Menerobos Negara untuk Menjual Hasil Pertanian

Sumber Kompas

Jumat, 4 April 2008 | 01:25 WIB

Sinar rembulan menyusup di sela rerimbunan hutan di perbukitan wilayah Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Derap langkah laki-laki bernama Temat (27) terdengar jelas menyeruak bukit yang berbatasan langsung dengan wilayah Serawak, Malaysia.

Jika bagi sebagian orang waktu yang mulai beranjak malam itu adalah waktu terbaik untuk memulai istirahat, justru bagi Temat itu adalah waktu untuk menjual hasil pertanian. Itulah sebabnya, pukul 19.00, warga Dusun Badat Lama, Desa Suruh Tembawang itu, mulai melakukan perjalanan ke kampung Gun Sapit, Sarawak, Malaysia.

Berbekal lampu senter, sepatu karet, dan sebuah takin (keranjang rotan yang dipanggul dengan mengaitkan tali ke dahi), Temat menempuh perjalanan naik turun bukit selama tiga jam ke perbatasan negeri jiran tersebut untuk menjual 15 kilogram (kg) jahe dan lima kg cabai.

Gun Sapit adalah kampung terdekat yang menjadi tempat pemasaran hasil pertanian empat dari tujuh dusun di Desa Suruh Tembawang. Di kampung itu, setiap Minggu pagi digelar pasar dadakan untuk warga perbatasan tersebut menjual barang dagangan.

Dengan harga jual cabai di Gun Sapit delapan ringgit per kg dan harga jual jahe 2,5 ringgit per kg, total pendapatan yang diperoleh Temat dalam sekali penjualan itu 77,5 ringgit. Jika ditukar dalam rupiah, uang sejumlah itu setara dengan Rp 220.000.

Tak sebanding
Kalau melihat kerja keras saat menanam, merawat, memanen, dan mengangkut hasil pertanian tersebut, bisa dikatakan tidak sebanding dengan pendapatan. Tetapi, itulah satu-satunya pasar terdekat dari dusun tersebut.

”Kalau harus dijual ke Entikong justru rugi karena lebih jauh, makan waktu lama, dan tidak sebanding dengan ongkos menyewa perahu motor,” katanya.

Antonius Bake (27), petani Badat Lama lainnya, menyatakan, hampir tiap minggu ia pergi ke Malaysia untuk menjual jahe dan terong asam.

”Ke Malaysia meskipun payah masih bisa ditempuh dengan jalan kaki, sementara kalau ke Entikong harus naik perahu motor yang ongkosnya mencapai Rp 1. juta. Kalau ada perhatian dari pemerintah dalam bentuk pembangunan jalan ke kampung, warga tidak lagi menjual ke Malaysia,” katanya.

Nasib tak jauh beda dialami Ae Siswanto (25), warga Desa Tawang, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, yang berbatasan langsung dengan Tabang, Serikin, Malaysia. Ia memasarkan lada dan kakao ke Desa Suruh Tembawang karena tergolong paling dekat dari kampungnya.

Saat ditemui di Desa Suruh Tembawang, ia dan adiknya, Yus (16), tengah beristirahat setelah berjalan kaki selama 8 jam dari kampungnya. Perjalanan melewati tiga bukit dan menyeberangi beberapa anak sungai itu dilalui dengan membawa 10 kg lada dan 6 kg kakao.

Dengan harga jual lada Rp 45.000 per kg dan kakao Rp 15.000 per kg, total hasil yang diterima Rp 540.000. Pulangnya, Siswanto masih membawa beban seberat 50 kg pupuk SP 36 buatan Malaysia yang dibeli seharga Rp 380.000.

”Ada 50-an warga desa saya yang menjual hasil bumi ke Suruh Tembawang. Kalau dijual ke Kecamatan Siding harus jalan kaki selama dua hari dan menginap semalam di hutan,” katanya.

Hasil pertanian yang dijual ke Suruh Tembawang itu oleh pedagang di sana dikumpulkan lalu dibawa menggunakan perahu motor menyusuri Sungai Sekayam untuk dipasarkan kembali ke Entikong. Dari Entikong, ujung-ujungnya dijual juga ke Malaysia melalui Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Entikong-Tebedu. Perdagangan lintas batas negara di Entikong berlangsung dalam skala besar. Sebab, menjadi pintu masuk resmi kedua kedua negara, yang ada di Kalbar saat ini.

Apa yang dialami, Temat, Bake, dan Siswanto hanyalah cermin perjuangan masyarakat perbatasan menempuh perjalanan dengan berjalan kaki berjam-jam, naik turun bukit berkilo-kilometer, menerobos batas negara hanya menjual hasil bumi.

Selain menjual hasil pertanian ke Malaysia, warga perbatasan juga membeli kebutuhan sehari-hari dari negara tetangga ini. Warung-warung di dusun perbatasan itu juga membeli barang dagangan dari Malaysia.

Di warung milik Papek (24), warga Gun Tembawang, misalnya, hanya ada beberapa barang dagangan buatan Indonesia. Hampir 95 persen barang yang dijual di sana bermerek dagang Malaysia.

Dominasi
Dominasi barang dagangan dari Malaysia juga dijumpai di warung milik Budeng (32), warga Dusun Gun Jemak. Tak hanya itu, harga yang tercantum dalam kemasan barang yang dijual juga menggunakan satuan ringgit.

”Barang dagangan di sini banyak dibeli dari Malaysia menggunakan ringgit. Uang yang dimiliki warga di sini juga ringgit. Itu mereka dapatkan dari hasil penjualan panenan di Malaysia. Mau tidak mau yang banyak beredar di sini, ya, uang Malaysia itu,” katanya.

Lagipula, menurut Papek, jika menerima pembelian menggunakan rupiah, sulit membelanjakan kembali di kampung itu. Jika menerima pembayaran memakai rupiah, uang itu perlu ditukar atau dibelanjakan di Entikong.

Kesalahan ini tidak bisa ditumpukan kepada mereka. Sebab, jangankan menyediakan pasar dengan harga memadai, pemerintah sampai sekarang belum terlihat membuat jalan darat menembus desa itu dari Entikong.

”Ibaratnya, di mana ada gula di situ ada semut. Warga yang miskin selalu berusaha memperbaiki nasib dengan pergi ke tempat yang bisa menyelesaikan masalah perut dan kesejahteraan,” kata pemerhati sosial William Chang.

Fenomena penduduk perbatasan yang mulai berjualan menembus batas negara hingga pindah kewarganegaraan karena tidak tersentuh pembangunan, menurutnya, menunjukkan kegagalan negara untuk menyejahterakan rakyat. Ini seharusnya menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dan pusat untuk lebih menyejahterakan rakyat.

”Kuncinya pada penerapan prinsip kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan. Jika ini bisa terwujud, justru warga negara lain berdatangan ke sini ataupun menjadi warga negara kita,” katanya. (WHY)

One response to “Menerobos Negara untuk Menjual Hasil Pertanian

  1. Sya sangat setuju dengan apa yang d katakan warga perbatasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s