Cukupkah Lahan Pertanian Kita?

Sumber Kompas

Rabu, 9 April 2008 | 01:17 WIB

Anton Apriyantono

Sebagai negara agraris, luas daratan kita hanya sepertiga luas wilayah Indonesia, sedangkan sisanya merupakan lautan. Luas daratan itu masih harus direduksi hutan lindung, hutan produksi, permukiman, industri, dan kebutuhan infrastruktur yang jumlahnya terus meningkat.

Belum lagi dikurangi alih fungsi lahan sawah beririgasi teknis dengan laju yang bisa mencapai 80.000 hektar per tahun. Sementara itu, kemampuan cetak sawah nasional maksimal masih di bawah laju alih fungsinya. Jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 220 juta jiwa, laju pertumbuhan 1,3 persen per tahun dan terkonsentrasi di Jawa mendorong laju alih fungsi lahan semakin tinggi dan Jawa menjadi tereksploitasi berlebihan yang tercermin dari luas pemilikan lahan rata-rata yang terus menciut.

Di Jawa luas kepemilikan hanya 0,3 hektar per KK dan sementara di luar Jawa hanya 1 hektar. Padahal, kita tahu, menurut hasil analisis ekonomi sederhana, luas kepemilikan lahan yang ekonomis minimal 2 hektar di Jawa dan lebih dari 10 hektar untuk luar Jawa.

Lahan terus menciut
Pertanyaan fundamental yang mengemuka adalah dengan jumlah penduduk dan jumlah petaninya yang terus meningkat, cukupkah lahan pertanian kita untuk memenuhi seluruh kebutuhan beras, jagung, kedelai, daging sapi, gula, sayuran, dan buah- buahan? Sebagai pembanding, kita bisa melihat profil lahan pertanian di Brasil. Luas lahan pertanian Indonesia keseluruhan yang sekitar 21 juta hektar itu hanya sama dengan luas lahan kedelai yang ada di Brasil yang penduduknya lebih kecil dari Indonesia (mendekati 200 juta), luas sawah Indonesia sama dengan luas lahan tebu di Brasil, sementara luas ladang penggembalaan sapi di Brasil (220 juta hektar) lebih luas dari seluruh daratan di Indonesia (190 juta hektar).

Dengan kondisi lahan yang ada, realistiskah Indonesia harus memenuhi semua kebutuhan kita dari produksi dalam negeri? Di mana kita menanam kapas, kedelai, padi, jagung, tebu, berapa luas, lalu bagaimana dengan kompetisi penggunaan lahan yang terjadi? Kompetisi penggunaan lahan itu sudah terjadi antara jagung dengan padi, kedelai, tebu di Jawa. Petani tentu akan memilih komoditas yang paling menguntungkan, risikonya kecil, biaya produksinya terjangkau, dan pasarnya menjanjikan.

Lalu, bagaimana dengan swasembada yang harus kita capai dengan tenggat waktu semakin dekat? Dampak kompetisi penggunaan lahan terekspresi dengan jelas ketika produksi jagung nasional tahun 2007 naik sampai 14,4 persen, beras naik 4.8 persen, tetapi produksi kedelai meluncur menuju titik nadirnya.

Pendapat publik yang menyatakan lahan kita subur gemah ripah loh jinawi itu memang benar, tetapi itu tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan semua komoditas. Lahan subur untuk memproduksi komoditas pangan sebagian besar ada di Jawa dan saat ini keberadaannya terus menciut akibat alih fungsi lahan yang kurang terkendali. Jika tidak ada koreksi terhadap perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah akan mengorbankan lahan sawah subur 3,1 juta hektar, 1,67 juta hektar terjadi di Jawa dan Bali, sehingga kontribusi Jawa dalam produksi padi yang saat ini mencapai 60 persen dipastikan akan terganggu.

Pertanyaan mendasarnya adalah: bagaimana memenuhi target swasembada jagung, kedelai, daging sapi, gula dengan situasi alih fungsi dan kompetisi penggunaan lahan yang luar biasa ini? Intensifikasi, diversifikasi, tumpang sari, dan ekstensifikasi yang dirancang menggunakan format baru merupakan solusinya. Selain itu, tentu saja harus ada upaya pencegahan alih fungsi lahan subur.

Alternatif solusi
Pemerintah melalui badan penelitian dan pengembangan, baik yang ada di departemen, kantor menteri negara, perguruan tinggi, maupun lembaga pemerintah nondepartemen, dapat bersinergi sehingga mampu menaikkan secara konsisten produktivitas jagung, kedelai, sapi, gula minimal 125-150 persen dalam periode 1-3 tahun ke depan. Peran ini harus secepatnya direalisasikan sehingga produktivitas komoditas target swasembada menjadi: lebih baik, lebih cepat, dan lebih murah dicapai.

Teladan tantangan yang paling sederhana adalah: mampukah kita menghasilkan sapi beranak dua (kembar) seperti di Kalimantan Selatan, padi sawah dapat diproduksi rata rata 9-10 ton per hektar dengan indeks pertanaman rata-rata nasional 200 persen, produktivitas padi lahan kering di atas 4 ton per hektar dengan prinsip better, faster, dan cheaper? Kalau itu bisa dilakukan, ada ruang gerak lebih luas untuk alokasi penggunaan lahan berbagai komoditas dalam rangka mencapai swasembada.

Keberlanjutan intensifikasi harus didukung diversifikasi baik input, sistem, output dari sistem produksi. Model crops livestock system (CLS) misalnya, produk jeraminya dapat digunakan pakan ternak, kompos, dan jamur. Sementara itu, produksi padinya dikembangkan untuk dedak, kulit padinya untuk bahan pupuk. Peningkatan rantai proses ini akan mendiversifikasi sumber pendapatan petani, meningkatkan nilai tambah, menurunkan biaya produksi (pupuk), menyerap tenaga kerja yang sangat besar sehingga secara simultan membuka ruang yang lebih luas dalam peningkatan kesejahteraan petani.

Pilot proyek CLS sudah ada di beberapa wilayah, pemerintah akan terus menstimulir agar tumbuh industri CLS baru yang bersinergi dengan komoditas lain dan bukan berkompetisi seperti yang terjadi selama ini. Model integrasi lainnya akan terus didiversifikasi dan dikembangkan agar tersedia banyak pilihan dalam rangka swasembada pangan.

Ekstensifikasi lahan pertanian baru merupakan keharusan meskipun secara praktik ada batasnya. Sambil meningkatkan kemampuan memperlambat laju alih fungsi lahan subur dan stabilisasi laju pertumbuhan penduduk, pemerintah masih akan membuka lahan sawah baru yang didukung irigasi teknis di luar Jawa, lahan penggembalaan, lahan hortikultura sebagai bagian dari implementasi revitalisasi pertanian.

Model penanaman secara tumpang sari, misalnya jagung dengan kedelai, menanam jagung atau kedelai di sela-sela tanaman sawit atau karet yang masih muda, akan diupayakan. Modernisasi pertanian merupakan keharusan agar efisiensi sistem produksi dan pendapatan dapat dioptimalkan.

Anton Apriyantono Menteri Pertanian Kabinet Indonesia Bersatu

2 responses to “Cukupkah Lahan Pertanian Kita?

  1. sungguh menyedihkan bila melihat lahan pertanian yang terus menyempit seperti saat ini, bahkan lahan yang sudah sempit ini terus menerus dijadikan lahan industri atau bisnis..
    bukanKah jauh lebih baik dijaga dan dikelola dengan baik?
    apa jadinya bil 10 atau beberapa tahun kedepan jika Indonesia sudah tidak memiliki lahan pertanian lagi?
    mau makan apa anak-cucu kita?
    lalu sekarang pertanyaannya,apa maih pantas sebutan NEGARA AGRARIS untuk INDONESIA?

  2. apakah masih pantas sebutn negara agrari untuk Indonesia????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s