Menyiapkan Benteng Penangkis Tsunami Krisis Pangan

Sumber Kompas | Jumat, 25 April 2008 |

Oleh Hamzirwan

Lonjakan harga komoditas yang sulit dibendung semakin mendera penduduk miskin di berbagai negara. Program Pangan Dunia PBB atau WFP menyebut krisis pangan ini sebagai serangan tsunami senyap. Mampukah Indonesia bertahan dalam krisis terparah pasca-Perang Dunia II ini?

Dari 188 juta hektar lahan yang tersedia, ada sedikitnya 100 juta ha yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan nonkehutanan. Sebagai negara tropis, hampir semua komoditas, yang kini harganya meroket di pasar internasional, bisa ditanam di Indonesia.

Jagung, kedelai, beras, kelapa sawit, sampai karet sudah ditanam turun-temurun sejak lama. Selama dua tahun terakhir, tingkat kenaikan harga komoditas itu mencengangkan.

Harga jagung internasional pada Januari 2008 naik 26 persen dari periode yang sama tahun 2007. Di dalam negeri, harga jagung naik dari Rp 1.000 per kilogram pada awal tahun 2007 dan kini berkisar Rp 2.500 per kg sampai Rp 2.800 per kg.

Untuk kedelai impor, harganya juga naik dari Rp 3.500 per kg pada kuartal IV-2007 menjadi Rp 7.500 per kg pada kuartal I-2008. Hanya kurang dari empat bulan, harga kedelai naik lebih dari 100 persen!

Diisi kelapa sawit
Dalam diskusi terbatas yang diikuti Deputi Bidang Pertanian dan Kelautan Kantor Menko Perekonomian Bayu Krisnamurthi, pengamat pertanian Bustanul Arifin, Wakil Presiden Direktur Indofood Sukses Makmur Franciscus Welirang, dan ekonom dari IPB Rina Oktaviani di Redaksi Kompas pada Rabu (23/4), Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun mengungkapkan, Eropa yang selama ini produsen utama minyak lobak atau kanola (rapeseed) mulai menjadi pengimpor murni karena tingginya kebutuhan domestik.

”Banyak negara yang tidak memiliki sumber daya tetapi ingin membangun industri biodiesel skala besar yang membutuhkan banyak minyak nabati. Minyak sawit kemudian mengisi kekurangan yang terjadi di pasar internasional sehingga harga CPO (crude palm oil) juga meningkat,” kata Derom.

Harga CPO pun naik tajam dari 500 dollar AS per ton pada Desember 2006 menjadi 1.000 dollar AS per ton pada Desember 2007. Adapun harga lokal naik dari Rp 5.124 per kg pada 22 Desember 2006 menjadi sekitar Rp 8.000 per kg pada Desember 2007.

Selain faktor permintaan, pergerakan harga CPO sangat dipengaruhi fluktuasi harga minyak mentah. Seperti yang terjadi sebulan terakhir.

Setelah sempat melemah hingga menyentuh 86 dollar AS per barrel pada Februari 2008, harga minyak kembali meroket hingga hampir menembus 120 dollar AS per barrel pekan ketiga April ini. Hal ini turut mengerek harga CPO di Rotterdam yang sekarang menjadi 1.200 dollar AS per ton untuk pengiriman Mei 2008.

Salah satu penyebab kenaikan harga CPO internasional saat ini adalah penurunan produksi Malaysia pada paruh pertama bulan April sebesar 6,6 persen. Kondisi serupa juga terjadi di Sumatera dan sebagian Kalimantan, produksi CPO sedikit menurun akibat pengaruh cuaca.

Peluang Indonesia
Derom mengatakan, sejak tahun 1970-an, masa kelapa sawit diperkenalkan luas kepada masyarakat di Indonesia, sampai akhir tahun 2005, harga CPO sangat fluktuatif.

”Kalau boleh dibilang, malah, tingkat penurunan harga CPO seringnya lebih banyak ketimbang kenaikannya. Baru mulai tahun 2006 harga terus bergerak naik. Kalaupun sempat melemah hanya sedikit, lalu kemudian naik lagi,” kata Derom.

Sejak tahun 2006, Indonesia merupakan produsen CPO utama dunia dengan produksi sebesar 16 juta ton. Pada tahun 2007, Indonesia memproduksi 17,3 juta ton CPO dari lahan seluas 6,3 juta ha.

Sebanyak 12,8 juta ton diekspor dan 4,5 juta ton lagi diserap pasar domestik. Dari 4,5 juta ton tersebut, hanya 1,5 juta ton sampai 2 juta ton yang diolah untuk produk hilir seperti komestik, produk konsumsi, dan biodiesel. Sekitar 2,5 juta ton sampai 3 juta ton diolah menjadi minyak goreng, yang mana Pulau Jawa merupakan pasar terbesar dengan kebutuhan sedikitnya 200.000 ton per bulan atau 2,4 juta ton per tahun.

Akan tetapi, kenaikan harga CPO turut mendongkrak harga minyak goreng dan menjadi masalah kita.

Pada Mei 2007, harga minyak goreng curah naik dari Rp 5.500 per kg menjadi Rp 8.000 per kg. Pada April 2008, harga minyak goreng sudah mencapai Rp 13.000 per kg sampai Rp 14.000 per kg.

Untuk menstabilkan harga minyak goreng domestik, pemerintah memberlakukan pungutan ekspor (PE) CPO secara progresif mulai 3 September 2007. Jika harga CPO di Rotterdam di atas 850 dollar AS per ton, maka berlaku tarif PE 10 persen, 1.100 dollar AS (15 persen), 1.200 dollar AS (20 persen), dan 1.300 dollar AS (25 persen). ”Untuk April ini pemerintah menetapkan 20 persen karena harga dianggap di atas 1.200 dollar AS per ton. Padahal, harga riil sekarang di bawah 1.200 dollar AS sehingga tarif PE efektif saat ini sebenarnya 22 persen dan memberatkan,” kata Derom.

Rakyat diprioritaskan
Menurut Derom, pemerintah seharusnya menjadikan kenaikan harga sebagai peluang bagi perkembangan kelapa sawit nasional. Intensifikasi dan ekstensifikasi perkebunan kelapa sawit rakyat harus menjadi prioritas.

Dengan asumsi harga rata-rata CPO 800 dollar AS per ton dan harga inti kelapa sawit 480 dollar AS per ton, Indonesia berpotensi meraih devisa sebesar Rp 153,2 triliun. Nilai ini diperoleh jika produksi CPO sebesar 18,6 juta ton dan inti kelapa sawit 3,7 juta ton.

Kebijakan tarif PE progresif tersebut kini cenderung melemahkan pertumbuhan industri hilir minyak sawit karena harga CPO di pasar lokal lebih murah ketimbang pasar internasional. ”Jadi, pengusaha tetap memilih mengekspor,” kata Derom.

Menurut Bayu, kebijakan terhadap komoditas kelapa sawit sangat dilematis. Walaupun ada penerimaan dari PE CPO, pemerintah tetap harus membantu rakyat miskin dengan subsidi.

”Jadi, harga tinggi dan rendahnya daya beli yang menjadi masalah. Kalau pasokan sebenarnya masih cukup sehingga tidak ada kelangkaan di pasar,” kata Bayu.

Bayu menegaskan, harga semakin liar sejak para pialang di bursa komoditas bermain. Selembar kontrak penjualan suatu komoditas untuk pengiriman masa mendatang (future trading) bisa berpindah tangan 17 kali sebelum akhirnya pengiriman dieksekusi.

”Jadi, para pialang ’menggoreng’ komoditas tersebut dan baru menjualnya saat sudah sampai pada titik margin tertentu. Tindakan ini sebenarnya sangat melanggar hak asasi manusia penduduk miskin yang membutuhkan pangan berharga murah,” kata Bayu.

Menurut Rina, pemerintah harus segera merealisasikan rencana pembangunan jangka panjang yang fundamental dan struktural dengan tujuan spesifik. Jangan lagi bertindak untuk jangka pendek, seperti yang lebih banyak dilakukan sekarang.

”Jika pertanian masih seperti sekarang, kita akan tetap menderita. Kenaikan harga komoditas sudah terjadi sejak tahun 2002 dan kondisi saat ini merupakan dampak dari respons yang terlambat,” ujar Rina.

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad mengatakan, pemerintah masih kurang optimal dalam memanfaatkan momentum yang ada saat ini. Seharusnya kelembagaan yang mendukung perkelapasawitan nasional terus diperkuat sehingga Indonesia bisa mengambil manfaat dari kenaikan harga komoditas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s