Wayan, “Dokter Durian” dari Parigi Moutong

Sumber Kompas | Jumat, 25 April 2008 | 00:24 WIB

Oleh RENY SRI AYU TASLIM

Menjadi dokter yang punya klinik sekaligus petani yang berhasil mengembangkan durian montong tentulah dua profesi yang berbeda. Namun, I Wayan Aryana bisa memadukan dua hal ini. Ini pula agaknya yang membuat dia disapa ”dokter durian”.

Sekadar fakta yang menunjukkan kesuksesan dari dua profesi ini. Di Desa Tolai, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, ia punya klinik kecil dengan 16 kamar rawat inap, 3 dokter ahli, dan 15 paramedis. Sebagai dokter umum, Wayan mengabdikan hidupnya mengurusi pasien setiap hari, selama lima hari sepekan. Ia berobsesi mengembangkan klinik ini menjadi rumah sakit berfasilitas lengkap dan punya dokter ahli.

Sebagai petani, secara bertahap Wayan ”menyulap” sekitar 25 hektar lahan tidur menjadi areal kebun durian montong. Di areal kebun yang berjarak sekitar 10 kilometer dari jalan trans-Sulawesi itu, ia punya sekitar 5.000 pohon durian yang sudah berproduksi.

Dalam areal kebun durian ini ada pula rambutan dan kakao. Sekali seminggu, Wayan menyambangi kebun dan melihat perkembangan tanaman. Disempatkannya pula berdiskusi dengan para pekerja di kebun.

Di Parigi Moutong, sekitar 70 kilometer arah timur Kota Palu, Wayan bukan petani biasa. Boleh dikata, dialah yang pertama kali mengembangkan jenis durian tersebut. Keberhasilannya menginspirasi petani lain untuk melakukan hal sama dan mendapat nilai lebih dari bertani.

Untuk kebun duriannya, Wayan mempekerjakan tenaga tetap 12 orang dan 30-50 orang setiap kali panen pada Maret dan Agustus. Hasil kebunnya tak hanya dijual di wilayah Sulteng, tetapi juga dipasarkan sampai Makassar, Manado, Balikpapan, dan Samarinda. Harganya pun lebih tinggi dibandingkan dengan harga durian jenis lokal. Ini salah satu alasan petani lain melirik dan mengikuti jejak Wayan di bidang pertanian.

Sebelumnya tak sedikit orang yang sinis, bahkan menganggap Wayan gila. Bagi sebagian petani, usahanya mengawinkan durian jenis lokal dengan durian bangkok dianggap sebagai sesuatu yang mustahil.

Tanaman durian di kebun Wayan umumnya hasil perkawinan durian lokal parigi yang rasanya enak dengan durian bangkok yang buahnya besar. Hasilnya, durian montong yang besar buahnya dan lezat rasanya.

Di sisi lain, ada pula orang yang menganggap dia serakah sebab tak merasa cukup dengan profesi dokter dan sebagai pegawai Dinas Kesehatan Parigi Moutong. Ia masih pula menjadi petani.

Wayan tak hirau dengan anggapan ”miring” itu. ”Saya hanya berpikir, mengapa buah yang bisa kita tanam dan kembangkan sendiri, dengan kualitas dan kuantitas tak kalah dari buah impor, harus didatangkan dari luar negeri? Saya lihat di swalayan dan pasar tradisional, bahkan penjual buah pinggir jalan, buah impor dipajang dengan harga lebih mahal. Sekalipun mahal, buah itu tetap banyak peminatnya.”

Pemikiran itu, dibarengi hobi dan bakat bercocok tanam, mendorong Wayan merambah profesi sebagai petani buah. ”Saya pilih durian montong karena Parigi salah satu sentra durian di Sulteng, dan belum ada petani yang mengembangkan durian jenis ini. Padahal, buah ini banyak peminatnya. Harganya juga bagus,” katanya.

Bercocok tanam
Bakat Wayan bercocok tanam menurun dari orangtua yang guru sekaligus petani. Tak sekadar bakat, berkebun menjadi salah satu hobinya. Namun, untuk kuliah, Wayan memilih kedokteran dengan alasan klasik.

”Sebagaimana mimpi banyak orang yang bercita-cita jadi dokter, saya ingin mengabdi, bekerja di rumah sakit, berpakaian putih dengan pendapatan besar. Tak pernah terpikir menjadi petani atau nyambi sebagai petani.”

Alasan ini pula yang membuat dia memutuskan berhenti dari Jurusan Matematika IKIP Yogyakarta kendati sudah menjalani kuliah dua tahun sejak 1977. Obsesi menjadi dokter mendorong Wayan mendaftar pada Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, tahun 1979.

Sebagai dokter baru, Wayan sempat ditugaskan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta, selama enam bulan. Pada tahun yang sama, 1986, dia menerima penugasan di Desa Bunobogu, Kecamatan Bunobogu, Kabupaten Buol Tolitoli.

Tempat tugas pertamanya di luar Pulau Jawa ini berjarak sekitar 500 kilometer arah barat Palu, dengan waktu tempuh sekitar 13 jam perjalanan darat dari ibu kota Provinsi Sulteng ini. Kuliah di Bali dan memulai tugas pertama di Jakarta membuat Wayan sempat shock saat pertama tiba di Bunobogu.

”Saya telepon orangtua dan bilang, saya bertugas di daerah antah berantah. Saya bilang kepada mereka, tempat tugas saya seperti daerah di abad sebelum Masehi,” kenangnya.

Namun, dorongan ingin mengabdi dan bayangan akan ditempatkan di rumah sakit besar pascapenugasan di daerah terpencil membuat Wayan menjalankan tugas dengan besar hati. Selesai bertugas di Bunobogu, ia dipindahkan ke Tolitoli, lalu ke RS Anutapura, Palu.

Penempatan berikutnya tahun 1990, ia memilih Parigi ketimbang Bali. Alasannya, Parigi adalah salah satu daerah transmigrasi terbesar di Sulteng dan banyak kerabat Wayan dari Bali. Daerah ini pun membutuhkan dokter.

Pilihan Wayan tak salah karena di daerah ini pula ia melihat peluang mengembangkan hobi dan bakat bercocok tanamnya. Tahun 1997 dia mulai membuka 5 hektar lahan tidur untuk ditanami durian. Lahan ini terus berkembang hingga mencapai 25 hektar. Pendapatannya sebagai petani jauh lebih besar ketimbang sebagai dokter.

Sekadar gambaran, untuk setiap pohon sekali panen mencapai 40 buah dengan berat 4-7 kilogram per buah. Setiap kilogram durian yang dijual di kebun harganya Rp 12.500-Rp 15.000 per kilogram. Ini masih dikalikan dengan 5.000 pohon produktif di kebunnya, yang panen dua kali dalam setahun.

Obsesi Wayan tak berhenti di sini. Ia berencana menjadikan areal kebun durian montong itu menjadi obyek wisata agro di Parigi Moutong. Meski bisa dikatakan berhasil, ia hidup sederhana. Profesinya tidak ditinggalkan. Wayan juga tetap menomorsatukan urusan pasien.

”Bercocok tanam sekadar hobi. Panggilan jiwa saya sebagai dokter tetap yang utama. Harapan saya, penghasilan dari durian bisa membantu mewujudkan impian saya membangun rumah sakit,” katanya.

Apakah tak berminat mengambil spesialisasi? ”Umur saya sudah tua untuk mengambil spesialisasi (bidang kedokteran). Biarlah saya tetap menjadi dokter umum, spesialisasinya, ya… durian saja,” ujarnya tertawa.

17 responses to “Wayan, “Dokter Durian” dari Parigi Moutong

  1. Saya sangat tertarik dan angin mencoba bertanamdurian di kampung saya di daerah ciamis jawa barat,langkah apa yang harus saya lalukan, lahan tersedia sekita 4 HA,terimakasih

  2. Mustafa Arakundo

    Kami sangat tertarik untuk bertani apalagi durian yang sangat khas baunga dan sangant nikmat rasanya Pak Wayan mohon diberikan pengalaman yang sudah baoak uji coba berikut berapa lama dapat berbuah, teknik teknik penanaman, kalkulasi biaya serta resiko yang harus kita hindari.
    Terima kasih atas bantuanya

    Salam
    Mustafa

  3. Durian . . . ? Hummmmm sedappppp deh. Selamat utk tekat “gila” pak dokter, setidak-tidaknya itu ungkapan perasaan orang yang pesimis atau bisa juga karena iri. Pak dokter, jalan terus, abdikan ide, bakat, hobby, kegemaran atau apapun namanya utk kemajuan rakyat dan negara kita. Bukankah hal-hal yang dimulai dengan kecil dan dimulai dari “pelosok” jauh lebih mengenai ketimbang dari kota ke desa? Apa pak dokter tdk berkeberatan memberikan nomor tlp atau hp yang saya bisa hubungi. Maju terus pak dokter. Sukses selalu.

  4. dimana bisa beli bibit duryan

    agus palangka raya

  5. saya mau nanya nich, mertua saya juga punya kebun durian monthong, biasanya berbuah sekali setahun dan panen di bulan maret, yang ingin saya tanyakan, bagaimana kiatnya membuat durian bisa berbuah 2 kali dalm setahun?? mohon dibantu. thanks sebelumnya.

  6. oh iya, kalo ada info bisa email ke nailah.kamilah@yahoo.com

  7. Saya sangat menyenangi artikel diatas, media tanah yang bagaimana yang cocok untuk bertanam duren? daerah mana dijawabarat yang cocok untuk bertani duren?

  8. saya tertarik dengan keberhasilan bapak bertanam durian, saya jg kepingin belajar meskipun lahan saya di malang jawa timur hanya 700 m2 aja, bagaimana pak cara seringnya mohon bimbingannya , terima kasih djoko pitono di malang

  9. wwwwwwwwwwwo jdi kepingin buah duren krna kumenyukai buah satu ini

  10. klu bisa jgn gmbarnya donk klu bisa buahnya lngsung di kirim yooooooooooo

  11. salam..
    saat ini saya menjual CD cara budidaya durian montong yang benar, hanya dengan harga 50 ribu.
    CD bukan berisi ebook PDF atau paparan data melainkan video interaktif/audio visual bagaimana prakteknya
    langsung di lapangan. dan ada juga buku panduannya setebal 255 halaman (berwarna + bergambar) harga 60 ribu.
    jika berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.

    terima kasih

  12. pa, saya awam sekali masalah penanaman durian , kebetulan saya coba tanam 2 bibit kira2 seumuran/tinggi 1 meteran, setelah 6 bulan penanaman tidak ada perubahan yg tampak malahan calon daun/rantingnya ada yg kering dan daun tampak kurang fres, bagaimana pak kira2 langkah saya selanjutnya plus pemupukannya, keinginan saya kalau seumpama berhasil/jadi saya akan tambah bibitnya, trima kasih

  13. Jantje Charles Rumambi

    Dokter Wayan,terima kasih atas pengalaman yag dituliskan ini. Saya bukan saja tertarik, tapi saya bersama rombongan baru saja 2 atau tiga hari yang lalu menyempatkan diri berada dilokasi bapak sambil menikmati durian pemberian bapak dokter bahkan ada juga yang kami bawah/beli untuk dinikmati keluarga yag lain yang tidak smepat bersama kami di wilayah Parigi. Memang enak sedap dan tidak kalah dengan yang dari Thailand. Rasanya juga ok punya! Beberapa tahun lalu saya ke Chiang Mai, Thailand dan makan buah durian memang enak tapi duriannya pak dokter Wayan tidak kalah enak, begitu juga wkatu saya di America, beli danmakan durian dari Bangkok tapi tidak kalah dengan duriannya pak Wayan, Pada waktuperkunjungan di Parigi, saya salah satu yang membeli bibit yang telah di buat oleh dr Wayan walaupun hanya 8 pohon saja mengingat tempat mobil kami kecil karena penuh denan barang-barang bawaan lainnya, tapi saya mau coba dan ingin menolong juga orang lain. Tolong dipandu apabila saya membutuhkan petunjuk untuk mengusahakan percobaan saya ini, Terima kasih maju terua pak Dokter Wayan, TUHAN menyertai bapak untuk keberkatan orang lain juga,.

    Salam,
    Pdt. Jantje Ch. Rumambi

  14. halo dokter durian, he..he maaf ni mau tanya pak dokter. gini beberapa bulan lalu persisnya 6 bulan lalu saya mencoba menanam durian montong , ya tanam begitu saja . dalam pertumbuhannya sepertinya ada bintik putih yang menempel di daun durian dan terkadang banyak . bintik putih tadi jika dibiarkan akan membuat daun durian akan mengering. kira – kira obat apa ya dok yang cock biar durian tumbuh dengan subur. trims dok.

  15. masih sedikit orang di sulteng yang tahu tentang dokter durian….

  16. Pingback: Parigi - Pakaian Murah Ada Dimana Mana

  17. karena keberhasilan pak dokter ini sekarang tolai kalo musim durian jadi gudang durian karena banyak yang ikut jejak nya di tolai.dann rumah sakit nya juga banyak pengunjung tak di undang terutama anak anak yang sakit karena makan durian,,,,:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s