh berbeda dengan nasib Romli. Petani asal Desa Trumbu itu juga hanya penggarap sawah milik warga Kota Serang. Dulu Zainudin juga punya lahan sawah warisan yang sudah dijual dengan harga Rp 2.500-Rp 5.000 per meter persegi.

Lahan garapan Zainudin kali ini menghasilkan 4 ton GKP, yang separuhnya diberikan kepada pemilik lahan. Sisanya seperti biasa untuk bayar utang di warung, biaya sekolah, dan berbagai biaya untuk kegiatan produksi padi. ”Sisanya paling bisa untuk kebutuhan makan satu bulan. Anak saya banyak, ada sembilan. Mereka enggak cuma butuh makan, tetapi biaya sekolah dan lain-lain,” tuturnya.

Lain Zainudin, lain pula Idam, petani Desa Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten. Ia terpaksa memanen dua pekan lebih awal karena tanaman padinya diserang hama wereng coklat. ”Serangan hamanya ganas banget. Kalau tidak cepat dipanen, dua-tiga hari lagi pasti habis dimakan hama. Enggak bakal kebagian,” katanya.

Bahkan, sebagian petani di wilayah Kecamatan Pontang sama sekali tidak bisa menikmati hasil panen. Lebih dari 130 hektar tanaman padi di wilayah itu mengalami puso karena beberapa kali terendam banjir.

”Musim ini kami tanam dua kali. Pertama waktu bulan Januari, mati karena padi terendam banjir saat usianya baru 15 hari. Lalu kami tanam lagi, tetapi masih saja terendam. Sampai sekarang belum bisa menikmati hasil panen,” kata Yuti, petani asal Pontang.

Kerja sambilan
Untuk menambah simpanan padi, tidak sedikit petani di daerah pantai utara Serang yang mengumpulkan sisa-sisa padi di tumpukan jerami atau nitrik. Biasanya pekerjaan nitrik dilakukan oleh kaum ibu beserta para anak perempuan mereka.

Dalam satu hari, mereka bisa mengumpulkan 2 hingga 5 liter gabah per orang. ”Sedikit-sedikit juga lumayan. Buat persediaan, kalau-kalau gabah habis untuk bayar utang,” kata Marhamah, warga Pontang, Kabupaten Serang.

Tidak sedikit pula petani yang terpaksa nitrik dari sawah ke sawah karena sama sekali tak bisa menikmati hasil panen. Mereka telanjur menjual padi dengan sistem ijon kepada tengkulak karena terlilit utang untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Menjadi buruh angkut gabah juga dilakukan Romli dan Zainudin. Keduanya menjadi buruh angkut gabah karena hasil panen mereka tidak cukup untuk hidup sehari-hari.

Sebagian besar petani di Banten memang tidak bisa menggantungkan hidup dari hasil panen semata. Ibarat perusahaan, banyak petani Banten yang justru mengalami pailit di musim panen. Hasil panen mereka habis untuk menutup utang sehingga modal bertani pun tak terbayar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s