Petani Membuang Gula ke Jalan sebagai Protes

Sumber Kompas | Senin, 1 September 2008 | 00:39 WIB

Pemerintah Diminta Menindak Penyeleweng Gula

MADIUN, KOMPAS – Sekitar 50 petani tebu di wilayah PTPN XI membuang gula ke jalan di samping Pabrik Gula Pagotan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Sabtu (30/8). Aksi ini sebagai salah satu bentuk protes atas maraknya gula impor dan rafinasi di pasaran yang mengakibatkan gula produksi petani tidak laku.

Sebelum membuang gula ke jalan dan menginjak-injaknya, petani menunjukkan gula hasil panen yang menumpuk di empat gudang di PG Pagotan.

Gula ini tidak bisa terjual karena di pasaran banyak gula impor dan gula rafinasi yang seharusnya hanya dipakai untuk industri makanan dan minuman.

Menurut Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PG Pagotan Sudira, ada 180.000 ton gula di empat gudang itu. Gula yang menumpuk tidak hanya gula hasil giling tahun ini, tetapi ada pula gula hasil giling tahun lalu.

Wakil Ketua APTRI di wilayah PTPN XI Edi Sukamto menambahkan, sekitar 70 persen dari gula hasil giling 37 pabrik gula di wilayah Jatim dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan di luar Pulau Jawa, sedangkan sisanya untuk kebutuhan di Pulau Jawa.

”Sementara di luar Pulau Jawa dan juga di Jawa, gula impor dan rafinasi banyak beredar di pasaran. Hal inilah yang membuat gula di PG Pagotan dan 36 pabrik gula lainnya di Jatim tidak bisa terserap di pasaran,” ujarnya.

Berdasarkan data yang diperolehnya, di pasaran kini terdapat 1,9 juta ton gula rafinasi yang diimpor pabrik gula rafinasi dan 685.000 ton gula rafinasi yang diimpor oleh industri makanan dan minuman.

Adapun produksi petani 2,9 juta ton plus sisa tahun 2007 sebanyak 1,3 juta ton. Adapun kebutuhan nasional 4,1 juta ton.

Kondisi ini diperparah dengan ulah investor yang ditunjuk PTPN, tetapi tidak mau menalangi pembelian gula hasil giling petani.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perdagangan soal Dana Talangan, investor yang ditunjuk PTPN diharuskan menalangi pembelian gula hasil giling petani dengan harga Rp 5.000 per kilogram, sementara harga gula di pasaran saat ini Rp 4.900 per kg.

Dengan harga gula sebesar itu, investor rugi Rp 1,3 miliar setiap satu periode atau dalam waktu satu minggu. Turunnya harga ini sangat terkait dengan adanya gula rafinasi dan impor di pasaran.

”Jika pemerintah tidak menarik gula rafinasi dan gula impor dari pasaran, kami sendiri yang akan melakukan sweeping dan membakar gula itu,” ujar Edi.

Lelang gula gagal
Sementara itu, gudang di delapan pabrik gula PT PTPN IX Jawa Tengah mulai penuh karena kegagalan lelang gula yang disebabkan harga penawaran terlalu rendah.

PTPN IX mendesak pemerintah segera menegakkan aturan impor gula rafinasi. Direktur Pemasaran dan Perencanaan Pengembangan PTPN IX Dwi Santosa berharap pemerintah segera menindak penyeleweng gula rafinasi karena dikhawatirkan akan mengancam produksi gula lokal.

Kepala Urusan Tanaman, Divisi Tanaman Semusim PTPN IX Suhardi menyebutkan, stok gula di gudang PTPN IX sudah mencapai 60.000 ton yang tersebar di delapan pabrik gula.

Jumlah ini masih ditambah 26.000 ton gula yang sudah dibayar rekanan tahun lalu, tetapi sampai sekarang belum diambil karena harga gula jatuh.

Pada awal Agustus 2008, PTPN IX juga sempat mengundang 37 rekanan untuk ikut lelang 2.000 ton gula, tetapi hanya 11 rekanan yang hadir.

”Sejak mulai giling bulan Mei, baru 200 ton gula yang dilelang. Sekarang bahkan ada gula yang ditaruh di aula pertemuan karena gudang sudah terlalu penuh,” kata Suhardi.

Dwi Santosa khawatir, penurunan harga gula dan lambannya penyerapan produksi gula lokal akan menurunkan produksi pada masa tanam berikutnya.

Dia pesimistis target luasan tanam tebu tahun 2009 seluas 38.000 hektar bisa terealisasi. Apalagi 90 persen lahan tebu milik rakyat.

”Kalau mau swasembada gula, pemerintah seharusnya konsekuen. Gula rafinasi yang hanya boleh untuk industri makanan dan minuman jangan sampai masuk ke pasar juga,” katanya. (APA/GAL)

2 responses to “Petani Membuang Gula ke Jalan sebagai Protes

  1. gula rafinasi yang berharga murah itu beredar di pasaran mana saja…?? soalnya saya saat ini di pasuruan, tapi sampai sekarang saya tidak menemukan adanya gula rafinasi yang dijual di pasaran…yang ada gula curah (warnanya tidak putih), gulaku, ataupun gula yang dikemas oleh supermarket lokal….

    menurut saya, apa benar gula rafinasi memang beredar luas di kalangan masyarakat????

    mana buktinya..?

  2. permasalahan mengenai masuknya gula rafinasi ke tingkat pengecer kalaupun itu benar seharusnya tidak membuat para pemilik pabrik gula resah. seharusnya pihak pabrik gula maupun pemerintah lebih mawas diri dan berpikir keras kenapa gula kita sampai kalah bersaing dengan gula impor??? mungkin hasil gula yang kurang bagus???ato tidak mengerti keinginan konsumen gula??? maka harusnya pabrik gula dan pemerintah menggandeng institusi berpengalaman seperti P3GI untuk mencari masalah dan solusinya.jangan hanya melampiaskan kecewaan dengan menbuang gula di jalan…yang lebih lagi merugikan dan mencoreng industri gula.majulah industri gula nasional!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s