Ekspor Beras Tak Menguntungkan Stok Pangan Nasional

Sumber Bali Post

Kebijakan strategis pasar regional dan global yang terus berubah sangat dinamis mendorong adanya berbagai upaya pemantapan pangan. Kebijakan pemerintah yang akan membuka ekspor beras menyusul makin meningkatnya harga komoditas itu di pasar internasional justru bisa menjadi bumerang bagi pengadaan stok beras nasional. Mengapa demikian? Tidakkah ada upaya lain untuk menjaga kestabilan posisi pangan di Indonesia? Langkah-langkah apa yang perlu dilakukan pemerintah dalam mengatasi krisis pangan?

=======================================================

Naiknya harga beras di pasar internasional hendaknya dijadikan pelajaran bagi Indonesia. Bukan sebaliknya tingginya harga beras di luar negeri dibandingkan harga beras di dalam negeri dijadikan kesempatan untuk menjual beras ke luar negeri semata karena mengejar keuntungan sesaat.

Kepala Perum Bulog Divisi Regional Bali Kiki Partini, Senin (31/3) kemarin di Renon menyatakan ekspor beras hanya akan menguntungkan spekulan. Namun, secara jangka panjang keputusan itu bisa mengganggu pengamanan stok beras nasional. Secara piskologis jika terjadi perbedaan harga di dalam negeri maupun ekspor akan memicu para spekulan menaikkan harga beras di dalam negeri. Kondisi ini membuat harga terkesan tak stabil.

Padahal, realitasnya Perum Bulog Divisi Regional Bali memiliki stok beras selama tiga bulan ke depan masih cukup aman berada pada angka 6.700 ton. Padahal kebutuhan per bulan hanya 2.500 ton. Beras sebanyak itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan 15.000 rumah tangga miskin. Masing-masing per bulan 15 kg. Selain itu untuk mencukupi kebutuhan lauk TNI, napi dan kepentingan sosial lainnya.

Kiki yakin stok operasional itu diyakini aman karena dalam musim panen saat ini diperkirakan akan ada tambahan stok lagi 5.000 ton. ”Jadi untuk Bali dengan stok operasional seperti itu sangat aman untuk tiga bulan ke depan,” katanya.

Sementara standar harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen Rp 2.035/kg, dalam kenyataan di pasaran harganya selalu berada di atas HPP yakni Rp 2.300 s.d. Rp 2.400 GKP. Kiki mengisyaratkan relatif amannya stok beras di Bali lantaran letaknya strategis berada di antara dua propinsi penghasil beras yakni NTB dan Jawa Timur. Ketika terjadi kelangkaan stok, para pedagang beras dari luar wilayah akan jeli menyikapi situasi tersebut. Mereka mengisi kekurangan stok itu karena harganya lebih menjanjikan.

Kurang Bijak
Keinginan pemerintah membuka keran ekspor beras memang membuat spekulan tergiur. Namun, Perum Bulog yang ditugaskan untuk mengamankan stok beras memandang kurang bijak keputusan tersebut. ”Pemerintah mestinya tak tergiur untuk membuka keran ekspor. Sebab, ketersediaan beras sepanjang tahunnya masih diragukan,” katanya.

Dalam jangka panjang kebijakan itu tak menguntungkan dalam mengamankan stok pangan nasional. Kiki Partini memandang tak bijak keputusan ekspor tersebut. Pemerintah mestinya fokus pada ketersediaan beras nasional. ”Pemerintah jangan ikut memikirkan keuntungan seperti spekulan,” katanya. Selain itu untuk mengekspor beras tidak mudah karena ada standar kualitas yang mesti dipenuhi. Sementara realitas pengadaan beras di Bali saja memang sulit memenuhi standar tersebut. Pasalnya kebanyakan unit penggilingan beras di Bali berstandar kecil. Lebih-lebih petani masih cenderung menjual dalam bentuk gabah di sawah. Dari segi kualitas, diakui kurang bisa dipertanggungjawabkan hasil tebasan tersebut. Dalam kondisi seperti itu semua pihak termasuk pemerintah mesti bersatu untuk peduli terhadap nasib petani.

Diambil Hikmahnya
Menurut pengamat ekonomi yang juga Dekan FE Unud Dr. Wayan Ramantha dan pakar pertanian yang juga dosen FP Unud Dr. Made Merta, naiknya harga beras di luar negeri harus diambil hikmahnya khususnya dalam mengelola pertanian di Indonesia. Dengan naiknya harga komoditi pertanian tersebut, bisa dijadikan acuan ke depan agar pertanian lebih bergairah lagi.

Bukan sebaliknya Indonesia buru-buru mau menjual kelebihan berasnya karena tergiur harga beras yang lagi naik. ”Bagaimana nantinya kalau beras di dalam negeri kurang, apa mau impor lagi,” tanya kedua akademisi ini.

Mestinya kestabilan produksi yang harus diamankan lebih dulu sebelum berpikir menjual. Sebab, dari pengalaman terakhir ini, Indonesia kerap kekurangan beras. Rendahnya produksi beras di dalam negeri selain disebabkan panen yang banyak gagal karena faktor serangan hama dan penyakit juga akibat bencana alam. ”Juga lahan makin menyempit yang diikuti dengan menurunnya jumlah petani,” tambah Merta.

Kondisi itu diperparah lagi dengan harga gabah yang selalu anjlok saat panen raya petani. Terlepas dari kondisi demikian, apa yang bisa dihasilkan saat ini mestinya bisa menjadi aset di dalam negeri. ”Bukan harus buru-buru menjualnya dengan dalih adanya keuntungan karena perbedaan harga beras yang ada,” jelasnya.

Ramantha menambahkan, mestinya kelebihan beras pada musim tanam ini justru diamankan untuk memenuhi stok di dalam negeri. ”Kecuali stok sudah terlalu melimpah, peluang menjual itu dimungkinkan karena adanya keuntungan besar untuk negara,” tegasnya. Namun, ia condong untuk menyimpan kelebihan beras yang ada daripada menjualnya.

Ia juga mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam menghadapi situasi pasar yang relatif kurang stabil ini. Apalagi beberapa negara yang dikenal sebagai penghasil beras justru menahan berasnya saat harga naik. Bahkan, Vietnam dan India yang kelebihan beras justru kini membeli beras ke luar untuk disimpan. Ini kan ada sesuatu dari kondisi itu sehingga negara yang kelebihan beras justru menyimpan berasnya ketimbang menjual meski harga beras di pasar dunia lagi booming.

Berkaca dari fenomena yang terjadi tersebut, menurut Merta, pemerintah sebaiknya berhati-hati mengambil keputusan untuk ekspor beras tersebut berapa pun untungnya. Sebab, dari pengalaman masalah beras ini sangat rentan. Posisi beras yang sangat strategis jangan sampai membawa dampak sosial yang buruk bagi rakyat. ”Kalau tak ada minyak rakyat masih bisa, namun kalau tak ada beras, rakyat tak makan,” jelasnya.

Pakar pertanian Unud ini mengatakan kondisi alam saat ini lagi tak bersahabat. Bencana alam telah merusak tanah-tanah pertanian. Demikian pula akibat anomali iklim, tanaman petani banyak gagal karena serangan hama dan penyakit yang meledak. Jadi sulit memprediksi alam serta dan hasil panen. Memang saat ini terjadi panen raya, namun siapa menjamin musim berikutnya panen bisa aman. (sua/lit)

One response to “Ekspor Beras Tak Menguntungkan Stok Pangan Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s