Ingin Pemimpin yang Tahu Petani

Sumber Kompas

Kamis, 3 April 2008 | 00:40 WIB

Oleh Mukhamad Kurniawan

Beberapa pekan menjelang masa kampanye, para calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat sudah menyempatkan diri bertemu petani Kabupaten Karawang dan Subang. Selain memperkenalkan diri, para calon mulai mengumbar janji untuk memikat simpati petani di daerah lumbung padi tersebut.

Mohamad Aminjana, Omo Ahmad, dan Rukidi adalah sebagian dari petani yang berkesempatan menyampaikan keluhan kepada calon gubernur yang mengunjungi desa mereka di Kecamatan Telagasari, Karawang, beberapa waktu lalu.

Ada sederet masalah yang mereka sampaikan, mulai dari kelangkaan pupuk, serangan hama, pengairan, modal, hingga fluktuasi harga jual gabah. Menurut Omo, Ketua Kelompok Tani Sumber Motekar Jaya di Desa Pasirmukti, Kecamatan Telagasari, beberapa masalah itu sebenarnya klasik, tetapi selalu berulang dari tahun ke tahun.

Mereka baru panen, tetapi harga jual dan hasilnya kurang memuaskan. Padahal, dua hal itu sangat menentukan pendapatan petani. Mereka menyebut harga Rp 1.700 per kilogram untuk gabah kering panen (GKP) saat ini sebenarnya tak layak. Tetapi, sebagian besar petani tak berdaya menghadapi situasi itu karena rendahnya mutu gabah.

Kadar air dan kadar hampa gabah musim ini tinggi. Produktivitas menurun dari 5-6 ton per hektar menjadi 3-5 ton per hektar akibat serangan hama tikus, penggerek batang, dan kresek. Petani merugi musim ini. Menurut Omo, dengan ongkos produksi mencapai Rp 5 juta per hektar, harga gabah idealnya mencapai Rp 2.400 per kg GKP, tetapi petani hanya bisa menjual maksimal Rp 1.800 per kg.

Rukidi menambahkan, anjloknya harga hanya sebagian kecil dari masalah yang kini dihadapi petani. Akibat anjloknya harga jual, petani kini kesulitan modal tanam. Tak sedikit petani yang akhirnya meminjam modal ke pengijon dengan sistem ”yarnen” atau bayar setelah panen.

”Setelah modal tanam, masalah kelangkaan pupuk, banjir atau kekeringan di lahan pertanian, serta hama bukan tidak mungkin terjadi lagi seperti tahun sebelumnya,” ujarnya.

Terhadap pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jabar 2008, harapan Rukidi kiranya mewakili keinginan semua petani di Jabar. ”Siapa pun yang terpilih sebagai gubernur nanti semoga benar-benar mengerti petani dan propertanian. Selama ini petani seolah masih bekerja sendiri, memacu produksi, dan mengatasi masalahnya secara mandiri,” ujarnya.

Pekerjaan rumah
Produksi padi Jabar tahun 2008 berdasarkan angka ramalan I Badan Pusat Statistik mencapai 10,046 juta ton gabah kering giling (GKG). Jika dibandingkan dengan sentra padi lainnya di Jawa, produksi Jabar lebih tinggi daripada Banten (1,838 juta ton), Jawa Tengah (9,138 juta ton), bahkan Jawa Timur (9,441 juta ton).

Dengan gambaran itu, tak salah jika menyebut Jabar sebagai lumbung padi nasional. Ironisnya, hingga kini, sentra padi di Jabar justru identik dengan kantong kemiskinan. Indeks pembangunan manusia (IPM) yang memakai indikator tingkat pendidikan, kesehatan, dan daya beli bisa menjadi cermin atas masalah itu.

Tahun 2006, misalnya, menempatkan Kabupaten Cirebon (IPM 65,51), Indramayu (65,72), Karawang (66,95), dan Cianjur (67,44) di urutan pertama, kedua, ketiga, dan keempat sebagai kabupaten dengan angka IPM terendah. Padahal, keempat kabupaten itu memiliki areal pertanian yang luas dan memberi sumbangan tinggi bagi produksi Jabar.

Dengan demikian, sektor pertanian terbukti belum menyejahterakan petani. Menurut Deden Sofian, Ketua Serikat Petani Karawang, siapa pun yang terpilih menjadi kepala daerah memiliki pekerjaan rumah menyejahterakan petani serta membangun pertanian yang masih menjadi sektor utama yang menghidupi warga Jabar.

Ijam Sujana, Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Karawang, menambahkan, sebagai daerah yang menjadi penyangga stok beras nasional, sudah seharusnya Jabar memiliki pemimpin yang memiliki tekad kuat membangun sektor pertanian dan dekat dengan petani.

Deden menambahkan, pemimpin baru Jabar harus membantu petani kecil dan buruh tani yang menjadi subyek dominan usaha pertanian. Mereka memiliki lahan yang sempit sehingga sulit meningkatkan pendapatan meski hasil panen dan harga jual komoditas gabah sedang tinggi.

”Buruh tani dan petani kecil bisa dibantu dengan memberi alternatif pendapatan di luar usaha pertanian padi seperti peternakan dan jenis usaha kecil lainnya,” lanjut Deden.

Pembangunan kawasan yang terintegrasi juga diperlukan untuk menopang kelangsungan usaha pertanian di Jabar. Deden mencontohkan, masalah banjir kini semakin rutin melanda area persawahan pesisir utara. Rusaknya daerah tangkapan air di daerah resapan air meningkatkan laju sedimentasi serta risiko banjir di daerah hilir.

Selain kebanjiran, area persawahan di pesisir utara juga identik dengan kekeringan saat musim kemarau. Padahal, kerusakan saluran irigasi berupa pendangkalan, penyempitan, serta kebocoran membuat distribusi air tidak efektif hingga ke daerah hilir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s